Dalam gelap – jilid satu

Suatu malam semua lampu di komplekku padam. Aliran listrik PLN terputus. Jam menunjukkan lebih dari pukul sembilan. Thus, semua orang sudah berada di dalam peraduan. Termasuk saya. 

Di tengah gelap yang sangat, secara reflek kami berusaha mencari cahaya, meskipun setitik saja. Kami buka tirai jendela, tapi semua sama. Juga gelap yang terlihat di luar sana karena langit tanpa bulan purnama sama sekali. Dalam gelap itulah, sebagai kepala keluarga, saya harus menjadi orang pertama yang mencari cahaya. Namun apa daya, meski telah beradaptasi beberapa saat dalam gelap pun, saya tetap tidak bisa melihat. Mataku tidak berfungsi, tidak seperti mata kucing yang berfungsi baik kala gelap. Meringis. Saya ternyata tidak bisa menggunakan indera penglihatanku untuk melihat. Tragis. Saya harus mengandalkan indera peraba untuk melihat.

Dengan meraba-raba benda yang ada di sekeliling, tembok, kursi, meja dan lain-lain, saya berusaha berjalan ke arah dapur untuk mencari korek api dan lilin. Perjalanan tidak lebih dari 15 meter itu ditempuh dengan catatan waktu yang sangat jauh berbeda jika dilakukan pada saat terang. Dalam perjalanan seperti itu, berkali-kali saya mengaduh ketika tulang kering kakiku terantuk pinggir meja, kursi atau barang lain yang memang berada pada tempatnya, dan pasti teringat posisinya di kepala saat terang tapi ajaibnya tidak teringat sama sekali tata letaknya di benakku saat gelap.

Semuanya tambah lengkap dengan sindrom gelapku. Dalam gelap tanpa setitik terang, serangan sesak napas kadang menghampiriku sampai terang datang. Dengan terang setitik saja, cukup setitik, sudah cukup menenangkanku dan membuatku bernafas normal.

Sejatinya kita akrab dengan gelap. Pada saat malam, mata kita terpejam dan gelaplah alam ini. Bahkan kadang kita membutuhkan gelap penuh tatkala bayang-bayang terang masih mengganggu tidurmu. Dan guling pun bahkan diletakkan menutup matamu demi gelap.

Namun apa yang terjadi jika kamu terbangun malam hari kegerahan akibat pengatur suhu udaramu mati karena listrik mati, dan tentunya terang pun mati. Kamu terbangun dari gelap dan kemudian tersadar sedang berada dalam gelap total. Panik. Bingung. Buta kah mataku ini? Di dalam kubur kah aku ini? Masih hidupkah aku ini?

Dalam sepenggal saat itu, matamu tidak ubahnya seperti tak ada. Netra mu tuna. Kau menjadi tuna netra sampai kau tersadar setelah melihat seberkas cahaya. Dan seperti itulah yang terjadi pada hamba-hamba Allah – para tuna netra, yang sepanjang hayat menunggu bangun dan datangnya berkas cahaya itu, cahaya kasih Khaliknya, baik cahaya dunia ataupun akhirat.

Adakah kejadian seperti itu melecutku untuk lebih bersyukur atas nikmat penglihatan yang diberikan Allah?

Ternyata Allah akan terus menerus menegurku, mengingatkanku dan memberi pelajaran padaku agar aku – hambaNya lebih banyak bersyukur terhadap keadaanku dan belajar dari hikmat yang diberikan ummatNya yang tuna netra.

Alhamdulillah saya mendapatkan beberapa hikmat pelajaran. Salah satu hikmatnya aku temui di dekat stasiun kereta Sudimara beberapa minggu lalu. Sepasang suami istri – yang keduanya buta – berjalan beriringan di pinggir jalan cukup ramai. Sang istri berjalan di belakang suaminya. Hebatnya mereka tidak menggunakan tongkat untuk berjalan. Tentunya itu hal yang mungkin terjadi, karena mereka berdua dituntun oleh dua orang anak kecil – sekitar 7 dan 9 tahunan, anak dan darah daging mereka yang ditakdirkan Tuhannya memiliki penglihatan normal tidak seperti kedua orang tuanya.

Bayangan sekilas tersebut meluluhkan kesombongan seorang bapak kebanyakan yang bangga terhadap anaknya yang suka membantu orang tuanya. Kebanggaan yang logis dan natural. Namun kedua anak itu selayaknyalah harus lebih dihormati karena selain dengan ikhlas membantu orang tuanya pada usia yang sangat kecil, mereka juga menumbuhkan kebanggaan orang tuanya. Kebanggaan yang seharusnya lebih bermakna. Mereka menjadi mata untuk ibunya. Mereka menjadi mata untuk bapaknya.

Hikmat kedua muncul lebih dulu, tatkala aku berusia muda. Seorang Bapak yang buta, menjalani keseharian perjalanan jauh Mohammad Toha – Ledeng dengan bis kota. What an amazing journey. Perjalanan yang hebat karena dilakukan oleh seseorang yang berada dalam dunia gelap. Seseorang yang mengandalkan indera lainnya – indera pendengaran, penciuman dan indera raba, untuk menggantikan satu indera: mata. Itu juga perjalan yang hebat, karena dilakukan untuk dua tujuan hebat: kuliah dan mengajar. Tidak malu kah kita yang memiliki indera lengkap, tapi berhenti menimba ilmu dan enggan berbagi ilmu. Belajar dan mengajar.

Cag, 19 September 2009 11:50pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s