Investasi kesehatan. Mau?

Jika ditanyakan kepada banyak orang apa investasi yang sudah dan akan dilakukan untuk masa depannya? Mungkin jawaban utamanya melulu berkisar di dalam investasi berbentuk nominal: uang di bank, saham, kertas berharga, tanah, mobil, rumah, vila dan sejenisnya. Sedikit, sangat sedikit dan sedikit sekali yang langsung menjawab investasi terbaik adalah berupa investasi kesehatan. Itulah sifat dasar manusia yang melulu berpikir kebendaan. Jarang ada yang berpikir investasi sesuatu yang abstrak, seperti kesehatan, apalagi investasi yang ghaib, seperti akherat. 

Saya tidak memberikan ajakan untuk membeli asuransi kesehatan, atau alat-alat kebugaran dan lain-lain. That’s not me. Yang ingin saya sampaikan sesederhana ajakan untuk memperhatikan kesehatan kita. Karena salah satu bentuk investasi kesehatan adalah memperhatikan kesehatan raga kita.

Saya tertohok sewaktu diajak bicara mengenai obesitas oleh dokter umum di dekat rumahku, saat beliau bertanya:

“Olah raga masih jalan?”.
Ah jujur saya bilang bahwa saya gak pernah berolah raga, paling kalau ada rencana dan niat, itu pun bertahannya cuman dua tiga bulanan. Dan itu pun kalau ada teman.

“Minum susu gak tiap hari?”.
Jawaban saya mungkin mengesalkannya “Memang sudah dewasa masih perlu minum susu ?“.

‘Kapan terakhir dapat imunisasi / vaksinasi ?’
Untuk pertanyaan ini saya diam cukup lama, berpikir keras kapan ya terakhir kali di imunisasi. ‘Ya, waktu kecil’.

‘Makanan gimana ? ‘
Weleh, jawaban yang sulit, karena saya termasuk omnivora sejati. Apa yang ada dilahap. Tidak peduli jika makanan itu direbus, dibakar, digodog, digoreng atau digoreng minyak bekas pakai – sekali, dua kali atau bahkan entah berapa kali pakai (kayak gorengan pinggir jalan). Cemilan adalah kudapan sambil jalan (dan duduk duduk nonton teve) : kacang tanah rebus oke, keripik balado padang hayu, gorengan penuh minyak no problem sampai bibir merekah makan kuaci pun dilakoni. Yang penting enak. Diet – dalam arti pengaturan makan – tidak ada di kamusku. Sebagus apa istriku menata dan mengatur makan, sepanjang ada makanan atau kudapan enak di kantor, kantin, foodcourt, pokoknya di luar rumah, tangan pasti mengambil atau menunjuk, dan perut dengan senang hati menerimanya.

Semuanya itu ditambah dengan kebiasaan mandi pagi dan mandi malam dengan air dingin. Termasuk jika pulang malam, sekitar jam delapan sembilanan. Alasan utamanya adalah ‘Habis, segar sih kalau mandi pakai air dingin ‘, atau selugu ‘Kalau pakai air hangat kok kayak orang sakit, nanti peot lagi’.

Terus terang saja kita semua abai terhadap kesehatan kita. Jika belum ada sesuatu yang jelek terjadi terhadap diri kita, kita anggap segalanya angin lalu, dan itu pertanda kesehatan kita dalam kondisi baik. Padahal itu hanya ungkapan pemuas nafsu saja. Kita bahkan sering mengacu kepada orang-orang tua yang masih hidup sebagai acuan “Tuh lihat, Bapak Fulan masih panjang umur, padahal dia makannya gak diatur diet segala. Olah raga juga sekenanya. Malah ditambah merokok lagi.” Tapi jarang kita mengacu kepada orang yang sudah tiada, yang mungkin justru lebih banyak jumlahnya, yang sakit jantung lah, sakit tifus lah, kolesterol lah, obesitas lah dll.

Investasi kesehatan itulah yang saya maksudkan.

Jika investasi mobil bisa dipaksakan, kenapa investasi dalam bentuk olah raga kita tidak coba terapkan. Memang susah banget melakukannya, saya sadari itu, karena saya pun sedang mencobanya dan tetap gagal. Tinggalkanlah keinginan perut bergurat enam – six pack, tujukanlah olah raga untuk mempunyai badan sehat. Setidaknya punya badan sehat seperti bapakku, yang berusia 85 tahun masih segar bugar. (Kenapa bapaknya bisa, anaknya kagak ya? Dasar anak pemalas!)

Jika investasi rumah bisa dipaksakan, kenapa kita tidak mencoba berinvestasi dalam bentuk pengaturan pola makan, sehingga bisa mengurangi timbunan lemak tidak perlu di perut, pantat, punggung atau bahkan lemak yang menutup jantung (yang membuat kita terengah-engah) atau pembuluh darah. Kenapa kita terlalu susah menghindari makanan-kudapan yang berkolesterol tinggi, jika kita bisa menggantinya dengan buah-buahan. (ngerti sih ngerti, tapi mau gimana lagi, pelaksanaannya susah. Godaannya itu loh).

Minum susu dan menyesuaikan air untuk mandi pun adalah sebuah bentuk investasi. Investasi dalam bentuk mengurangi pengapuran tulang, penguatan rangka badan dan juga mengurangi kemungkinan rematik di kemudian hari. (Biar enak apa minum susu pake gula? Sama aja boong Pak!!!).

Dan investasi terakhir berupa vaksinasi atau imunisasi, yang penting untuk anak balita dan juga saudara-saudaranya termasuk ayah ibunya. Vaksinasi adalah investasi kesehatan yang membutuhkan dana. Namun dana yang dikeluarkan mungkin dirasakan tidak seberapa jika dibandingkan uang yang dikeluarkan jika kita sudah terkena penyakit tertentu.

Beberapa vaksinasi yang saya pikir tidak diperlukan lagi pada saat dewasa tetapi ternyata disarankan dokter untuk dilakukan lagi adalah: hepatitis, dpt, pneumokokus, influenza, tifoid dan varisela. Vaksinasi ini ada yang dilakukan cukup sekali, ada juga yang diulang tiap beberapa bulan sekali. Dan satu lagi yang sering dokter sarankan untuk perempuan adalah vaksinasi untuk mencegah kanker serviks.

Jadi, investasi kesehatan semua berawal dari tekad, meskipun dalam bentuk vaksinasi membutuhkan dana. Bisa gak ya kita lakukan investasi itu seperti kita berinvestasi dalam bentuk barang dan harta benda?

Mungkin jika sekarang ditanya: Investasi kesehatan. Mau?
Mungkin jawabnnya: iya yah, mau dong

Tapi jika dilanjutkan: Sanggupkah dan konsistenkah dengan tekad untuk berinvestasi?
Mungkin jawabannya: hmmm…. mmmmh, gimana ya? (seperti jawaban saya ini).

Lalu, semuanya terserah anda.

Cag, 6 Oktober 2009 5pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s