Kembali ke laptop

Puyeng memperhatikan berita beberapa hari ini mengenai penahanan Bibit-Chandra. Berita yang secara gamblang memperlihatkan carut marut kondisi bangsa, dalam hal lebih jelas mengenai pemutarbalikan fakta dan penggeseran inti masalah. Tepatlah sebuah judul bukunya Emha: ‘Malu aku jadi bangsa Indonesia’. 

Dari kacamata awam saya, saya melihat apa yang terjadi sekarang melulu mengenai pemanfaatan sifat klasik bangsa Indonesia: pelupa. Gak usah takut korupsi ditelisik, bikin saja masalah yang menarik di luar itu, nanti masyarakat juga lupa. Gak usah takut bunuh Munir, bikin saja issue lain yang gampang menyebar, ntar juga hilang dengan sendirinya.

Sadar atau tidak sadar, kita sekarang sepertinya sudah belajar bagaimana mengalihkan suatu masalah. Masalah inti yang signifikan tidak tersentuh, malah masalah remeh temeh sampingan yang jadi prioritas utama.

Kasus Bibit-Chandra mengemukakan masalah pelanggaran prosedur menerbitkan cekal, kemudian berubah menjadi suap. Masalah utama korupsinya, cukup dikesampingkan. Lambat laun juga masyarakat lupa.

Kasus korupsi lainnya dilaporkan. Daripada korupsinya menjadi inti pemeriksaan, malah sampingannya – pelapornya dicecar dan jadi tahanan.

Kasus lain bahkan menggunakan pasal pencemaran nama baik untuk mengalihkan inti permasalahan.

Perhatian saya bukan pada adanya mafia peradilan, koruptor menang, buaya makin kuat, hilangnya demokrasi dan hukum. Sudah banyak orang concern mengenai hal ini. Saya lebih menitikberatkan pada adanya pengajaran negatif bagaimana caranya berkelit dari suatu masalah dengan menciptakan issue lain. Masyarakat belajar dari apa yang terjadi, dan lihatlah bukti di sekitar kita.

Simak argumentasi yang dikemukakan anak kita yang melakukan suatu pelanggaran. Apakah anak kita menjawab tu de poin terhadap pertanyaan? Apakah dia menyanggah dan mulai bertanya ‘Siapa yang bilang begitu Yah?’ Apakah pertanyaannya dijawab dengan penjelasan ‘Ayah percaya saja sama si Fulan, dia mah emang orangnya begitu. Yang kayak gitu kok dipercaya. Tahu gak yah, dia itu bla…bla…’

Jangan-jangan, anak kita – kalau pun terjadi – belajar dari kita sebagai orangtuanya. Jawab jujur deh, pernahkan kita mengubah arah pembicaraan dari percakapan yang tidak kita inginkan? Hmm…

Bahkan saya mendapatkan kesan teranyar mengenai perubahan inti masalah sehingga masalah yang diangkat terbenam, dari satu milis orang-orang pintar (Hmmm lagi deh). Diskusi yang harusnya seru membahasTeori Evolusi menjadi berbelok arah menjadi mengupas pribadi salah satu tokoh – bukan Dawrin – dari arah mendukung dan menjatuhkan.

Rasanya kita harus kembali belajar meletakkan permasalahan pada jalurnya, dan menyelesaikan permasalahan sesuai dengan inti permasalahan. Janganlah kita lupa esensi dari suatu issue dan terkalahkan oleh issue lain yang tidak ada urgensinya. Turutkan kata hati, karena hati bisa berbisik jika kita sudah keluar rel.

Dan mengikuti istilah Tukul: kembali ke laptop … eh, kembali ke inti permasalahan.

Cag, 2 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s