sedekah atau art of bargain atau meregehese

Di panas terik kala mudik itu, saya mampir di Bogor untuk sekedar menikmati es cincau dan membeli roti unyil kesukaanku. Sambil menunggu anak istri di dalam toko sepatu Donatello, saya kemudian duduk di teras toko menikmati segelas es penyiram dahaga di panas bulan September sambil memperhatikan lalu lalang manusia yang keluar masuk toko. 

Berbagai jenis manusia dengan segala tingkah lagaknya bisa saya lihat. Ternyata mengasyikan juga memperhatikan orang. Lumayan, bisa menambah wawasan, setidaknya bisa mengira-ngira karakter dan sikap seseorang dari gerak tubuh (body language) dan gerak wajah (facial expression) dan juga cara bicara, intonasi dan pilihan bahasa yang diambil.

Seperti saat itu, saya menemukan hal yang menarik. Seorang cowok muda – usia kuliahan – dengan memakai celana kanvas, tidak panjang pendek juga kagak, dengan kaca mata hitam kerennya nemplok di kepalanya, keluar dari toko dengan menenteng beberapa buah tas bungkusan sepatu di tangannya. Sepertinya dia membawakan juga sepatu-sepatu yang dibeli adiknya, atau pacarnya atau ibunya yang kemungkinan masih berada di dalam toko.

Sambil menunggu yang lainnya, dia kemudian mendekati penjual gemblong (ketan putih bertabur gula). Terjadilah suatu aktivitas ekonomi mendasar seorang manusia demi menunaikan prinsip ekonomi ‘mengeluarkan sekecil-kecilnya untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya’ berupa tawar menawar.

gemblong

Tidak perlulah saya ceritakan proses tawar menawarnya.. Yang menarik bagi saya adalah apakah sudah pada tempatnya kah pemuda tersebut melakukan tawar menawar? Apakah tawar menawar itu dilakukan hanya untuk mendapatkan keuntungan ekonomi yang tidak seberapa ataukah juga untuk pemuasan nafsu emosi? Tidakkah pada saat itu perasaan empati terhadap pelaku ekonomi kecil harusnya mulai tumbuh?

Tawar menawar bisa dibilang ciri khas orang Indonesia yang cukup dikenal di dunia. Coba suatu saat mampir ke Bugis Junction di Singapura, bukan yang mall, dan lakukanlah tawar menawar. Penjual yang orang Singapura bisa diharapkan akan bilang ‘Elu orang Indonesia pinter banget tawar menawar’ (tentunya dalam bahasa Singlish, yaitu bahas Inggris aksen Singapura yang tinggal dikasih ‘lah’ diujungnya he…). Itu yang pernah saya alami. Atau mungkin di Pasar Seng Mekah, ketika banyak ibu-ibu Indonesia yang cukup dipanggil Siti Rahmah menawar barang khas Arab. (Tapi mungkin tidak berlaku buat ibu-ibu pejabat yang berbelanja di butik-butik Paris, New York atau Milan. Tawar menawar justru haram kali, membikin gengsinya turun).

Di daerah wisata di mana saja di Indonesia, tawar menawar rasanya harus dilakukan. Kalo tidak, anda akan membayar terlalu berlebih. Bahkan di Malioboro Yogyakarta, saya bisa mendapatkan miniatur becak atau sepeda ontel dengan harga separuh yang ditawarkan. Itu harga yang didapatkan setelah saya – yang tidak ahli dalam tawar menawar – mencoba bertahan di harga separuh seperti yang disarankan banyak orang. Bagaimana jadinya jika tawar menawar dilakukan oleh orang yang lebih ahli, ibu-ibu.

Bagi ibu-ibu tertentu (ternyata tidak semua ibu-ibu suka menawar), tawar menawar adalah sebuah aktivitas keseharian di pasar atau warung. Harga seekor ayam potong ditawar, sekilo daging ditawar, setengah kilo telur ditawar, bahkan seikat kangkung atau dua buah tomat saja bisa-bisanya juga ditawar. Itulah art of bargaining, seninya tawar menawar.

Lalu kapankah kita bisa melakukan tawar menawar tanpa jatuh ke sisi terdekatnya, yaitu kikir, pelit bin medit, koret, buntut kasiran, merekedewel, merepet jahe atau meregehese?

Jawabannya mungkin dikembalikan ke pada pribadi masing-masing dan juga dengan siapa kita berinteraksi. Tinggallah pikiran, perasaan, hati, nurani, simpati dan empati yang bekerja.

Tawar menawar bagi seorang ibu yang tinggal di kampung kecil agak kumuh, dimana pendapatan suaminya tidak menentu, dan pengeluarannya ditekan sedemikian rupa, menawar sebutir tomat bisa dikategorikan hal yang lumrah dan logis. Abang sayur pun rasanya sudah paham mengenai hal itu. Tetapi bagi seorang ibu yang tinggal di komplek mapan, BSD kek, Bintaro kek, Pondok Indah kek dan lain lain regency, menawar setengah kilogram tomat mungkin tidak pada tempatnya. Abang sayur di dua lokasi berbeda pun mempunyai pertimbangan yang berbeda dalam tawar menawar, adakalanya pertimbangannya memang logis tapi kadang kita tidak ketahui, seperti biaya tak terduga karena preman.

