BYO – Bring your own lunch

Sebagai herbivora, seekor kambing tanpa pusing akan makan segala jenis tumbuhan. Demikian pula seekor singa, sebagai carnivora tidak akan pilih-pilih apa menu kali ini: kambing mudakah atau kambing tuakah untuk dimakan . Tapi sebagai omnivora, manusia masih saja dipusingkan pertanyaan yang sama tiap makan siang – utamanya hari kerja: “makan apa ya siang ini?”. 

Coba kita tengok menu standar kantin-kantin di perkantoran yang membuat pusing kita. Rawon, soto betawi, sop kambing, pindang patin, nasi padang, sate, tongseng – wuih gurih semua. Mie baso, mie ayam, kuetiaw – cuman buat kenyang doang. Nasi goreng, ayam goreng – minyaknya sekali pakai apa berkali pakai? Warteg, gudeg – gak enak tanpa sambel dan siap-siap sakit perut. Masih mendingan kalau ada yang jualan gado-gado atau makanan rumahan.

Pindah ke foodcourt, ada KFC, AW, McD, pizza – bukankah semuanya termasuk dalam kategori junk food. Mari kita pindah ke restoran yang lebih keren. Solaria nasi capcay: wah boleh juga, bergizi tapi porsinya apa gak salah, banyak banget. Rice Bowl bebek asam manis: hmm lezat, tapi kok ya porsinya cuman nasi sama bebek beberapa slice doang – monoton. Singapore Resto hainam chicken rice: delicioso, but enam puluh rebu sekali makan, please deh?

Pusing kan? Nyari yang murah dan bervariasi di piring, belum tentu sehat di badan. Nyari yang sepertinya sehat di badan, belum tentu sehat juga di kantong. Jadi, mari kita kembali ke rumah – marilah kita mulai lagi membawa bekal makan siang dari rumah. Let’s bring our own lunch, karena banyak manfaat yang kita dapatkan dengan membawa bekal dari rumah.

Bekal makan siang

Manfaat pertama sudah jelas: sehat – atau bisa dibuat sehat. Jika seorang ibu atau istri sadar kesehatan, tentunya dia akan menyediakan makanan yang seimbang gizinya, cukup vitamin, karbohidrat, protein, mineral dll. Empat sehat lima sempurna lah istilahnya. Kesadaran kesehatan sebenarnya tidak tergantung kualitas kemampuan masak sang istri atau mbok pembantu.

Manfaat kedua, kalau diperhatikan, adalah murah. Menurut istriku, dengan enam puluh ribu rupiah harga sekali makan siang chicken hainam rice di restoran, sebenarnya kita sudah bisa beli ayam satu potong (23 ribu), udang seperempat (13 ribu), sayuran plus daging buat sop (15 ribu), beras seliter dan masih sempat beli buah pepaya segala. Itu semua dengan memakai standar harga Bang Alex pedagang sayur keliling kompleks. Dan semua bahan itu sangat cukup untuk membuat makanan untuk satu keluarga – bapak-ibu-anak yang cukup gembul, untuk makan sehari – artinya tiga kali, sebagiannya dibawa sebagai bekal. Murah kan.

Manfaat ketiga adalah memberikan variasi makanan yang bisa disesuaikan keinginan: ada nasinya, ada lauknya, ada kuahnya, ada sayurnya, ditambah desert buah-buahan. Semua dalam satu paket. Malah ditambah bonus kerupuk lagi. Di sini peranan si ibu atau istri bisa lebih jauh diperlihatkan dengan selalu menyediakan menu sayur dalam setiap hidangan.

Bekal makan siang ala Jepang

Manfaat keempat adalah nikmat – nah ini mah tergantung keahlian memasak istri atau ibu atau mbok pembantu. Tapi kalau kita sempat menyadarinya, segimana gak enaknya makanan istri atau ibu, akan terasa nikmat karena dia memasaknya pakai hati dan kasih sayang – halah (terus, kalo yang masaknya si mbok, apa berarti dapat kasih sayang si mbok? he… peace ah). Kalau tetap gak enak? Ya, komunikasi dong “Mah, kayaknya kurang garam deh sayurnya”, atau “Honey, pengen kawin lagi ya…, kok sayurnya keasinan”. Kalau tetap juga gak enak? Jangan pelit dong sebagai suami, ajak istri kursus memasak lah. Jika terlanjur pelit, ya kursus saja sama ibu atau ibu mertua.

Manfaat kelima adalah menu yang disajikan tidak berlebih dan tidak berkurang, alias cukup. Tentunya cukup karena menu yang disajikan disesuaikan dengan rakus tidaknya kita sebagai suami atau anak. Jikapun berlebih, besok harinya tentunya porsinya akan dikurangi. Ini juga memperlihatkan seberapa mengertinya istri kita terhadap kebiasaan makan suami. Dengan demikian, kita juga belajar untuk tidak berlebihan dan berhenti makan sebelum kenyang. Lebih jauh lagi, kita juga akan belajar berempati terhadap orang yang tidak berpunya dengan tidak banyak membuang sisa.

Manfaat keenam: segar natural. Membawa makanan dari rumah akan memaksa kita untuk minum seadanya, yaitu air putih, dan menghindari membeli minuman tambahan yang cenderung mempunyai zat tambahan – teh botol dengan gulanya, coke dengan sodanya bahkan minuman energy drink pun ada zat kimianya. Sedangkan es doger atau es podeng kesukaanku pun sudah mah memakai gula berwarna merah terang, es serutnya pun tidak dijamin bersih atau tidaknya. Sesederhana jus buah-buahan pun jika tidak teliti malah hilang fungsi dan zat gizi buahnya, tertelan manis gulanya. Sementara air putih? Insya Allah, banyak manfaatnya dan telah banyak dikupas.

Rantang jadul

Manfaat ketujuh yang up to date: ramah lingkungan. Dengan membawa bekal dari rumah, kita membiasakan diri memakai tempat makan yang dipakai berulang: rantang, misting atau tupperware dan menghindari penggunaan plastik.

Sekarang mari kita hitung apa yang bisa disaving dari membawa bekal vs memesan makanan lewat office boy. Beli gudeg, dibungkus kertas berlapis plastik. Pecel ayam dimasukin ke dalam box styrofoam. Bubur ayam pun demikian, malah sebelum ditaruh di atas styrofoam, diberi alas plastik. Bahkan untuk sambel, disediakan plastik tersendiri. Bagaimana dengan jus alpukat atau es doger yang juga disimpan di gelas plastik. Sesederhana aqua gelas pun ternyata pakai plastik. Jika kita membeli makanan minuman tersebut dari beberapa pedagang, maka otomatis tiap pedagang membungkusnya dengan plastik kresek. Padahal, sewaktu istri kita berbelanja sayur-sayuran pun sudah banyak plastik yang terpakai. Jadi kenapa kita harus kembali menambah limbah plastik yang tidak bisa terurai alam. Dengan membawa bekal dari rumah, setidaknya ada tujuh buah kantong plastik per hari yang kita hindari.

Nah, manfaat terakhir adalah sebuah image yang bagi seseorang akan dibanggakannya, namun tidak bagi yang lainnya: disayang istri.

Jadi, mari kita budayakan gerakan membawa bekal. Let’s bring our own lunch.

Cag, 10 November 2009

Rifki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s