Perjalanan Rohani Nostalgia

Ah, what a perfect condition to welcome Ramadhan, saat tepat untuk
berkunjung ke Bandung untuk bersilaturahim keluarga, bermaaf-maafan
sekalian nyekar. 

Kondisi yang bagus bagiku karena saya bisa menikmati nostalgia perjalanan
rohani waktu kecil dengan mengunjungi beberapa tempat yang menyimpan
kenangan terutama mengunjungi beberapa masjid yang mempunyai arti khusus
bagiku.

Mesjid pertama adalah Mesjid al Jamiaturrahmah di Jalan Denki RT 08
Cigereleng Bandung. Meskipun berada di RW sebelah, tetapi saya menghabiskan
waktu kecil ikutan solat di mesjid ini. Beruntung saya memiliki ayah yang
gairah keagamaannya kuat sehingga saya diajarkan sejak dini untuk ke
mesjid.

Al Jamiatul rahmah

Saya kunjungi mesjid ini pada malam pertama tarawih. Ada perasaan kecewa,
sedih dan senang berbaur menjadi satu. Sedih dan kecewa, karena harapan
untuk melihat mesjid yang akrab di mata sudah hilang. Senang, karena
ternyata di atasnya sedang terjadi perombakan total untuk menciptakan
mesjid yang lebih representatif, terdiri dari dua lantai.

Dahulu, mesjid itu hanya terdiri dari satu lantai, dengan mihrab dan kiblat
tegak lurus bangunan, padahal arah kiblatnya harusnya serong kanan. Tapi
saat itu hal demikian tidak menjadi masalah besar.

Dengan ruangan cukup besar untuk lingkungan bergang sempit itu, mesjid
cukup ramai dikunjungi umat. Saya masih ingat tiga orang imam masjid yang
selalu memimpin solat, dan semuanya sudah dipanggil Allah. Beliau-beliau
mempunyai karakteristik sendiri.

Yang pertama adalah ulama sepuh, Mama Haji Mahfudz Sidik. Ulama yang
karismatik dengan pengetahuan yang luar biasa. Jika tidak salah tiap malam
Selasa beliau memimpin kajian tafsir. Saya takjub dengan pengetahuan tafsir
Al Qur’an beliau, betul-betul di luar kepala, dengan pemaparan yang enak
dan mudah dimengerti, dengan terjemah kata per kata tapi dengan asbabun
nujul yang utuh dan menyeluruh. Kita saat itu tidak merasa seperti digurui,
tapi seperti diajak berkelana ke masa silam. Saat itu kita belum mengenal
ustadz nasional, seperti Quraish Shihab.

Dengan perawakan tinggi besar, dengan kulit yang berbercak putih hitam khas
orang tua sepuh, dan memakai sorban putih, orang tambah hormat kepada
beliau. Namun ada satu ciri khas lain yang membuat kita – anak-anak saat
itu – begitu menyukai beliau. Kebalikan dengan saat beliau memimpin solat
wajib, yang begitu khusu’ dan tertib, kita paling senang jika beliau
menjadi imam teraweh. Mungkin bisa ditebak kenapa?

Ya, karena jika imam terawehnya adalah Mama Haji, bisa dipastikan teraweh
akan cepat selesai, dan kita bisa pulang santai tanpa takut ketinggalan
film seri Oshin atau Sirkus di TVRI.

Ar Risalah

Jika teraweh dilakukan oleh imam lain, bisa dipastikan kita tidak khusu’
(eh, anak kecil juga bisa khusu’ loh), karena pandangan mata pasti
mengikuti jarum jam dinding yang ada di atas mihrab. Kalau jarum jam sudah
lewat dari jam 8.30an belum selesai juga, kita gelisah luar biasa
(pelajaran di sini: jangan pasang jam dinding di atas mihrab, mengganggu
konsentrasi). Antara marah, geremet, pengen nangis muncul barengan.
Solatnya jadi gak bisa diem. Persis cacing kepanasan. Namun saat itu, kita
– terutama saya – gak berani langsung kabur ninggalin teraweh. Di satu sisi
memang saya gak berani – pan Rifki mah dari dulu memang bageur he…he… –
tapi di sisi lain kita memang takut sama Mang Empad, yang punya warung
dekat mesjid sekaligus guru ngaji yang cukup galak terhadap anak-anak.

Memang pada saat teraweh, Mama Haji mengimami dengan cepat. Bisa
dibayangkan cepatnya, jika beliau membaca Al Fatihah dengan sekali nafas.
Meskipun solat dilakukan dua rakaat-dua rakaat, dan saat itu teraweh
umumnya 21 rakaat, shalat akan menjadi cepat jika tiap rakaat kedua beliau
membaca surat al Baqarah satu ayat saja: Alif Lam Mim. Betul-betul satu
ayat itu. Mungkin itu sebabnya Mama Haji disebut imam kilat atau bahkan di
kalangan anak-anak disebut MS – singkatan Medal Sekarwangi (saat itu MS
adalah bis antar kota yang terkenal paling cepat meski terkesan
ugal-ugalan).

Imam kedua adalah Pak Haji Thohir, yang bertindak juga sebagai ketua DKM.
Beliau cukup galak menertibkan anak-anak yang ribut setiap kali teraweh.
Tapi kita harus menjaga sikap dengan beliau, karena di tangannya lah masa
depan kita. Maksudnya, di tanganyalah buku teraweh kita bisa
ditandatangani, kalau tidak mau nilai agama kita di rapot jelek. Untungnya
kadang beliau baik sekali, atau memang moodnya lagi baik, sehingga usaha
kita membujuk beliau untuk menandatangani teraweh seminggu berturut turut
ke depan berhasil.

