kesalehan orang miskin

Suara beduk maghrib sudah lama tidak terdengar. Saya lihat satpam kantor di mana masjid tempat saya ikut solat berada, berjalan agak cepat di depan saya seperti mengejar sesuatu. 

Setelah menyeberangi jalan utama yang cukup lebar di kota Bandung dan sekitar seratus meter dari mesjid, saya melihat satpam itu dengan wajah lelah yang kentara terlihat kemudian mendekati seorang nenek tua yang berjalan pelan dan dia kemudian menyerahkan bungkusan yang dibawanya. Bungkusan tersebut ternyata berisi kolak dan penganan tajil. Alhamdulillah ya Allah, ternyata Pak Satpam berhati mulia. Limpahilah rizki yang berkah untuk Pak Satpam itu.

Setelah sempat berpapasan dengan Pak Satpam, saya akhirnya bisa melihat dengan dekat nenek tua itu. Tubuhnya bongkok sekali, membentuk sudut sempurna 90 derajat, seperti Wa Cicih, uwak-ku. Jalannya begitu pelan, setapak demi setapak, persis Wa Momo, uwaku yang lainnya. Begitu pelan sehingga ditaksir jarak seratus meter ditempuh dalam satu jam (artinya kecepatannya hanya 100m/jam). Wajahnya tua sekali, keriput. Namun saya duga usianya tidak setua wajahnya. Tua karena miskin dan menderita.

Baju yang dipakainya kumal. Juga kain yang dikenakannya pun kumal. Debu sepertinya sudah begitu akrab dengan tubuhnya, sementara air mungkin dianggap barang berharga. Namun saya tidak mencium bau tidak enak dari badannya.

Dia bukanlah pengemis. Tangannya tidak menengadah atau otomatis menengadah seperti dilakukan orang yang berprofesi opengemis. Ketika saya memberikan sedikit sedekah pun, saya harus menyelipkannya ke telapak tangannya yang keriput. Saya yakin dia bukanlah pengemis. Dia hanya orang miskin.

Setelah dia sadar bahwa saya menyelipkan sedikit uang, dia terima tanpa melihat wajahku mungkin karena saking bungkuk badannya. Bukannya sebuah kata indah semisal ‘Nuhun’ atau ‘Terima kasih’ yang dia ucapkan, namun sebuah pujian agung yang diucapkan sambil terpatah-patah: ‘Alhamdulillah, Gusti…’ Baru kemudian disusul ‘Nuhun…’.

Ya Allah. Tidak dibutuhkan seorang ustadz untuk menilai ucapan itu dilafalkan oleh orang yang terbiasa mengucapkan kalimat Allah. Dan tidak diperlukan seorang psikolog untuk menafsirkan jika kalimat itu diucapkan dengan tulus. Hanya dibutuhkan seorang manusia yang masih mempunyai rasa kemanusiaan yang bisa menilai ucapan itu tulus dari orang yang berserah diri.

Kemudian saya tanya nenek itu:
‘Ene, parantos tuang?’ (Nenek, sudah makan)
‘Teu acan’ (Belum)

Kebetulan percakapan saat itu terjadi di depan sebuah warung kecil-kecilan yang kosong – bukan sebuah restoran.

Sewaktu saya akan tuntun tangannya saya tanya lagi:
‘Tuang heula atuh, eta aya warung’ (makan dulu ya, ini ada warung)
‘Ah, henteu’ (ah, tidak)
‘Kunaon?’ (Kenapa?)
‘Ah, isin’ (ah, malu)

Masya Allah. Seorang nenek renta, kentara menderita ternyata masih mempunyai rasa malu. Mungkin rasa malu itu muncul karena penampilannya yang kotor dan dekill. Mungkin rasa malu juga muncul karena dia pikir warung itu bukan untuk kelas dirinya. Sepertinya dia tahu diri dan tahu menempatkan diri.

Duhai manusia-manusia terhormat, pejabat atau anggota dewan, eksekutif atau karyawan, pemerintah atau rakyat, aku dan kau, kita. Sudahkah kita miliki rasa malu itu jika perbuatanmu kotor dan dekil. Sudahkah kita tahu diri dan tahu menempatkan diri seperti halnya nenek tua itu.

Saya kemudian melanjutkan:
‘Teu nanaon atuh. Pan teu acan tuang’ (gak apa-apa lah. Nenek kan belum makan)

Dan jawabannya membuatku terhenyak:
‘Teu sawios-wios, bade netepan heula’ (tidak apa-apa, terimakasih, saya mau solat dulu).

