Ada yang hilang di Lebaran kali ini – jilid dua

Lebaran tahun ini kembali masih saja terasa ada yang hilang. Perasaan kehilangan yang sama yang terjadi berulang-ulang sejak lebih dari sepuluh tahun lalu. Kehilangan yang sudah lama dan memang merindukan. Kehilangan anggota keluarga terdekat, terutama dua bidadari keluargaku. Dialah ibuku dan kakakku. I miss you all. Love you full.

Tiap Lebaran dalam sepuluh tahun terakhir, sosok ibuku – Tjutju Suwamah selalu timbul lagi. Apalagi pada saat sungkeman, saat yang paling syahdu dalam Lebaran, saat itu. Saat kita anak-anaknya melihat suguhan indah penuh makna tatkala ibuku sebagai istri ayahku dengan sadar sungkem memohon maaf atas segala kesalahannya sebagai istri. Dan saat yang sama ayahku pun memohon maaf kepada ibuku atas segala kesalahannya sebagai suami. Suguhan penuh isak tangis ibu dan ayahku yang jujur yang mengharukan, yang juga membuat semua anak-anaknya ikutan menangis.

Tangisan ibu akan berlanjut pada saat semua anak sungkem. Harusnya kita malu saat kita mendengar ibuku meminta maaf kepada anaknya jika beliau belum menjadi ibu yang baik. Bagaimana bisa coba, beliau memohon maaf kepada anaknya, padahal saya sebagai anak tahu bahwa dia adalah ibu terbaik bagiku.

Tapi apa yang ibuku kerjakan, sangat efektif mendidikku, tanpa kentara. Pada saat yang tepat seperti Lebaran, mohon maaflah atas segala kesalahan yang pernah kita lakukan, terhadap siapapun itu. Bersih-bersih dirilah. Lakukan segalanya dengan jujur dan ikhlas.

Sosok lainnya yang hilang di Lebaran kali ini adalah sosok kakak perempuan tertuaku, Teh Leni Darlina. Beliau meninggal persis sehari sebelum Ramadhan tahun lalu, karena kanker. Beliau seorang kakak yang memberikan perhatian besar terhadap adiknya. Badannya yang cenderung kecil menjadi bukti bahwa dia bekerja keras membantu ibuku dalam membesarkan adik-adiknya, terutama saya sebagai anak terkecil, anak ke delapan dari delapan bersaudara.

Ibuku bercerita bahwa Teteh badannya tidak tumbuh tinggi karena sejak kecil suka membantu ibuku, dan sering menggendongku atau kakakku yang lainnya, sementara ibuku sibuk bekerja di dapur, mencuci dan memasak, sambil menggendong anak lainnya.

Sosok Teteh adalah sosok yang begitu tegar, dan menghadapi semua masalah dengan berani tanpa mengeluh. Dia tidak mau memperlihatkan kerapuhan jiwanya karena masalahnya sendiri. Cukuplah dia memperhatikan masalah adik-adiknya.

Pada saat Lebaran, dia adalah kakakku yang paling banyak bercucuran air mata. Air mata kasih sayang. Dia rasanya tiruan ibuku, seorang wanita unggul yang aku banggakan dan aku merasakan kehilangan. Apalagi saya tidak sempat mengantarkannya dan menguburkannya.

Lebaran kali ini makin memperkuat keyakinanku atas tidak berdayanya manusia di hadapan Khaliknya. Seseorang bertalian darah, tetap sejatinya milikNya. Dan sebagai Pemiliknya, apapun bisa Dia lakukan, di manapun dan kapan pun. Bak pepatah: Anakmu bukanlah anakmu, dia adalah titipan.

Berapa banyak saudara kita yang sekarang sedang dalam kesedihan mendalam, setelah menyadari bahwa Lebaran kali ini adalah Hari Raya pertama tanpa kehadiran seorang terkasih, atau dengan kehadiran terkasih dengan keadaan yang berbeda.

Lihatlah orang-orang sekitarku di Bandung ini sebagai contohnya. Tetanggaku Ibu Ahmad kehilangan empat anaknya yang sudah dewasa hanya dalam waktu enam bulan pada tahun ini akibat penyakit gula. Mamih Fikri mengikuti Lebaran dengan bercucur air mata tanpa daya setelah terserang stroke, yang membuat beliau tidak bisa berjalan, berbicara dan hanya berbaring. Kang Entang, mantan pemain voli hebat berbadan tegap, sekarang kurus kering, dengan air liur mengalir tanpa kontrol, dudukpun harus dibantu istrinya. Guru kita Pak Mamad Hari juga meninggalkan kita karena kecelakaan, sementara Pak Kurnia setelah sembuh dari perawatan stroke-nya, sembuh menurut manusia, dipanggil juga ke hadiratNya.

Cukuplah itu sebagai bukti apa yang sering dikemukakan penceramah menjelang Ramadhan. Mudah-mudahan kita bisa dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan, karena banyak saudara kita yang masih ada tahun lalu, sekarang sudah menghadapNya. Karena banyak saudara kita yang kuat tahun lalu, sekarang menjadi lemah. Karena banyak saudara kita yang berkuasa tahun lalu, sekarang menjadi tanpa daya.

Jangan tunda menyayangi saudara kita. Sayangilah mereka sekarang juga. Namun sayangilah mereka sewajarnya, karena cepat atau lambat kita akan kehilangan mereka, atau bahkan kita yang meninggalkan mereka.

Cag, 22 September 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s