That’s What Friends Are For

Dionne Warwick pernah bercerita dalam lagunya: 

Sunggingkan senyummu selalu
Pancarkan sinarmu
Ku tahu kau pasti memperhatikanku
Kuyakin itu

Saat duka dan ceria
Aku berada di sisimu, selalu

Itulah makna seorang teman.

Hmm. Gombal juga nih lagu. Bisa-bisa disalahtafsirkan lagu itu: apa bedanya teman dengan pasangan hidup. Capek deh jika disuruh senyum terus dan tetap memancarkan sinar.

Padahal menjadi seorang teman menurutku hanya butuh satu: keikhlasan. Ikhlas tanpa pengharapan berlebih.

Menjadi seorang teman tidak harus selalu tersenyum setiap saat. Sesuaikan dengan keadaan. Jika sedang bahagia ya tunjukan bahagianya dengan tersenyum dan tertawa, dan jika marah juga tunjukan kemarahannya dengan cemberut atau amarah yang bijaksana. Namun semua berada dalam tataran kewajaran.

Menjadi seorang teman tidak harus selalu setuju setiap saat. Sesuaikan dengan kata hati. Jika setuju ya tunjukan kesetujuannya dengan semangat, dan jika tidak setuju juga tunjukan ketidaksetujuannya dengan bijaksana. Wajar-wajar saja lah.

Menjadi seorang teman tidak harus selalu berada di sisimu. Teman bukanlah pasangan hidup yang selalu ada disisimu tidak hanya secara fisik, tetapi juga ada di hatimu secara bathin. Biarkanlah pasanganmu saja yang memiliki privilage itu. Wajarlah berlaku sebagai teman. Sayang sekali jika kita mengabaikan kedekatan fisik dan bathin dengan pasangan hidup yang seharusnya diutamakan – demi meluangkan waktu untuk seorang teman. Berlaku wajarlah. Jika temanmu memerlukanmu, dan pasanganmu juga memerlukanmu, ajaklah pasanganmu bersama bertemu dengan temanmu.

Menjadi seorang teman tidak harus selalu mengikuti langkahmu ke mana kamu pergi, di dunia nyata atau di dunia maya. Karena jika demikian, seorang teman tidak berbeda dengan seorang ‘stalker’ celebrity. Wajar sajalah. Setiap orang memiliki dan menghendaki ruangan bagi dirinya sendiri.

Bagiku, menjadi teman tidak membutuhkan tujuan dan harapan. Wajar dan mengalirlah sebagai teman. Jika pertemanan sudah dibumbui suatu tujuan, ‘apa yang diharapkan dari pertemanan ini?’, maka pertemanan menjadi tidak ikhlas, dan mudah untuk menjadi tercerai berai jika harapan dan tujuan pertemanan tidak tercapai.

Teman bukanlah sebuah komoditi berharga berapa ribu dolar. Teman bukanlah angka-angka peningkat status dengan ribuan ‘friends in a second’. Teman yang natural – bukan artifisial – adalah teman yang sewajarnya, yang setidaknya hati kecilmu berbisik dan berkata bahwa dia adalah temanmu.

pertemanan inter-species

Ada sebuah kutipan yang saya sukai dari seorang bernama Anonymous (halah), terutama baris terakhirnya:

If you’re alone, I’ll be your shadow.
If you want to cry, I’ll be your shoulder.
If you want a hug, I’ll be your pillow.
If you need to be happy, I’ll be your smile.
But anytime you need a friend,
……. I’ll just be me.

Cag, 28 October 2009

Selamat hari Sumpah Pemuda buat semua yanbg merasa muda (quotes dari Kang Andri)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s