Apakah modernitas telah menggerus kearifan

Waktu Lebaran terakhir, saya sempat mengunjungi bibi yang tinggal di pinggiran Bandung, agak ke bukit. Sewaktu saya permisi ke toilet, saya jadi bernostalgia sewaktu melihat di kamar mandi masih ada sumur, katrol dan ember untuk mengambil air (nimba). Saya lalu merenung, kalau dipikir-pikir, jaman dulu, sebelum modernitas datang, alam kayaknya memberi kearifan dalam mendidik manusia untuk peka lingkungan.

Coba kita lihat sumur. Tanah digali beberapa meter ke bawah, sampai ketemu rembesan air tanah, berkumpul menjadi satu dan memenuhi lubang yang kemudian dipagari dinding bata, biar orang tidak jatuh. Dari permukaan air di sumur saja kita bisa tahu akan apa yang terjadi. Jika sedang musim penghujan, air penuh. Jika muka air jatuh ke bawah, kita berteriak ke kampung, kemarau akan datang, dan siap-siap kerja bakti menampung air.

Sumur juga mengajarkan atau memaksa semua penghuni rumah untuk berolahraga rutin, setidaknya mengencankan biseps, perut dan kaki. Dan kegiatan tersebut dilakukan umumnya tiga kali sehari, pagi, siang dan malam. Jika dilakukan jika ada keramaian, dan saking semangat dan capeknya, selain membakar kalori, juga bagus sebagai aerobic.

Jaman tambah maju, sumur begitu – yang bahkan sudah ada sejak jaman Nabi Yusuf yang dibuang saudaranya ke sumur – kemudian berganti menjadi sumur pompa. Kearifan alam dalam memberikan sinyal menjadi lumayan berkurang karena manusia jadi mengandalkan informasi dari pompa – dalam bentuk pompanya menjadi ringan – dan feeling jika air tanah menyusut. Efek ke tubuh sedikit berkurang, karena energi yang dikerahkan untuk memompa tidaklah sebesar energi menimba.

Kemudian datanglah mesin, hilanglah segala petunjuk dan hikmah alam. Tidak ada tenaga yang dikeluarkan tubuh, semua berganti mesin. Peringatan kekeringan mucul dalam bentuk bunyi mesin yang kosong. Dan umumnya itu sudah terlambat.

Modernitas umumnya berhubungan dengan memberi kenyamanan terhadap manusia dengan memanfaatkan hasil teknologi. Contoh lain modernitas mengikis kearifan manusia terhadap alam, adalah berupa jalan raya.

Dahulu, jalan raya dengan tanah dasar cukup hanya diperkeras, pinggirannya dibentuk huruf V dan ditanami rumput, sehingga jika terjadi hujan, air selain yang mengalir, sebagian pun diserap tanah.

Dengan adanya mobil, dan untuk kenyamanan, dipakailah teknologi pengaspalan dan sekarang yang sedang populer: beton. Jadilah hampir semua air yang jatuh mengalir ke selokan, dan hanya sedikit yang diserap tanah. Bergabunglah air dengan volume besar dengan sampah-sampah memenuhi got yang sudah penuh dengan sedimentasi tanah. Banjirlah kota, menderitalah manusia yang tinggal di dataran rendah. Itulah harga sebuah kenyamanan.

Kenyamanan jugalah yang disediakan sebuah supermarket. Ruangan lapang, udara sejuk, pilihan banyak, tanpa bau apek. Belanja sesuka hati. Tapi adakah perlakuan sebagai manusia yang bersosial. Bahkan omongan yang terjadi hanya berupa perintah bos kepada jongos: ‘Timbang dong’. Atau perlakuan orang dewasa yang menganggap kita sebagai anak-anak dengan pengembalian beberapa permen.

Bandingkan dengan jaman dahulu, yang sedikit banyak memberi beberapa kearifan. Diawali dengan tegur sapa: ‘mau beli apa Bu’, atau bahkan dengan bahasa lebih akrab dan memanusian kita sebagai manusia: ‘ke mana saja, jarang belanja. Sakit ya?’. Lalu diteruskan dengan praktek komunikasi marketing: tawar menawar, yang bahkan diselingi guyonan dan tertawa namun dengan bahasa dalam tataran wajar: ‘kalau ditawar segitu mah, rugi bandar atuh’. Keahlian tawar menawar juga bisa memperlihatkan kejujuran, baik dalam mengajukan harga ataupun menawar.

Memang sepintas banyak ketidaknyamanan. Bau dan bechek – sudah hujhan gak ada ocjhec. Tapi, buankah itu melatih badan untuk tahan dari penyakit, seperti halnya orang sehat diberi penyakit – dalam bentuk vaksin.

Bahkan di jaman dulu sebelum ada televisi, hiburan sehari-hari adalah mengobrol dengan tetangga – bersosialisasi, termasuk kebiasaan negatif bergosip. Tapi itu hanya muatan lokal, menggosipkan mbok jamu yang mau kawin sama abang tukang kelontong yang kadang sehari usai. Bandingkan dengan gosip jaman sekarang terhadap orang yang tidak ada hubungannya dengan kita, bukan tetangga, tidak kenal dengan kita, namun begitu diumbar dan diulang terus seantero nusantar – dan anehnya membuat mereka bangga.

Apakah hal ini menunjukan bahwa modernitas, yang notabene diperuntukkan bagi kenyamanan manusia, telah menggerus, mereduksi dan menegasikan sebuah kearifan? Apakah modernitas dalam sisi ini telah mengecilkan arti seorang manusia – atau anti-memanusiakan manusia?

Entahlah. Sebagai manusia, kita berharap masih ada kearifan untuk melihat modernitas dari sisi yang lain yang justru lebih memanusiakan kita sebagai manusia.

Cag, 7 Jan 2010 19:30 kereta Ciujung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s