Ada yang hilang di Lebaran kali ini – jilid tiga

Lebaran tahun ini kembali masih saja terasa ada yang hilang. Sesuatu yang sudah hilang bertahun-tahun, dan sudah tidak mungkin dilakukan lagi, karena kehilangan ini menyangkut romantisme masa kecil.

Dimulai pada saat Ramadhan, saat saya, kakak-kakak dan ibu bapak berlomba siapa yang paling sering membaca Al Qur’an. Dimulai surat Al Baqarah dan Juz pertama diambil bapakku, dan juz selanjutnya diambil oleh ibuku dan anak-anaknya. Semuanya dicatat dalam buku tulis tipis, warna sampul biru, merk Kertas Letjes. Semua orang ikut serta, baik yang sudah lancar membaca ataupun yang masih terbata-bata, yang membaca dipandu ayahku atau kadang membaca huruf latinnya. Setiap orang yang telah selesai membaca satu juz, dia boleh melanjutkan membaca juz selanjutnya dari daftar. Begitu seterusnya sampai khatam, umumnya sebelum Ramadhan usai.

Ramadhan juga masa yang penuh kenangan tatkala sebagai anak kecil, saya rajin mengikuti teraweh apalagi jika imamnya Mama Haji Kyai Mahfudz Siddik. Mama Haji yang terkenal dengan sebutan Kyai MS (kependekan dari Medal Sekarwangi: bis tercepat saat itu) adalah imam favorit anak-anak karena mengimami teraweh dengan cepat. Bisa terbayang cepatnya jika membaca Al Fatihah dalam satu nafas, dan tiap rakaat kedua membaca satu saja ayat Al Baqarah, Alif Lam Mim, sebelum takbir. Dari dua puluh tiga rakaat teraweh, saat itu belum banyak yang mengikuti sebelas rakaat, bisa diselesaikan sebelum filem Oshin diputar.

Pertengahan bulan Ramadhan biasanya dimulailah program bersih-bersih rumah. Semua anak yang masih bujangan ikut serta. Yang perempuan menyapu, menurunkan semua gorden dan vitrase dan mencucinya, menyiapkan seprei dll. Yang laki-laki membersihkan talang air dari daun-daun pohon belimbing, mengecat rumah memakai kapur putih, dengan kuas dari merang – padi kering, atau membersihkan lantai dalam rumah. Kegiatan terakhirlah yang sering saya dan A Hendi lakukan, membersihkan lantai dengan cara menyikatnya sesenti demi sesenti. Yah, meski tetap dalam keadaan puasa dan dalam keadaan capek, saya tetap melaksanakan tugas itu karena melihat kakak-kakak yang lain pun melakukan hal yang sama.

Di pertengahan bulan jugalah ibuku memulai ritual tahunannya, membuat kue, terutama kue-kue kering yang tahan lama. Loyang sudah mulai bertebaran di ruang belakang. Nenas siap diserut – diparud. Nastar, lidah kucing juga kue emplu. Yang lain dari yang lain adalah kiripik tahu khas Teh Leni. Tahu dipotong tipis-tipis, kemudian ditaro di ayakan yang dibalik, kemudian dijemur. Kiripik tahu menjadi jagoan keluargaku, karena lain dari yang lain.

Selain kue kering, beberapa hari menjelang takbiran Teh Leni sengaja membuat kue bolu cukup banyak, setidaknya sebanyak tujuh orang adik kakak yang ada (minus A Tedi yang meninggal waktu kecil). Tiap orang mendapatkan satu loyang, sengaja dibuat untuk para besan bapakku, mertua dari anak-anak ibuku.

Menjelang takbiran adalah saat-saat yang paling ditunggu-tunggu. Saat itu saya sebagai anak kecil membawa seekor ayam jago gendut dan berat dari keramik, sebuah celengan. Dengan bahagia campur sedih saya pecahkan celengan yang diisi pecahan uang receh sisa uang jajan setahun penuh. Saat memcahkan dan melihat tumpukan uang recehlah yang membuat seru. Uang dihitung satu persatu, ditumpukkan dan dikelompokkan sesuai nominal uang. Sebagian disisihkan untuk membeli celengan baru, dengan bentuk yang lain.

Ternyata orang tua jaman dulu lebih arif. Anak-anak dibiasakan menabung, dan memetik hasil di malam takbiran. Tidak ada istilah angpaw. Ini artinya anak-anak tidak dibiasakan menengadahkan tangannya, tetapi justru berusaha dan memetik hasil yang ditanam selama ini. Memang ada juga sih pemberian uang dari bapak, tapi nominalnya tergantung cacap (istilah anak kecil: selesai) tidaknya seorang anak dalam berpuasa. Mungkin dari satu sisi tidak bagus karena melakukan suatu ibadah karena ada imbalan, tapi rasanya tindakan itu cukup bagus untuk merangsang anak-anak berpuasa.

