Dalam gelap – jilid dua

Dan hari ini, aku diberi hikmat ketiga tatkala tanpa direncanakan aku melewati sebuah tempat bernama Wiyata Guna – sekolah untuk tuna netra. Sebuah tempat yang akrab denganku, balik ke akhir tahun 80an. Kala seorang manusia remaja menuju dewasa masih dipenuhi idealisme. Tatkala waktu belum mengungkung, kesibukan masih belum mendera, dan idealisme masih bisa mengatur masa. 

Entah hanya beberapa bulan saya cukup aktif datang ke wiyata guna. Bukan untuk mengajar. Bukan untuk mendidik. Hanya menjalankan hikmat pertama: berusaha menjadi mata buat rekan-rekan tuna netra. Benar-benar menjadi mata. Sebuah aktivitas yang justru melingkupi hikmat kedua, membuatku belajar dan sedikit mengajar. Aktivitas itu adalah menjadi pembaca – Reader.

Membaca adalah sebuah kegiatan yang teramat gampang, namun tidak demikian bagi mereka penyandang tuna netra. Dengan mengandalkan rabaan pada buku berhuruf braile, kuantitas kalimat yang bisa ‘dibaca’ mereka jauh lebih sedikit dengan apa yang dibaca orang ‘melek’. Itu akhirnya akan berujung kepada sedikitnya pengetahuan yang mereka dapatkan dari membaca. Seorang ‘pembaca’ akan menjembatani kekurangan seperti ini, sehingga setidaknya pengetahuan yang mereka dapatkan – dengan mendengar – hampir setara dengan pengetahuan yang ‘pembaca’ dapatkan.

Dengan adanya ‘pembaca’, seorang rekan tuna netra bisa mengolah pengetahuan dengan mendengarkan, dan dapat merangkum inti sari yang ‘dibaca’nya sesuai dengan kalimat singkat yang dia buat dan dia mengerti. Itu jauh lebih memudahkan dia.

Saya lupa siapa yang mengajakku ke Wiyata Guna untuk menjadi ‘pembaca’. Saya angkat topi dan berterima kasih atas upayanya mengenalkan suatu kegiatan yang ringan dan bermanfaat. Dengan kegiatan itu, saya lebih memahami bagaimana kehidupan seorang buta yang sulit, mendengarkan cerita-cerita mereka yang mengharukan dan bangga dengan tekad, pride dan usaha mereka yang tidak mau terus dibedakan dan dikecilkan serta dikucilkan.

Saat itu saya hanya menjadi ‘pembaca’ untuk satu orang saja. Terus terang saya lupa namanya. Dia saat itu ia berada di tingkatan awal SMA. Dia memperlihatkan rasa senangnya dengan kedatangan saya, dan menjadi kawan yang cukup akrab. Saya hanya terbatas datang satu kali seminggu, dan satu jam setiap kali bertemu. Satu kesempatan yang begitu sedikit untuk ikut membantu dia, persis seperti yang dia kemukakan.

Namun satu jam itu begitu bermanfaat bagi dia, dan sejatinya membawa manfaat bagiku juga. Bukankah ini juga sebuah cara bagiku belajar berempati dan bersosialisasi? Menumbuhkan rasa empati tidaklah harus dilakukan secara formal, tetapi sangat tepat didapatkan dari sebuah sosialisasi. Empati tentunya akan mengasah kelembutan jiwa dan kepekaan diri atas kejadian yang menimpa orang lain.

Saya rasakan sesuatu yang lain di hati tatkala saya berkomunikasi dengan rekanku itu. Seseorang yang tidak kita kenal, hidup dengan keterbatasan, bercerita mengenai kehidupan dengan keterbatasannya itu. Dari sisi yang lain, dengan senang hati saya bercerita mengenai aktivitasku.

Dia juga mengemukakan sebuah langkah lain dalam membantu tuna netra, selain sebagai ‘pembaca” langsung. Yaitu dengan membaca di rumah, dan merekamnya dalam kaset yang sudah tidak terpakai. Dengan demikian setidaknya kaset bolak-balik sepanjang 60 menit sudah bisa merangkum satu buku Pendidikan Warga Negara yang tidak terlalu tebal. Dengan merekam seperti ini, apa yang dibaca bisa didengar lebih dari satu orang – berjamaah.

Pada saat itu saya melihat ada beberapa orang relawan lain juga yang melakukan kegiatan yang sama. Sebagian bahkan sudah menjadi pembaca dalam rentang waktu cukup lama. Sayangnya, atau mungkin karena ketidaktahuanku, rasanya kegiatan relawan itu belum terorganisasi. Dan kalau ternyata sudah ada organisasinya, alangkah baiknya jika kita mendukungnya, dan ikut menjadi relawan juga.

Buatlah kejadian itu sebagai hikmat ketiga. Untuk seseorang ‘dalam gelap’, mari kita bahu membahu memberikan suatu hasil aktivitas ringan yang bisa dilakukan kita dan keluarga – menjadi ‘reader’. Mari kita coba ajak anak kita berkunjung ke Wiyata Guna, dan petiklah hikmah apapun yang bisa kau dapat. Jadilah ‘pembaca’ bagi mereka, sesuai dengan pelajaran yang anak kita sedang baca. Sehingga mereka merasakan idiom Bu Kartini: ‘Habis gelap terbitlah terang’.

Cag, 22 September 2009

Jadi kepikiran untuk menggalang dukungan terhadap Wiyata Guna dalam bentuk nyata, seperti membuat Perkumpulan Pembaca di facebook.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s