Minderwaardigheidkompleks

Bingung ya bacanya. Istilah yang terlalu panjang untuk satu kata, tapi khas bahasa Belanda. Singkatnya kita sebut saja ‘minder’. Artinya ya minder, tidak percaya diri, inferior dan lawan kata dari ‘Meerwaardigheidkompleks’.

Istilah yang saya dengar pertama kali dari alm Bu Halimah, guru sejarah. 

Sampai dengan beberapa tahun yang lalu, saya hidup dan beraktivitas dengan perasaan minder tersebut. Tidak perlu diceramahin pun, dengan sadar saya mengetahui jika minder itu tidak baik buat perkembangan jiwa dan profesi. Tapi tidaklah mudah menghalau rasa seperti itu bagi orang yang seperti itu.

Katanya banyaklah penyebab seseorang menjadi minder. Pengalaman masa lalu lah, trauma masa kecil lah, jadi sasaran bulying lah, dilecehkan lah, kurang kasih sayang lah, kampungan lah, whatever lah. Itu katanya loh. Silakan lah digugel, sudah banyak daftar berisi alasan kenapa orang minder, baik dari segi sosial, mental, psicological atau cuman cerita abal-abal. Betul tidaknya, tergantung pengakuan orang-orang yang berada di sekitarnya saat itu (hayo, bagi yang pernah bully dulu, mengejekku, ngaku….ngaku…. he…he…). Bagi orang yang minder mah, sekali minder apapun alasannya ya minder saja.

Bahkan meskipun alasan utama tidak bisa ikutan reuni tanggal 8 bulan 8 tahun 8 buat angkatan 88 adalah karena saya berada di luar kota, tapi alasan ikutannya ya itu tadi: minder. My apologies to all my dear friends SI88, that was me at that time – minderwardig.

Padahal ‘apa yang harus diminderin’, kata istriku dan sohib kuliah dekatku. Kurang apa lagi coba. Istri sudah punya, cantik lagi (itu kata istriku), dan cuman satu lagi (itu kataku). Anak sudah punya, pinter lagi (ini kata anakku), juga cantik kayak ibunya (kata istriku lagi). Lagian kurang ganteng apalagi coba (itu kataku …. gubrak).

Ternyata menjadi kuli atau TKI dengan tugas luar kotaku yang cukup intensif telah membuka semua mataku, mata lahirku, mata batinku serta mata sosialku. Pengalaman hidup di berbagai latar sosiak budaya mebangunanku. Aku mulai sadar arti lagunya Gloria Gaynor ‘I’m what I’m’. Ya seperti inilah aku.

Tapi saat itu ada hal lain yang lebih menyentak dan menggebrak batas sadarku. I’m NOT nothing. I HAVE something, that no one else have. Every single person has their own ‘something’.

Kesadaran baru itu sedikit demi sedikit menggerus rasa minderku. Apalagi ditambah dengan keberadaan facebook, yang sedikit banyak menjadi ajang belajar narsisme, sesuatu yang berkonotasi negatif, tapi buat seorang yang minder sepertiku banyak manfaatnya. Setidaknya saya tahu siapa aku, yang selama ini tersembunyi jauh tertelan bahasa ‘apalah aku”.

Dengan bekal saya tahu siapa saya, saya datang ke sebuah reuni buka bersama, dan ternyata reuni tersebut sangat menyenangkan. Tidak ada seorang pun yang membahas masalah kekayaan, tak ada yang bertanya mengenai keberhasilan kerjaan. Dua hal utama yang sering menjadi alasan keminderan dalam pertemuan kangen-kangenan.

Kenyataannya, dalam nostalgia buka bersama itu, cuman dua hal mengenai diri yang dibahas: ‘eh, kamu jadi berubah’ atau ‘kok gak berubah sih’. Atau malah dua-duanya ‘Kamu berubah sekarang, dulu mah mah pendiem banget, sekarang sudah bisa bercanda. Lucu lagi. Tapi ada juga yang gak berubah, kamu tetep bageur’. Kalo itu yang terjadi, hidung jadi kembang kempis.

