Oaaahhh, nguantux

Apa pemberian Ilahi yang paling nikmat tanpa kita sadari, yang datang tanpa bisa diminta, tapi kalo tidak datang dicarinya susah banget? Itulah ngantuk. 

Bohong jika ada yang berpikir ngantuk itu tidak nikmat. Coba bayangkan jam sembilan malam, mulut menguap, kelopak mata sudah susah dipertahankan untuk terus membuka, berita di teve yang sedang ditonton atau cerita istri di sebelah sudah tidak tertangkap lagi apa yang dibicarakan. Gerakan kepala hanya mengangguk bukan tanda setuju, tapi ya memang ngantuk. Kalo sudah begini, badan tinggal direbahkan, dalam hitungan beberapa menit sudah tercipta suatu simfoni alami ngorok atau dengkur.

Ngantuk datang kadang tanpa kita undang. Di kala saya menunggu pertandingan final tennis tengah malam yang sangat saya nantikan, di saat komentator mulai membahas kedatangan pemain, tanpa terkontrol kepala kembali naik turun. Bablas, terbangun lagi persis setelah trofi juara diserahkan. Gondok banget. Tapi tidur akibat ngantuk seperti itu nikmatnya tiada tara.

Terbayang wajah ibuku, lebih dari lima belas tahun lalu, sedang duduk di depan teve, dengan kepala yang sudah mulai terkulai ke kiri. Tidur? Bukan. Karena beliau masih bisa menjawab pertanyaanku ‘ah henteu, Mamam mah teu bobo, nungguan Aneka Ria Safari’ (‘gak, ibu gak tidur kok, lagi nunggu acara Aneka Ria Safari’). Kejadian seperti itu kerap terjadi, sehingga mungkin karena itulah leher ibuku pernah disangga beberapa bulan sebelum meninggal. Wallahu alam.

Coba bayangkan juga jika kita membutuhkan tidur malam itu karena besok ada peristiwa penting atau bahkan teramat penting sekelas pernikahan, sidang tesis, board meeting, atau justru sesederhana ketakutan ketinggalan pesawat. Saat itu jangankan tidur, ngantuk pun menjauh.

Mengantuk kadang pula harus diatur dan dibiasakan, karena mengantuk bisa menyebabkan kematian. Sudah enam ratus jiwa melayang hanya dalam waktu dua minggu mudik Lebaran kali ini. Menurut laporan polisi, kebanyakan kasus disebabkan oleh kecapakean, ngantuk sehingga hilang konsentrasi. Jangan anggap remeh mengantuk di jalan raya, baik mengemudikan sepeda motor maupun mobil. Sekejap saja mata menutup – hanya dengan sekian detik – mobil sudah melenceng jauh, maut sudah siap menanti. Kemudian besoknya, headline di harian ibukota berwarna merah berjudul: ‘Sopir mengantuk, mobil menabrak truk. Mati’, atau ‘Anak diikat, supir ngantuk, setir motor dilempar, anak terlepas, terlindas bis. Mati’. Mengerikan.

Untuk itu saya salut dengan iklan kepolisian: ‘Ngantuk jangan nyupir. Nyupir jangan ngantuk’. Ngantuk? Ya tidur.

di mesjid

‘Tapi mau gimana lagi. Ngantuk susah dilawan’. Hmm. Syaitan sedang datang menggoda.

Dia ubah khutbah Jumat menjadi dendang lagu mendayu. Tiupan angin berudara panas pun bagaikan semilir angin berbuluh rindu. Kelopak mata sudah seperti bendera pusaka dikerek turun pada tujuh belas agustus, pelaan, pelaaan, pelaaaaan. Ceramah khatib dari speaker bervolume cukup keras hanya terdengar lamat-lamat, muncul dan tenggelam. Bahkan seruan ‘Mari kita shalat’ dijawab dengan dengkuran. Kadang kala tepukan jamaah yang sudah siap takbir, masih dirasakan sebagai belaian. Ajaibnya setelah salam, ngantuk yang nikmat itu dan selalu diharapkan datangnya bak hilang ditelan bumi.

Ngantuk juga memalukan. Bagaimana tidak. Dalam sidang dewan yang terhormat yang membahas masalah teramat berat yang akan mempengaruhi hajat hidup orang banyak, puluhan anggotanya menguap dan mengantuk. Ngantuk, ya tidur. Namun jika dilakukan pada saat dan tempat yang sama sekali tidak tepat, hal itu begitu memalukan. Akan sangat memalukan jika hal demikian dilakukan oleh anggota dewan yang baru saja diangkat dan dilakukan pada hari pertama sidang. Sungguh memalukan yang TERLALU.

di ruang sidang

Memang ngantuk itu hal yang wajar. Tidak ada aturan yang melarang untuk ngantuk dan kemudian tidur di kereta atau bis. Saya bahkan mengharapkan tidur jika sudah mengantuk dalam perjalanan kereta atau bis ke Bandung. Tentunya karena saya adalah penumpang dan akan menumpang sampai ke ujung tujuan. Berbeda jika kita sebagai komuter, yang menumpang kendaraan secara reguler tiap hari dan turun bukan di tujuan akhir. Dijamin, nikmatnya tidur tergantikan pusingnya mencari jalan atau kendaraan balik pulang karena tujuan yang dimaksud sudah terlewati. Bablas. Ngantuk jadinya membuat malu.

Lagipula sayang jika kita menghabiskan banyak waktu untuk tertidur di saat kita bisa melawan ngantuk. Waktu perjalanan komuter kereta atau bis pulang kantor sepanjang satu jam alangkah sayang jika hanya diisi tidur, padahal nyampe rumah pun kita akan tidur. Padahal sejatinya itulah satu perkara dari tujuh ‘… masa luang / senggangmu sebelum datang masa sibukmu…’.

Saya termasuk yang salut dengan orang yang mengisi waktu dengan membaca. Di komuter kereta api, ada yang bawa novel tebal berjudul mentereng ‘Moonlight’ atau bacaan serius macam ‘Seven habit of effective people’ atau bacaan ‘nyombong awal’ seperti ‘Advanced Calculus’ atau bacaan ‘nyombong lanjut’ semisal ‘Teori ketidakaturan ekonomi kuartal tiga 2009’ sampai bacaan ringan majalah Popular atau Trubus, dan bacaan sangat ringan, saking tipisnya, macam TTS.

di kereta

Orang Barat mentamsilkan waktu adalah uang. Sayidina Ali menyebut waktu adalah pedang. Dan kita hidup di dunia ini berpetualang. Jadi kenapa kita tidak menggunakan waktu luang kita, dan mengurangi ngantuk, dengan menambah bekal akhirat: membaca atau mendengarkan Al Quran dan atau terjemah dan tafsirnya.

Umumnya umat Islam membaca Qur’an sehari dua ‘ain – sekitar dua halaman selama sekitar lima menit. Sesudah itu bosan dan malas. Jika kita menggunakan waktu luang selama komuter pulang pergi satu jam, kita berkesempatan menambah bekal membaca atau mendengar Al Qur’an satu jam pula. Bisa terbayang berapa halaman Al Qur’an yang bisa dibaca dan didengarkan selama satu jam itu? Jumlah yang sangat banyak jika dibandingkan dengan apa yang bisa dilakukan tiap hari.

Jadi, kalau ngantuk ya tidur. Jika ngantuk pada jam-jam tertentu bisa kita atur, insya Allah kita mendapatkan banyak ilmu. So aturlah ngantukmu.

Cag, 4 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s