13, istriku. Terimakasih ya Rabbi

Sebuah kue tart kecil, dengan tiga belas lilin mungil menyala hadir di ruangan yang sengaja dibuat temaram. Harum melati semerbak di sela-sela bunga tulip yang tergeletak dengan anggunnya, indah di atas meja tertata. Dan hanya kita berdua, bersentuhan tangan lembut diiringi musik klasik penghias cinta yang juga mendayu lembut.
Hmmm …. Romantis… 

Tapi romantisme seperti itu bukanlah dirimu

Atau

Kutuntun kuat tanganmu yang lucu dan kita berjalan di titian batu. Lalu kututup matamu meski cipratan air sejuk membasahi wajah kita. Sekonyong-konyong angin halus menyibak jilbabmu dan juga menyibak tanganku. Saat itu kau memekik bahagia dan mengecupku di depan indahnya pantai Pameungpeuk nan asri, tempat kesukaanmu, tempat mengenang romantisme masa kecilmu.

Namun romantisme alami bergaya sinetron ini bukanlah diriku … payah.

Atau

Cukupkah saja kuhaturkan untaian sajak cinta merona, ungkapan bahagia dan wujud kasih dan terima kasih dalam bentuk doa? Tentu, aku kan sebut namamu dalam munajat doaku kali ini. Bukan. Bukan karena ini hari spesialmu, hari penting bagi kita. Tapi karena namamu selalu kusebut dalam setiap doaku.

Ah, aku hanya ingin memelukmu, meletakkan kepalamu di dadaku dan mendekapmu erat, sambil kuelus lembut rambutmu sampai kau tertidur pulas.

Seperti yang sering kita lakukan.

Karena dengan dekapan, kala telingamu mendengarkan detak jantungku, aku ungkapkan kasih sayangku tanpa kata, hanya hati bertemu hati. Dan elusan lembut di kepalamu adalah bak ketulusan hatiku menyayangimu, mengasihimu dan mencintaimu.

Dan bagiku tidurmu pun adalah ungkapan dirimu menerima cintaku, pulasmu ibarat ketulusan ucapan terima kasih tak bersuara. dan nafasmu bagaikan simfoni indah bahagiamu menjadi seorang istri bagiku.

Istriku,
Kecupku di keningmu
Seperti yang kulakukan tiap pagi
Adalah ungkapan bahagiaku memiliki seorang istri sepertimu
Juga ungkapan bahagiaku menjadi suamimu

Tiga belas tahun lalu, waktu adalah milik kita berdua
Dan dalam milad kita kali ini, waktu adalah milik kita bertiga, dan insya Allah menjadi milik kita berempat kelak
Namun kita masih tetap berbahagia, lebih bahagia bagiku malah
Karena kita masih tetap bersama

Alhamdulillah ya Rabbi.

Cag, 10 November 2009

Tanggal di mana aku sekali-kalinya mengucapkan kata-kata ‘…. dibayar kontan’ di gedung ini bukan terhadap pedagang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s