Memang masa lalu suka menjadi ganjalan mereduksi keminderan. But, life must flow like water. Masa lalu seperti air berada di pegunungan, sementara kita sekarang bak air di dekat muara. Janganlah masa lalu terlalu menjadi beban. Biarkan diri kita yang dahulu dianggap seperti lagu baheula Patty Bersaudara ‘Antara ada dan tiada’. Itu masa lalu. Biarkan juga pribadi yang dulu cupu (culun punya) dan hanya jadi pengekor dan sama sekali tidak terkenal. Itu dahulu. Biarkan juga insan yang hanya melulu jadi cadangan di segala aktivitas dahulu. Karena itu masa lalu.

Inilah masa kini. Saatnya kita bilang ‘ini dadaku’ – tentunya buat yang dadanya bidang, dan laki-laki. Atau ‘inilah perutku’ – buat yang six pack. Orang hamil berusia 35 ke atas juga bisa bangga dengan perutnya, gak usah minder. Bahagia saja lah, anggap saja orang lain kagum dan bergumam ‘wah hebat, ibunya kuat, bapaknya juga’. Cowok yang perutnya one pack juga ngapain minder, akui saja ‘ini perutku’ sebagai tanda kemakmuran. Easy going saja lah.

Memang ada beberapa pertemuan reuni yang sepertinya jadi ajang membanggakan diri dan kekayaan. Tapi biasanya hal itu dilakukan oleh orang yang tinggi hati, artinya ingin diakui ke’beradaan’nya. Ya, easy going saja lah. Gak usah minder. Kita jujur saja lah. Kita bikin dia senang sambil beramal.

Jika teman kita ada yang bicara seperti:
”eh tahu gak, aku capek banget deh keliling Eropa kemaren, mana naek gondola lagi di Italia, ngantri di museum Louvre, sempet juga ke Stonehenge, bahkan sampe loh ke Edensor”. Gampang saja jawabnya:
”wah, hebat banget, ikut berbahagia deh, sudah jalan-jalan ke luar negeri terus’.
Kan orang itu pasti senang kalo di’tanggapi’. Tapi kita lanjutin pernyataan kita dengan jujur dan tanpa beban:
”wah kalo aku lebih senang lagi kemaren. Kita pergi ke kampung bapaknya anak-anak, di Lebak Cihideung. Wuih, indah banget. Anak-anak senang sekali, belepotan tanah ikutan ‘ngabedah balong’, itu lho ngebersihin kolam ikan sambil nangkep ikannya. Itu pun kolam ikan punya orang. Udah gitu mandinya di sungai yang airnya jernih banget. Pulang-pulang menuju terminal bis, kita sempat naek rakit. Apa rasanya naek gondola kaya gitu juga gak? Maklum, saya orang udik’.
Istilah catur mah mah sekak-seter.
Ngapain juga melawan ketinggian hati orang lain. Jika melawan dan meninggikan diri, kita bahkan menjadi bulan-bulanan mereka.

Tempatkan diri seadanya, tidak menipu diri tapi jangan rendah diri. Konsekuensinya paling kita dijauhi mereka. Tapi artinya bukan kita yang menjauhi mereka. Kita bersikap wajar saja dan tidak minder. Mau diapain lagi. Seperti kata Broery; Memang ‘aku begini adanya’. Pada saat yang sama kita akan menemukan mereka yang lain yang justru se’nasib’ dengan kita.

Ayo teman yang minderan, kita buktikan bahwa kita bukan orang kuper dan minder. Kita buktikan bahwa kita bisa menempatkan diri tanpa menipu diri. Bernostalgialah tanpa dibebani masa lalu. Percaya dengan dirilah. Karena diri punya harga diri. Punya Dignity. Seperti lirik yang dibawakan Whitney Houston:

Buat yang merasa minder, coba kita maknai sepenggal liriknya:


I decided long ago,
never to walk in anyone’s shadows
If I fail, if I succeed
At least I’ll live as I believe
No matter what they take from me
They can’t take away my DIGNITY

Because the greatest love of all
Is happening to me
I found the greatest love of all Inside of me

The greatest love of all
Is easy to achieve
Learning to love yourself
It is the greatest love of all

Cag, 28 September 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s