Tawar menawar bagi pedagang cukup besar, semisal penjual kerajinan di daerah wisata, akan terasa berbeda dengan pedagang kerajinan rumahan yang hanya memproduksi beberapa buah produk karena terbatasnya biaya dan kebutuhan keuangan.

Tawar menawar untuk barang dengan jumlah besar pun sejatinya berbeda treatmentnya dengan pedagang dengan jumlah dagangan sangat sedikit. Di pasar Palasari Bandung, secara tidak sengaja istriku pernah menemukan seseorang yang dilihat dari penampilannya sepertinya berasal dari kalangan berada. Dia saat itu sedang menawar ketela pohon dari pedagang yang sudah cukup tua, yang hanya berjualan satu tanggungan saja, itupun pada saat harga ketela sedang jatuh curam. Bayangkan jika untuk seikat ketela pohon saja harus ditawar. Berapa sih keuntungan yang bapak tersebut ambil dari satu kilogram ketela? Tidak akan mencapai ribuan. Apakah hati tidak merasa tersentuh melihat kemiskinan, penderitaan dan kesulitan hidup pedagang kecil tersebut? Bagaimana persepsi orang lewat yang mendengar pedagang ketela itu berbicara setelah lelah tawar menawar ‘Ah, sekarang mah, silakan saja harga berapa sih yang ibu inginkan?’ Alih-alih bersimpati dan membantu masyarakat kecil, kehalusan perasaan tergantikan oleh kehausan memuaskan hasrat emosi – emosi keberhasilan dari tawar menawar.

Tawar menawar bagi seseorang yang berlebihan dalam harta sepertinya juga akan dirasakan tidak etis bagi seorang pedagang rumahan yang mencari keuntungan sedikit saja dari dagangannya. Hal seperti itu yang saya takutkan terjadi terhadap pedagang gemblong di depan Donatello Bogor tadi. Pemuda yang menenteng beberapa buah tas kantong berisi sepatu, baik langsung atau tidak sudah mendeklarasikan kemapanannya dengan kelebihan harta. Aktivitas tawar menawar dikhawatirkan malah mencerminkan ketidaksensitifan atau tidak menunjukan simpati kepada orang kecil. Ketidaksensitifan yang ditakutkan tergelincir kepada kikir. Mudah-mudahan itu tidak terjadi.

Bukan saya bermaksud menghakimi, karena secara sadar saya pun pernah melakukakan hal tersebut. Tapi sepertinya kini saatnya kita harus mulai lagi menghaluskan rasa, mengasah budi, mempertinggi empati kepada orang lain dengan jalan belajar ikhlas dalam bersedekah. Apalagi kita baru saja selesai digembleng satu bulan dalam pesantren Ramadhan. Bisa gak ya kita mulai belajar ikhlas bersedekah sedikit demi sedikit.

emphaty (gambar diambil dari teewie@ blogspot.com

Bukankah akan terasa indah buat seorang nenek penjual es lilin keliling, yang harus menenteng kotak es di punggung kanan dan kursi kecil – untuk beristirahat – di tangan kiri, es lilin seribu rupiah dibeli sepuluh biji meski kita sedang tidak ingin makan es. Atau anak kecil putus sekolah berusia sepuluh tahun di depan Superindo menawarkan sebungkus rempeyek kacang seharga tujuh ribu lima ratus, dan kita kasih lebihnya lima ribu. Lebih indah lagi jika kita bisa menyempatkan diri untuk berkomunikasi dan mengobrol dengan mereka.

Jauhkanlah pikiran negatif bahwa mereka mungkin sebenarnya kaya di kampungnya, atau mungkin mereka ada yang mengkoordinasikan supaya terlihat bisa lebih dikasihani, atau segudang kemungkinan lainnya. Kemungkinan adalah ‘mungkin’, bisa benar dan bisa salah. Kalau benar, itu artinya hanya memuaskan emosi sesaat bahwa tebakan kita tepat. Kalau salah kita sudah tergelincir ke kubangan negative thinking – suudzan. Biarkanlah segala hal itu adalah urusan Allah, dan tugas kita adalah beramal baik.

Apakah tidak sedap jika kita hanya ingin menunjukkan empati dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan, tetapi Allah mengganjarnya sebagai amal baik dan bahkan mendapatkan sebuah hadiah lebih indah langsung di dunia, sebuah doa. Sebuah doa, baik seucap ‘Alhamdulillah, terima kasih Pak, semoga dibalas kebaikannya’ dari abang sayur atau anak penjual rempeyek atau doa panjang dengan tangan menengadah nenek penjual es lilin yang dari doa panjang yang dibacanya terlihat bahwa dia lebih menguasai doa-doa dan terlihat lebih saleh dibanding kita yang merasa saleh.

Yuk kita bersedekah.

Cag, 26 September 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s