Ya Rabbi. Gusti. Seorang tua renta, kotor dan dekil, menderita, ternyata masih punya rasa malu dan masih ingat untuk SOLAT. Saya bukan ustadsz dan saya bukan psikolog. Namun saya tahu bahwa ucapan itu benar adanya.

Seorang yang di mata orang lain terlihat kotor, ternyata menyimpan hati dan pikiran yang bersih. Bukankah rasa malu timbul dari hati yang bersih? Bukankah ingat solat timbul dari pikiran yang bersih? Secara lahir di pandangan manusia, tidak mungkin seorang tua kotor dan dekil bisa solat. Tapi Allah Maha Adil, dan Dia lah yang paling tahu diterima tidaknya solatnya.

Wahai manusia-manusia terhormat. Pejabat-pejabat yang sibuk rapat. Anggota dewan yang justru sibuk mangkir rapat. Eksekutif yang kerjaannya memang diatur hanya untuk rapat. Dan karyawan yang justru dibuat sibuk akibat keputusan rapat. Rapat, diskusi, kumpul, kerja, kuliah atau buka bersama. Mana bekas sujud kalian? Mana pikiran bersihmu sebagai manusia yang sejatinya tunduk, bersimpuh, berserah diri di hadapanNya – persis seperti nenek tua itu. Astagfirullah, ampunilah kami Ya Rabbi.

Saya tidak dalam posisi boleh memaksa seseorang yang tidak mau karena malu, maka saya tinggalkan nenek itu, dan kembali bergabung dengan rekan-rekan yang lain.

Lalu saat itu saya lihat banyak makanan tersedia di pertemuan itu. Dengan sepengetahuan pribumi, saya sisihkan beberapa makanan, kue-kue penganan dan air minum. Kemudian aku minta ijin meninggalkan pertemuan dan kembali bertemu dengan nenek itu.

Di atas selembar alas yang tidak jelas terbuat dari apa, di bawah sebuah pohon rindang pinggir jalan, di depan sebuah showroom mobil yang sudah tutup, di kejauhan saya melihat nenek itu baru bangun dari sujud.

Dan sewaktu saya dekati, kembali dia tidak menatap mataku. Saya berikan sebungkus nasi pepes ayam buatan temanku yang lezat, beberapa buah kue manis penganan dan sebuah air minum gelas. Dia kembali mengucap puji syukur, yang diiringi ucapan terima kasih dan doa. Doa yang susah saya dengar, karena samar-samar.

Kata terakhir itu saya dengarkan sambil tertegun menatap sebuah penganan yang saya berikan di atas piring kertas. Sebuah risoles dengan cabe rawit. Penganan yang sepertinya tidak tepat buat dia. Bukan masalah risolesnya. Saya tertegun melihat cabe rawitnya.

Tidaklah bermoral saya sajikan sesuatu yang pedas kepada dia. Hidupnya sendiri penuh dengan hal-hal yang pedas dan perih. Perjalanannya juga tertatih-tatih. Pedas dan perih karena terabaikan. Terabaikan di masa tua. Terabaikan dari dan oleh saudara. Terabaikan dari dan oleh anak dan tetangga. Terabaikan oleh pemerintah, yang seharusnya mengayomi orang miskin dan anak terlantar – seperti tercantum dalam UUD empat lima.

Saya biarkan nenek tua menikmati hidangan yang mungkin tidak seberapa baginya. Karena mungkin baginya lezatnya hidup telah dia nikmati sepanjang hidupnya berupa manisnya rasa malu dan lezatnya pasrah diri ke Yang Maha Tinggi.

Tinggallah saya yang terpana.

Cag, 16 September 2009

Kawanku. Cobalah tinggalkan sekali-kali kenyamananmu. Parkirkan kendaraanmu. Tundalah pergi ke restoran langgananmu. Pakailah kereta, angkot dan berjalan kaki. Makanlah di warteg atau warung bawah pohon bahkan rumah makan pinggir kali. Lihatlah sekeliling. Pandanglah ke kiri, ke kanan, ke depan dan ke belakang. Tengoklah menengadah ke atas, tapi juga tunduklah ke bawah. Bertemulah dengan saudaramu, yang kaya dan miskin. Dan jadilah seperti khalifah Umar yang bertemu rakyat kecil dan melihat penderitaannya. Kamu akan dapati jiwamu akan lebih terasah, perasaanmu akan jauh dari gundah dan rejekimu berkah. Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s