Gempa – hindari penafsiran asal dan ambil hikmahnya saja

Seiring dengan bencana gempa yang menimbulkan korban jiwa, banyak juga orang yang menghubung-hubungkan waktu terjadinya gempa dan tanda-tanda alam lainnya dengan ayat-ayat Al Qur’an.

Salah satunya adalah menghubungkan jam terjadinya gempa sebagai nomor surat Al Qur’an dan menitnya sebagai ayatnya.

Contoh yang beredar di facebook:

Gempa Padang yang terjadi jam 5:16pm atau 17:16 (dikonfirmasi oleh http://earthquake.usgs.gov /eqcenter/recenteqsww/Quakes/us2009mebz.php).

Surat 17:16
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

Gempa susulannya terjadi jam 5:58pm atau 17:58

Surat 17:58
Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lohmahfuz).

Gempa Jambi terjadi jam 8:52 (dikonfirmasi oleh http://earthquake.usgs.gov/eqcenter/recenteqsww/Quakes/us2009mfaf.php)

Surat 8:52
(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Firaun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.

Dear kawan-kawan,

Menyangkutpautkan suatu peristiwa dengan isi kandungan Al Qur’an haruslah dilakukan dengan bijak dan cerdas. Menurut saya pribadi, Al Quran tidak mengenal numerologi, ilmu penafsiran angka-angka. Numerologi adalah ilmu ciptaan manusia, sementara Al Qur’an adalah wahyu Ilahi. Manusia adalah makhluk dan Ilahi adalah khalik. Yang saya takutkan adalah jangan sampai tanpa kita sadari, dan asyik mengotak-atik dan menghubung-hubungkan angka membawa kita ke jurang menyamakan Allah dengan ilmu manusia.

Namun demikian, tidak berarti bahwa kita tidak boleh memaknai suatu peristiwa dengan memakai panduan “tanda-tanda” atau ayat-ayat Allah berupa waktu dan angka. Maknailah dengan bijak dan cerdas. Tafsirkanlah dengan benar, dan tanyakan kepada para ulama dan cerdik pandai dalam hal agama mengenai penafsiran yang benar. Penafsiran yang dilakukan secara personal – dan tanpa dasar yang kuat – dan kemudian diumumkan, bisa jadi menggoyahkan ukhuwah.

Contoh persinggungan waktu dan surat Al Qur’an di atas sepertinya cocok dengan keadaan yang terjadi. Namun, jika itu langsung ditafsirkan begitu saja, apakah saudara kita di Padang sana tidak tersinggung, bahwa sepertinya mereka adalah kaum yang durhaka semua penduduknya? Haruskah kita tambah penderitaan mereka dengan suatu informasi yang menusuk hati mereka? Di manakah letak ukhuwah di antara kita?

Jika kita bermaksud memaknai suatu persitiwa, sejatinya kita pahami dulu apakah informasi yang kita dapatkan adalah benar.

Satu contoh

Gempa susulan Padang – menurut informasi yang berseliwer di facebook – terjadi jam 5:58pm atau 17:58. Kemudian dinukillah ayat Allah surat 17:58, dengan terjemahan seperti di atas. Namun apakah informasi itu betul?

Saya coba cek di web site USGS (US Geological Survey) yang mencatat gempa yang terjadi di seluruh dunia, dan menjadi acuan seismolog. Ternyata gempa susulan padang terjadi bukan jam 5:58pm tetapi jam 5:38pm – atau 17:38 (http://earthquake.usgs.gov/eqcenter/recenteqsww/Quakes/us2009meb4.php)

Dengan demikian surat yang cocok harusnya Surat 17:38, yang berbunyi: Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu.

Contoh kedua adalah kenapa juga gempa susulan Jambi yang menurut USGS terjadi jam 9:20 (http://earthquake.usgs.gov/eqcenter/recenteqsww/Quakes/us2009mfaj.php) tidak ditafsirkan.

Jika dinukil, Surat 9:20 berbunyi: Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Kawan-kawan,

Apakah itu tidak terasa agak dekat dengan sebuah penipuan atau penyesatan? Apakah dengan demikian jika itu terjadi kita sebagai manusia memaknai suatu peristiwa sekehendak hati saja, apa yang cocok dikemukakan dan tidak cocok dengan kondisi disimpan? Itukah hikmah yang ingin diperlihatkan? Bukankah itu artinya kita seperti yang dikemukakan Al Qur’an:

Surat 2.174: Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.”

Kawan-kawan,

Al Qur’an adalah panduan hidup kita. Semua ayat Al Qur’an adalah wahyu Ilahi. Kenapa kita memunculkan satu ayat, sementara ayat yang lain tidak.

Selain Surat 17:58 yang cocok dengan waktu terjadinya gempa, kenapa kita tidak nukil Surat 17:54 yang isinya lebih cocok sebagai suatu ajakan: “Tuhanmu lebih mengetahui tentang kamu. Dia akan memberi rahmat kepadamu jika Dia menghendaki dan Dia akan mengazabmu, jika Dia menghendaki. Dan Kami tidaklah mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi mereka”.

Selain Surat 8.52 yang cocok dengan waktu gempa lainnya, kenapa kita tidak ajak untuk memahami ayat 50 dan 51 – nya:

“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).

Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya,..”

Demikian pula dengan adanya suatu video sebuah mata di angkasa. Ada yang menyebut itu kejadian sebelum gempa Tasikmalaya, ada juga kejadian sebelum gempa Ciamis. Jika kita cari di Youtube, akan terdengar bahwa adzan yang disampaikan bukan khas lafal orang Indonesia, sepertinya ada di daerah Eropa atau kawasan muslim Rusia. Artinya, itu kan bukan di Ciamis atau Tasik.

Jika itu pun benar, memang kita bisa mengambil maknanya dan mengucap Subhanallah. Namun mohon hati-hati jangan sampai kita mengucapkan kata-kata – “eh, kayak mata Tuhan”, atau “Tuhan sedang melihat”. Berhati-hatilah dengan sesuatu yang dilarangNya, menyamakan Allah bermata seperti manusia. Karena Allah adalah khalik dan manusia adalah makhluk. Boleh jadi itu tipu daya syaitan – baik menanamkan kesan di kepala manusia ataupun melewati manusia yang melakukan suatu tambahan di dalam video itu. Wallahu alam.

Hati-hatilah, segala daya syaitan sedang berjalan dalam menyesatkan aqidah umat, dimulai dari aqidah dasarnya seperti tercantum dalam Surat 6:103 “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. Dan ajaran pertama yang kita dapat adalah sifat Allah, salah satunya adalah Mukhalafatu lil hawaditsi “berbeda dari makhluknya”.

Wallahu alam

Cag, 4 October 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s