Piano adalah kerja keras

Kita coba bayangkan Rhoma Irama dengan baju putih kebesarannya berkerah
tegak, menyandang gitar, dengan gaya menunjukkan gitarnya ke depan dan ke
belakang mendendangkan lagu:
Piano….mari-mari
Piano…
Menari diiringi dengan piano…dll 

Kita coba bayangkan Stevie Wonder dengan kaca mata hitam meliuk-liukan
badan dan kepalanya sambil jarinya bercengkerama dengan tuts membawakan
lagu:
Ebony and ivory
Sit together in perfect harmony
Side by side of my piano…dll

Tapi kemarin saya tidak perlu membayangkan hal itu, karena saya bisa
menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana anak perempuanku menarikan
jemarinya di atas tuts piano, membawakan lagu lembut yang sedang
dipelajarinya: Funeral March – Chopin. Meski diselingi kesalahan di sana sini, saya menikmati
permainan pianonya yang kali ini dibawakan dengan perasaan: dengan sentuhan
lembut dan keras yang pas, cepat dan lambat yang sesuai dengan irama perkabungan.

Saat saya perhatikan jemarinya dengan lincahnya bergerak, saya makin sadar
bahwa bermain piano itu sangatlah tidak mudah. Bisa terbayang dua tangan
bergerak tidak seiirama, yang kiri untuk melodi yang kanan untuk irama
pengiring (kebalik kitu?). Tangan kanan bergerak menekan tuts dengan
tempo sangat cepat, sementara tangan lainnya menekan tuts satu dan dua
berulang lambat. Satu tangan yang dipakai pun betul-betul seperti penari
balet, kadang bergerak di tuts yang berdekatan, kadang melompat jauh dari
tuts ujung ke tuts tengah. Belum lagi sinkroniosasi mata dengan buku not
balok yang semrawut minta ampun.

Bermain piano pun membutuhkan waktu yang lama untuk bisa membawakan sebuah
lagu, membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang lebih. Dibutuhkan waktu
beberapa bulan hanya untuk bisa lancar menekan tuts doremi. Dibutuhkan
beberapa tahun untuk bisa membawakan lagu sederhana. Anakku pun membutuhkan
waktu cukup lama untuk bisa memainkan sepenggal lagu klasik itu. Masuk akal
sih, karena anakku hanya berlatih resmi seminggu sekali selama setengah
jam. Di luar itu, latihan dilakukan jika punya keinginan dan sedang dalam
mood. Padahal anakku setidaknya memiliki jiwa seni yang diturunkan ibunya.
Terbayang berapa lama waktu yang dibutuhkan olehku, bapaknya, yang tidak
ada bakat dan jiwa seni sama sekali (sampai jari kapalan berlatih gitar pun
tetap tidak bisa, nasib….nasib…). Bapaknya hanya bisa mengiringinya berdendang.
Sedihnya lagi, itupun dilakukan dengan suara persis ‘hey kasih, bawa
kemariii…’ – seperti iklan kopi kapal api susu – ‘tidak semua orang bisa bermain musik’.

Lalu terngianglah dendang simfoni, untaian nada lembut yang dibawakan
painis-pianis hebat membawakan lagu-lagu yang sulit. Kemudian melesat
bayangan usaha keras yang dilakukan pemusik atau pianis hebat kelas dunia
tersebut dan maestro lainnya.

Bagaimana orang sekelas Mozart, Bethoven, Chopin dan lain-lain yang
sepertinya sudah dididik secara keras untuk mencapai kesuksesan dalam bermusikh
Bahkan dikuti kreasi-kreasinya menggubah simfoni.

Hee Ah Lee

Di jaman sekarang siapa yang tidak kagum dengan perempuan berjari kepiting,
dengan lututnya adalah telapak kakinya, Hee Ah Lee, yang dengan
dahsyatnya mempermalukan manusia normal dalam bermain piano, salah satunya
dengan membawakan Fantasie Impromptu-nya Chopin.

http://www.youtube.com/watch?v=eYXvUSSH0ow&feature=related

Bagaimana seorang Maksim Mrvisca yang cool bisa memainkan lagu Tumble Tots (eh salah, Tumble
Bee, eh … Bumble Bee) yang sejatinya telah dipelajarinya dan dilatihnya demikian lama.

http://www.youtube.com/watch?v=h6A-JYbu1Os&feature=related

Atau pujaan anak remaja Indonesia sekarang, semacam Kevin Aprillio anaknya Adie
MS yang juga begitu berbakat dan sudah mulai berlatih piano dari sejak usia 3.5 tahun.

Itulah kerja keras dan ketekunan. Tanpa kerja keras yang terus berulang,
mereka tidak akan menjadi seperti itu. Kerja keras dan ketekunan dan
latihan yang benar.

Etos kehidupan seperti itulah yang kita butuhkan. Kerja keras yang
konsisten demi keberhasilan hidup. Tirulah kerja keras mereka. Tirulah juga
Roger Federer, Rafael Nadal yang terus berlatih keras untuk berhasil. Tiru
jugalah usaha keras Michael Phelps sampai mendapatkan medali emas Olimpiade
sepanjang sejarah. Atau lebih sederhananya tirulah kerja keras orang tua
kita.

Maksim

Belajarlah dari piano. Bekerja keraslah. Dengan kerja keras, hasil yang didapat cenderung lebih
bisa dinikmati dan disyukuri (kecuali jika anda penggemar sinetron yang
berkutat di dunia ‘ingin’ dan ‘seperti’). Bahkan jika hidup untuk suatu
tujuan yang kuat, kerja keras bukanlah suatu pilihan, tetapi suatu
keharusan. Berusaha untuk berhasil tanpa kerja keras, ibarat menginginkan
panen besar tanpa mulai menanam. Dan orang seperti Roman Abrahamovic
bertamsil bahwa kerja keras ibarat ragi yang membuat adonan mengembang
(entah apa arti sebenarnya?)

Ah sudahlah. Biarkanlah saya menikmati lagu ‘Si katak lompat’ yang sangat
aku sukai sewaktu dimainkan anakku ketika kecil.

Cag, 12 October 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s