menjadi tua……

Terenyuh membaca sebuah notes yang ditulis oleh Ceuceu Puji Nurani (a.k.a Anni Heryanto) yang top markotop dengan judul ‘MENGAPA TUA…??’, di mana menuju tua lah kita menjadi lebih dewasa dan berhasil menyobek batas sekat-sekat yang dibuat semasa muda: sekat kekayaan, sekat kepandaian, sekat keaktifan. 

Pada masa muda mungkin kita berada pada periode antara ada dan tiada, menjadi dewasa dan menuju tua menjadi ada, suatu saat kita kembali ke ketiadaan?

Menjadi tua bukanlah pilihan, namun sebuah keharusan alamiah. Percuma menunda penuaan. Pemudaan yang dipaksakan, seperti dengan operasi plastik, operasi silikon, susuk, pijat pak tjetje (punten) dll, akan membuat wajah atau badan aneh untuk dilihat. Kalaupun cantik dan muda yang didapat, semuanya artifisial, jauh dari cantik dan muda alamiah yang sedap dipandang.

Demikian juga panjang umur, itu bukan pilihan, itu sunatullah, yang sudah ditentukan dari jaman azali. Yang diinginkan panjang umur, malah meninggal di atas kasur. Sementara yang mau bunuh diri, berkali-kali gagal karena ciut nyali.

Berumur panjang adalah juga einginan seorang manusia umumnya. Bahkan bertemu tahun pun dirayakan dengan menyanyikan lagu ‘Panjang umur’. Siapa sih yang tidak ingin panjang umur? Benarkah fitrah manusia ingin umur panjang? Bukankah berumur panjang berarti menjadi tua.

Menjadi tua artinya menjadi teramat muda kembali dalam waktu teramat singkat. Seperti sebuah kurva statistik, jika sudah mencapai titik puncak, maka akan turunlah kurva itu. Artinya setelah dengan pelan meniti kedewasaan sampai menuju puncak – yang dicapai pada usia yang berbeda-beda, manusia umumnya kembali bersikap seperti seorang anak-anak. Perbedaannya dengan kurva adalah penurunan kedewasaan itu terjadi dalam waktu yang teramat singkat. Sifat merajuk, semua keinginannya harus dipenuhi, penuh komplain, berubah-ubah sifat dan kelakuan, plin plan, apa yang dikerjakan orang lain dianggap salah, tidak bisa diajak ngobrol dan berdiskusi dan menang sendiri. Itukah yang disebut pikun?

Saya angkat topi buat seorang anak yang begitu sabar merawat orang tuanya yang pikun, suatu pekerjaan yang sangat tidak mudah, phisically and emotionally.

Menjadi tua adalah menjadi pelupa, bahkan sampai bertanya ‘Ujang, bade pependak sareng saha?’ (Anak muda, mau bertandang ketemu siapa?) kepada anak laki-laki satu-satunya yang belum lima menit menyebutkan namanya.

Bukankah menjadi tua juga menjadi tidak berdaya? Bulan kemarin sempat berjemur, bulan ini sudah tidak bisa meninggalkan kasur. Ramadhan kemarin masih sempat bertarawih, tahun ini ruku saja terasa perih. Lebaran lalu masih kuat berjalan, sekarang berdiri saja tak tahan. Kemarin masih mendengar celoteh burung nuri, sekarang segala terasa sunyi. Dua tahun lalu berjalan tegak, sekarang kepala sejajar pundak.

Ah, puji kepunyaanNya. Saya menemukan kenyataan hidup bahwa ayah saya dan saudaranya umumnya berumur panjang dan beranjak tua, sementara ibu saya dan saudaranya dipanggil Ilahi lebi cepat. Tahun depan ayah saya berusia 85 tahun, dan masih mempunyai kakak-kakak yang bahkan berusia mendekati seratus.

Alhamdulillah pula ayahku diberi kondisi yang cukup sempurna bagi usianya. Pada usia 75 tahun, beliau masih bisa main tennis dua set, dan jika tidak diawasi dia bisa mencuri-curi waktu untuk bermain tennis lagi di usia 85 tahun. Jalan kakai dia lakukan mengelilingi kampus Jatinangor atau lapang Tegallega. Berpergian masih suka sendirian, meskipin sudah terlalu sering kita melarangnya. Bahkan di kompleks tempat beliau tinggal, dia masih bisa mengendarai motor. Itulah kenapa secara iseng saya menjulukinya sebagai Kishordas: ‘Aki-aki kasohor bedas’.

Alhamdulillah bagi ayahku, pikun belum menghampiri, lupa masih bisa menanti, mata masih melihat sana sini, badan tegap bak prajurit gagah berani. Hanya saja menjadi tua baginya adalah menjalani usia lebih panjang, melintasi beberapa paruh waktu, menyaksikan beragam peristiwa – sedih dan gembira, suka dan duka, kelahiran dan kematian, damai dan perang, juga menjalani kesepian dan … menanti kematian.

Ya, menjadi tua adalah menjalani kesepian, semua jenis sepi, baik sepi sendiri ataupun sepi di tengah keramaian. Kau lihatlah tua renta yang telah begitu berjasa dalam hidupmu, yang sekarang hanya berakhir di panti wredha? Kau suruh ibumu yang sudah sepuh, menetap bersamamu namun ditinggal sendiri tanpa ada yang menemani?

Bahkan bapakku yang tinggal dikelilingi kakak-kakakku, yang rumahnya berdampingan dan berdekatan, dan juga dikerubuti tujuh orang cucu dan satu orang buyut dalam kesehariannya pun masih merasakan sepi.
‘Papap di sini menjadi paling tua sekali’
‘Papap sudah tidak punya teman. Pak Basah sudah meninggal. Pak Tohir juga. Pak Toto baru kemaren kena stroke. Satu angkatan Papap mah sudah gak ada semua. Sepi.’
‘Papap sepi yeuh. Gak ada Mamam, gak punya teman’. (Mamam adalah ibuku tercinta, Tjutju Suwamah yang meninggal 12 tahun lalu, yang darinya telah lahir delapan orang anak termasuk si bungsu ini).

Kalau ucapan itu sudah keluar dari mulut seorang tua, hati siapa yang tidak tersentuh. Dan yang paling menyayat hati adalah jika hal tersebut dilanjutkan dengan kalimat tanya lainnya: ‘Kapan Papap nyusul Mamam?’. Ujung mataku langsung berair. Memang, menjadi tua adalah menanti kematian.

Sejak saat itu, saya memahami jika panjang umur belum tentu diharapkan semua orang. Sejak itu saya juga ubah doa ‘Mudah-mudahkan dipanjangkan umurnya…’ menjadi ‘Jika umur panjang adalah baik baginya menurutMu, panjangkan umurnya disertai rahmat dan berkah Mu dalam ketuaannya, dan jika umur pendek adalah baik baginya menurutMu, akhirilah hidupnya dengan baik dan limpahilah dia dengan husnul khatimah’.

Cag, 08 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s