SBI: Sekolah Bertaraf Internasional. Sudah siapkah?

Belakangan ini saya agak geremet dengan anak saya. Nilai ulangannya tidak sebagus biasanya. Bawaannya capek dan tidur. Ibunya jadi cepat marah melihatnya, terutama marah terhadap sekolah. Saya sendiri cenderung membiarkan semua ini, karena saya pikir memang itu adalah tuntutan sebuah sekolah berlabel SBI. Lagian mungkin anak saya sedang dalam masa transisi, di mana dia melihat banyak kegiatan yang bisa diikuti. Selama anak saya enjoy, ya sudahlah. 

Tapi lama kelamaan saya jadi tambah kesal. Geremet saya ternyata harusnya bukan terhadap anak saya, tetapi terhadap sekolah.

Satu saat anak saya sibuk belajar, karena besoknya ada ‘ulangan’. Ah, hal biasa kataku. ‘Tapi bahannya banyak sebuku’. Saya cuman jawab ‘masa sih’. Yang membikin saya tercengang adalah ketika dia jawab bahwa yang diulangankan adalah juga bab yang belum diajarin sama sekali. Rasanya ada satu tamparan buatku. It’s not my child who has a problem. It’s her school.

Di saat yang lain anakku minta diantar ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas presentasi. Saya hanya bersyukur, karena itulah inti sebuah SBI, mendidik anak-anak terbiasa dengan paper work dan pede berpresentasi. Dua tiga kali tugas, saya masih bersemangat menyemangati dia. Setelah itu saya justru banyak bertanya, benarkah hal ini? Lha aneh lah, masa tugas presentasi baru datang hari ini untuk tiga hari lagi. Apalagi bahannya seabreg, satu buku. Saya pernah memarahi anakku karena tiga jam belajar bersama hanya menghasilkan dua lembar presentasi. Tetapi sekarang saya tertampar kedua kali. Wajar saja jika mereka malah bermain saat belajar bersama, jika apa yang disuruh dipresentasikan belum pernah diajarkan. It’s not my daughter nor her friends who play waktu belajar, tapi mungkinkah gurunya yang justru play-play dengan status anak didik yang sepertinya bisa dibiarkan saja.

Saat lain lagi memberikan tohokan tajam buatku, kala mengetahui anakku mendapatkan nilai dua puluh lima dari skala seratus. Saya bukan jenius yang selalu dapat nilai seratus. Tapi saya tahu jika nilai 25 adalah nilai yang jelek sekali, dan alasan tepat buatku memarahinya. Tapi terus terang, saya sadar jika saya tidak memarahinya. Bagi saya, langkah yang teramat sangat salah jika saya memarahinya. Justru saya geremet dengan sekolahnya.

Kenapa hal itu bisa terjadi. Pertama, nilai tersebut merata seluruh kelas. Hanya satu yang bernilai 70, lainnya di bawah 40. My daughter is not stupid, neither her friends. Mereka lolos tes ketat, dan umumnya berada di lima besar sewaktu di SD. Who is the stupid in this case?

Kedua, bagaimana bisa gurunya bilang bahwa mereka semua itu tidak layak masuk sekolah itu. Siapakah yang sebenarnya gak layak, mereka para murid atau gurunya? Jika anak saya saja yang mendapatkan nilai jelek karena belum tahu dan tidak diberi pengajaran, ataukah sekolah dan gurunya yang tidak atau belum layak?

Sekarang saya tambah geremet. Maksud hati menyekolahkan anak ke sekolah yang bagus, apa daya malah kekecewaan yang didapat. Memang sih sewaktu awal kita berdua – saya dan istri – lebih suka menyekolahkan anakku ke sekolah-sekolah swasta yang pasti-pasti saja dan sudah ada sejarahnya. Lagipula, jika dilihat dari biaya yang dikeluarkan pun, antara SBI dan swasta tidak jauh berbeda. Namun saat itu saya hanya ingin menjadi orang tua yang baik, yang mencoba mengikuti kehendak anaknya. Saat itu ada perasaan bangga bagi anak saya masuk ke sekolah negeri bertaraf SBI.

Sekarang anak saya mulai menunjukkan kemengertiannya. Beberapa temannya satu demi satu sudah pindah sekolah. Ibu-ibu orang tua murid sudah mulai bergerilya, mendiskusikan langkah resmi selanjutnya terhadap sekolah. Bapak-bapaknya masih tetap dicegah jangan turun tangan dulu. Yang ada hanya gejolak jiwa saja melihat anak mendapatkan ilmu yang ‘bantat’.

Ironi sebuah tekad bagus tidak diiringi kesiapan. Tidak semua SBI seperti itu. Tapi lihatlah track recordnya dulu.

Cag, 19 October 2009

Apa yang salah dengan sekolah negeri sekarang? Padahal dulu, bapak ibunya, paman bibinya, dan orang tua sepupunya adalah tamatan sekolah negeri. Dan kualitasnya bagus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s