Imam ketiga adalah Mang Toha. Dengan perawakan kecil, Mang Toha biasanya
bertindak sebagai imam cadangan. Beliau tidak terlalu intensif menjadi
imam. Tetapi beliau cukup disenangi karena biasanya beliau membaca
bacaan-bacaan pendek jika sedang mengimami. Istilah keren saya mah beliau
memahami psikologi ummat.

Yang paling membekas di hati dari Mang Toha adalah ceramahnya selalu
menggunakan bahasa Sunda yang halus dan berirama, mirip dengan puisi. Meski
beliau seorang pedagang, sense sastra Sunda rasanya sudah dia punyai.

Selain beliau bertiga, memang banyak imam-imam tamu lainnya, namun hanya
beliau bertiga yang banyak berseliweran di benak ketika saya mengunjungi
Mesjid al Jamiaturrahmah.

Selain mereka bertiga orang lain yang ada di benak adalah modin atau bilal
atau muadzin. Dia adalah Pak Juhana. Beliau adalah pedagang keliling. Pada
saat itu banyak pedagang yang hidupnya mengontrak tetapi taat beribadah.
Pak Juhana mudah dikenali, karena selain badannya tinggi, kulitnya terkena
penyakit albino, bercak besar putih kentara jelas.

Yang paling tidak bisa lepas dari ingatan saya sampai sekarang adalah jika
beliau mengumandangkan adzan. Begitu syahdu, menyayat hati, terutama saat
melantunkan kebesaran Allah kedua kali: Allaaaahu Akbar. Ada getaran miris
di dada setiap kali terdengar adzan beliau.

Ya Allah mudah-mudahan mereka semua diterima di sisiMu.

Mesjid kedua yang dikunjungi, pada waktu Maghrib adalah Mesjid Ar-Risalah,
yang berlokasi di RWku, RW 07, Cigereleng. Mesjid ini baru berdiri ketika
saya beranjak remaja sehingga intensitas kunjungan ke mesjid ini tidak
terlalu banyak, meskipun bekas kenangannya tetap masih ada. Di depan mesjid
ini biasanya setiap Lebaran, jam 8 pagi, semua warga berkumpul
bersilaturahim, mengular panjang, sehingga semua keluarga selesai
bersilaturahim seluruh RW pada satu saat saja. Satu orang yang ada di benak
saya jika melihat mesjid ini, yaitu Kang Dedi, anak muda, berusia lima-enam
tahunan di atas saya, yang sangat agamis, dan sering menjadi imam mesjid.

Mesjid Agung

Berbarengan dengan malam Jum’at, saya juga berkesempatan solat maghrib di
Mesjid Agung Bandung. Mesjid yang dulu sangat bangga saya datangi terutama
pada saat Lebaran. Di kala orang lain sholat Ied barengan di halaman
percetakan Armico, saya sengaja minta kakak atau siapa saja pergi solat ke
Mesjid Agung. Gak tahu kenapa, bangga saja.

Mesjid Agung sekarang sudah berubah. Berubah terutama karena lingkungan
sekeliling yang sangat berubah. Meskipun interior utama di bawah kubah
tidak berubah, tetap saja mesjid ini tidak seperti yang dulu. Kubah
sekarang tidak seanggun yang dulu – dan agak terkesan tidak seimbang.
Dilihat dari dalam, kubah tersebut tidak terkesan grand – gagah. Belum lagi
hilang lampu gantung berbentuk silinder yang sangat besar – yang menjadi
trademark Mesjid Agung, dan menjadi daya tarik utamanya. Memang sekarang
sudah ada tambahan menara atau minaret yang menyerupai minaret mesjid
Nabawi, tapi sepertinya minaretnya tidak proporsional ya.

Al Amanah

Sekarang, jalan di depan mesjid dan berada di bawah jembatan mesjid dahulu
sudah menjadi satu dengan mesjid – dan juga alun-alun. Dengan kondisi
mesjid seperti ini seharusnya Mesjid Agung terasa lebih megah. Tapi sayang,
penataan di sekeliling mesjid, terutama pedagang kaki lima, sangat
menjatuhkan kemegahan mesjid. Bahkan banyak pedagang berjualan di teras dan
koridor mesjid serta di halaman alum-alun.

Satu lagi yang hilang dari kawasan mesjid dan alun-alun, yaitu air mancur
tempat saya dan keluarga difoto seperti ini.

Mesjid keempat yang saya lihat, namun tidak sempat saya kunjungi adalah
Mesjid Al-Amanah di Jalan Mutiara. Tidak terlalu banyak cerita bSelain di
mesjid inilah saya mengucapkan ijab kabul dengan bapak mertuaku untuk
menikahi puterinya. Cerita lucu justru banyak menghiasi kehidupan istriku –
karena inilah mesjid paling dekat dengan rumah mertuaku tempat istriku
tumbuh besar. Salah satu cerita lucunya adalah ketika dia dimarahin Pak
Emed, takmir mesjid, ketika istriku bercanda sewaktu terawah masa kecil
dengan menaruh bala-bala di tempat sujud orang.

Al Mujahidin

Mesjid terakhir adalah yang sekarang sering saya kunjungi saat Jumatan jika
saya ke Bandung. Mesjid Mujahidin Jalan Sancang Bandung. Saya nikmati
Jumatan di sini karena saya juga suka interior mesjidnya yang sederhana
namun lain.

Alhamdulillah, mudah-mudahan mesjid dan aktivitasnya tetap mewarnai
kehidupanku sekarang dan masa datang.

Cag, hari kedua puasa, 14:10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s