Beberapa hari setelah Lebaran, biasanya kita pergi ke kantor pos dan menyetorkan uang hasil celengan itu ke Tabanas. Bangga sekali rasanya kalau kita sudah bisa menabung sendiri.

Yang ditunggu-tunggu seorang anak di malam takbiran lainnya adalah menyalakan kembang api atau petasan banting, peperepetan dan kembang tetes yang sebenarnya sudah dibeli beberapa hari sebelumnya. Saat yang seru, apalagi di sini sebenarnya kita bisa sedikit menyombongkan keberanian kita sebagai anak kecil karena tidak semua anak kecil berani memegang tangkai kembang api apalagi menyalakan mercon peperepetan. Kembang tetes juga sangat menarik. Ini bukanlah sebentuk kembang, tetapi lembaran kertas warna perak yang jika dibakar mengeluarkan cahaya terang sekali yang jika cahayanya hilang, kertas yang sudah cair itu kemudian menetes. Bagus banget.

Hal lain yang saya tunggu pada malam takbiran adalah saat bapakku membuka parcel dari pabrik coklat Ceres di Dayeuhkolot. Dibagikannya coklat berbentuk persegi empat kecil, seperempat kartu nama, berbalut kertas warna kuning. Yang paling dinanti adalah coklat berbentuk uang dan coklat cukup besar jajaran genjang dibungkus kertas putih metalik.

Hari Lebaran tiba, kita bangun lebih pagi untuk bebenah dan bersiap menuju lapangan. Ibuku kemudian mengeluarkan bed cover keramatnya warna merah dan coklat, yang seperti bendera pusaka saja yang hanya dikeluarkan dan dipakai pada saat istimewa, seperti Lebaran itu.

Saat mau melaksanakan shalat Ied, saya dan A Hendi atau A Ridha biasanya suka mahiwal memisahkan diri, tidak bergabung dengan yang lainnya ke pelataran percetakan Armico. Alasannya mah satu: gak seru, terlalu dekat. Kita biasanya sengaja pergi ke Mesjid Agung Bandung, sehingga kesan shalat Ied kentara, pulang bareng shalat Ied barengan akan terasa ngabring bersama umat Islam lainnya.

Setelah itu, barulah kita sungkeman internal keluarga. Yang cukup seru adalah sewaktu kita jalan bareng sekeluarga menuju rumah Ene, nenekku di Gang Pak Uca, dan bertemu saudara-saudara lainnya. Semuanya memakai baju baru dan sepatu baru yang dibelikan bapak ibuku, seragam. Jaman itu, sebagai anak kecil kita tidak punya kesempatan memilih corak, model dan warna. Semua ditentukan beliau, disesuaikan dengan budget. Tidak ada istilah penolakan, baik anak-anak suka akan modelnya atau tidak, termasuk sepatu model pantofel warna putih yang saya gak sukai.

Pakaian yang seragam sering juga ibuku bikin sendiri. Pakaian itu juga yang saya dan kakak-kakakku pakai untuk berfoto di depan air mancur Alun-alun Bandung. What a beautiful memories.

Suasana Lebaran juga diisi dengan perjalanan nyekar ke makan Haji Ali, kakek dari bapakku, di Garut, memakai jeep Hardtop pinjaman kantor bapakku. Pengalaman macet di Nagrek sudah terjadi pada saat tahun 70an. Di tanjakan itu, bau kopling sangat tercium, kakakku siap-siap turun mengganjal mobil, sementara aku yang masih kecil duduk di jojodog di mobil nmenangis, berpikir kalau macet seperti ini artinya kita tidak bisa pulang ke rumah.

Penghabisan liburan Lebaran biasanya diisi dengan pergi ke Kebon Binatang, ngampar samak – menggelar tikar, dan botram makan masakan yang disiapkan ibu dan kakakku. Menu special Lebaran adalah abon sapi atau kornet, telur dadar. Anak-anak saat itu mendapatkan permen istimewa, permen asem atau permen vitamin C yang bertaburan bedak.

Jika tidak ke Kebon Binatang, untuk menutup liburan kita biasanya pergi ke bioskop Dalas di Dalem Kaum, dan menonton filem lucu Dono Kasino Indro, arahan sutradara Arizal. Keun wae lah, saat itu mah filem itu teh lucu banget.

Hiburan lain yang ditunggu waktu Lebaran adalah Opera Papiko pimpinan Titiek Puspa di TVRI.

Ah, romantisme tersebut sudah tidak ada lagi. Jaman sudah berganti. Pendekatan keluarga semakin menyusut. Hiburan anak sekarang sudah semakin individual. Sebagai orang tua, kita harus lebih care dan aware utamanya terhadap akhlaq anak kita. Biarkanlah romantisme di atas sebagai nostalgia. Seraplah hal baik dari romantisme itu untuk diterapkan dan disesuaikan dengan jaman.

Cag, 23 September 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s