Bencana lagi… bencana lagi

Rasanya bencana yang melanda negara kita bertubi-bertubi. Entah longsor, banjir dan berpuluh-puluh gempa. Kadang kala kita sampai berucap ‘Ya Allah, bencana apa lagi yang akan menimpa negaraku?’. Bahkan ada yang mentafsir sederhanakan ayat-ayat pilihan bahwa kaum yang satu sedang dibinasakan karena mereka semua berbuat dosa, yang lantas dilanjuttafsirkan bahwa kaum yang lain tidak berbuat dosa dan bebas dari binasa. Begitu gampangkah menafsirkan sesuatu ayat? 

Bersedihlah yang wajar. Setiap kaum mempunyai permasalahan sendiri, dan tiap negara pun mendapatkan bencananya sendiri.

Lihatlah Australia, dipanggang panas, semak-semak terbakar, masif, ratusan meninggal. Bencana itu berulang tiap tahun.

Bangladesh direndam banjir rutin, hujan parah, ratusan juga mati dalam peristiwa tahunan.

Negara besar sekelas Amerika pun secara rutin tahunan kena tuah Kapten Haddock-nya Tintin, diamuk puting beliung dan sejuta topan badai berbagai nama seperti Katharina. Kota besar tempat awal jazz pun terendam, dan jutaan manusia menjadi pengungsi.

Afrika negeri yang penuh dengan bencana, kekeringan, kelaparan dan peperangan. Mungkin karena itulah Afrika disebut benua hitam, bukan hanya karena penduduknya berkulit hitam, tetapi image hitam tanpa harapan terpancar dari wajah pengungsi dan orang kelaparan ditunggu burung pemakan bangkai.

Eropa yang aristokrat pun dilanda bencana, letusan gunung Etna atau longsornya material putih salju, dikenal dengan avalance.

Hongkong dan Pilipina rutin diterjang badai. Cina sering terkena longsor dan runtuhnya terowongan tambang. Rusia dengan bocornya instalasi nuklir. Dan Jepang langganan gempa juga, seperti negara kita yang terletak di ‘Ring of fire’.

La (tidak, jangan, bukan ) tahzan (sedih). Bencana bukan untuk dijadikan alasan bersedih saja. Bencana adalah bukti perhatian Ilahi atas makhluknya dalam bentuk teguran dan cobaan. Jika Dia tidak sayang dengan kita, kenapa kita ditegur? Jika kita tidak dicoba, mana tahu kita berada di jalur yang benar atau salah?

Bayangkan saja jika kita menegur anak, tentunya teguran itu untuk memperbaiki sesuatu yang tidak benar, tidak baik atau tidak pada tempatnya. Jika anak kita dicoba dalam bentuk ujian, tentunya cobaan itu untuk melihat seberapa jauh pengertian anak dalam menyerap ilmu, dan kemudian melengkapinya jika masih kurang.

Namun sebuah bencana harus membuat kita bersedih jika kita ndableg, tidak mengerti hikmah di balik bencana itu serta kita tetap tidak berubah setelah terjadinya bencana. Bahkan yang harus membuat kita bersedih adalah kenapa kita tidak belajar dari bencana-bencana sebelumnya dan bersiap-siap menghadapi bencana selanjutnya.

Seperti halnya sebuah cobaan dalam bentuk ujian, jika kita gagal dalam ujian, kita harus mengikuti remedial. Dan jika kita tidak belajar dari kegagalan ujian sebelumnya, kemungkinan gagal dalam ujian remedial akan terjadi. Jika gagal dalam ujian remedial, maka akan terus diulang lagi ujian itu sampai berhasil. Apakah mungkin seperti kiasan itukah yang terjadi dalam bencana yang berulang terus? Apakah itu berarti kita belum lulus dari ujian Allah? Wallahu alam bishawab, karena kiasan itu hanya untuk manusia sebagai makhluk, dan subhanallah rencana Allah tidak bisa dimisalkan dengan rencana makhluk, karena sifat mukhalafatu lil hawadits.

Cag, 8 October 2009

One thought on “Bencana lagi… bencana lagi

  1. mampir pertama kali niy g an.

    saya juga sangat tidak setuju dengan ungkapan dan pernyataan beberapa orang, bahkan seorang menteri bisa menjadi sangat sentimentil ketika menyatakan bahwa bencana yang melanda indonesia itu di sebabkan masih banyak masyarakat yang bermoral buruk. ini memang sedikit memalukan untuk pernyataan orang sekelas menteri.

    padahal jika sedikit saja kita gunakan logika, maka sesungguhnya kita telah mengetahui dan menyadari bahwa kita berada di alam semesta yang tidak sepenuhnya stabil, faktor yang menyebabkannya banyak sekali, namun yang terbesar adalah faktor alam itu sendiri.

    jepang tidak bisa lepas dari bencana gempa bumi, tetapi mereka mampu meminimalisir korban bukan dengan menjadi lebih suci. tetapi dengan menerapkan ilmu pengetahuan dalam aksinya yang nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s