Ceu Titi dan sebuah hikmah kehidupan

Perjalanan hidup seseorang kadangkala menarik untuk disimak. Ada yang menyimaknya sebagai sebuah hiburan, bak menonton infotainment, atau menyimaknya untuk mengambil hikmah dan pelajaran yang terselip di dalamnya. Itulah sebenarnya yang harus kita lakukan, dan saya coba lakukan dalam melihat sekilas kehidupan Ceu Titi.

Ceu Titi adalah perias pengantin yang terkenal di lingkunganku saat itu. Jadwal meriasnya padat, terutama pada bulan kawinan. Selain usaha rias pengantin, usaha salon dan busana adatnya pun – yang dikembangkan bersama suaminya, Kang Cecep, laku. Demikian juga dengan wartelnya.

Namun suatu ketika, terjadi perubahan drastis. Seperti roda, kadang berada di atas, kadang berada di bawah. Usaha yang sedang begitu majunya, tiba-tiba ambruk. Hanya satu dua orang saja yang datang ke salonnya, demikian pula dengan wartelnya. Selidik demi selidik, ternyata hal itu disebabkan karena ada gangguan di kesadarannya. Dia tidak tahu dan mengerti apa yang dilakukannya, bahkan pada saat dia memotong rambut langganan, tahu-tahu ujung gunting sudah ada di leher langganannya. Ya, beberapa simpul syarafnya terganggu.

Berita buruk yang menyebar cepat, sangat efektif meruntuhkan pilar-pilar kesuksesan yang dibangun di atas keringat mengucur. Dan berita buruk yang telah dikonfirmasikan, akan menambah cepat keambrukan tersebut. Apalagi setelah diketahui bahwa takdirNya menimpa Ceu Titi setelah beliau melakukan kelalaian fatal, menabrak anak kecil sampai meninggal.

Saat itu katanya, beliau sedang memarkir mundur mobilnya. Entah karena melamun, terlalu banyak pikiran atau apalah, dia tidak melihat ada anak kecil di belakang mobil itu. Jadilah anak itu tertabrak dan meninggal. Yang lebih menyedihkan lagi, Ceu Titi tidak tahu ada anak yang tertabrak dan berada di kolong mobilnya. Dia dengan santai kemudian duduk di belakang kemudi dan membaca koran, sampai terdengar teriakan-teriakan di luar.

Bisa dibayangkan terpukulnya Ceu Titi. Bagaimanapun Ceu Titi juga seorang ibu. Dia terguncang. Apalagi setelah mengetahui bahwa anak yang meninggal itu adalah anak satu-satunya – semata wayangnya – dari seorang Bapak, yang bertahun-tahun tidak dikarunia seorang anakpun, sampai dengan akhirnya mendapatkan anak setelah menikah lagi – itupun setelah disuruh istri pertamanya.

Tekanan bathin yang demikian besar, mungkin menjadi sebab simpul saraf Ceu Titi terganggu. Padahal orangtua si anak sudah mengikhlaskannya, sehingga tidak ada tuntutan hukum.

Belum lepas satu tekanan, datang juga tekanan lain. Kali ini dari anaknya sendiri: menghamili anak orang. Seorang ibu tentunya akan sangat bersedih jika melihat anak laki-lakinya melakukan perbuatan zina. Sedih bercampur dengan kecewa, marah dan malu bercampur menjadi satu. Apalagi untuk Ceu Titi, yang disegani di lingkungan RT.

Dan melengkapi penderitaannya adalah jatuh sakitnya Kang Cecep terkena stroke yang membuat dia tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Kekayaan datangnya dari Allah, dan jika Dia menghendaki akan Dia ambil dengan mudahnya. Kun fayakun.

Ternyata apa yang terjadi pasti ada asal muasalnya, bak tak kan ada asap jika tak ada api. Muara segala kejadian yang menimpa Ceu Titi adalah beberapa saat sebelum awal peristiwa beruntun itu muncul dan dilihat dari sejarahnya Ceu Titi itu sendiri.

Ceu Titi berasal dari keluarga cukup berada. Dia anak perempuan satu-satunya, dengan dua orang saudara laki-lakinya. Sebagai anak tercantik, wajarlah jika orang tuanya begitu menyayanginya, lebih dari anak-anaknya yang lain.

Menurut informasi – wallahu ‘alam – saat itu Ceu Titi kedatangan tamu, seorang ibu beranjak tua. Di rumahnya, dia menerima tamu itu. Tidak seperti ibunya, perempuan itu berdandan seadanya, bersahaja. Dia sudah tahu siapa perempuan itu, namun entah apa yang dia katakannya kepada perempuan itu, perempuan itu sepertinya begitu kecewa. Satu versi cerita berkata bahwa saat itu Ceu Titi mengusir perempuan itu karena malu. Versi lain bercerita jika Ceu Titi tidak bermuka manis – menjuteki (kalau ada istilah itu) terhadap perempuan itu. Tetapi, sepertinya apapun yang Ceu Titi lakukan saat itu, sudah menyebabkan air mata jatuh dari perempuan itu, dan tercipta pula sebuah luka di hatinya. Padahal perempuan itu tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri.

Ya, Ceu Titi dilahirkan oleh perempuan sederhana itu. Dikarenakan kemiskinan, akhirnya Ceu Titi diasuh oleh kerabat jauhnya yang tidak mempunyai anak. Sejalan dengan waktu, ibu asuhnya kemudian dikaruniai dua orang anak laki-laki. Tetapi kasih sayangnya terhadap Ceu Titi melebihi kasih sayang kepada dua orang anak kandungnya. Dengan berjalannya waktu pula, sikap Ceu Titi terhadap ibu kandungnya – yang memang diberi tahu oleh ibu asuhnya siapa sebenarnya dia – berubah.

Itulah kejadian sebagai latar belakang apa yang menimpa Ceu Titi. Sikapnya terhadap ibu kandungnya seperi itu dipercaya banyak orang sebagai dasar atas kemalangan-kemalangan yang terjadi. Wallahu alam.

Cerita di atas rasanya mirip dengan cerita rakyat Malin Kundang. Dan peristiwa seperti itu pula yang banyak terjadi di sekeliling kita: durhaka terhadap ibu, balasannya langsung di dunia, tidak ditunda.

Lalu ingatan terlempar ke masa dua puluh tahun lalu, saat saya berada di depan kios kelontong A-ten. Di sudut sebelah kiri duduk ibu-ibu pengemis buta yang renta. Jauh di sebelah kanan, seorang anak muda gila dengan baju compang-camping dengan asyik tertawa. Mereka adalah ibu dan anak yang tersiksa oleh perkataan dan tingkah lakunya. Menurut cerita, si ibu demikian kecewa kepada anaknya sampai mengeluarkan kata (sunda: supata): ‘saya ikhlas jadi pengemis buta asal kamu jadi gila’. Astaghfirullahaladzim.

Demikian pula dengan peristiwa yang menimpa seorang kerabat, yang gagal dalam kehidupan, jatuh lagi dan jatuh lagi bisnisnya. Masalah tidak henti-hentinya menimpa. Dan tahukah kita, bahwa mungkin segalanya terjadi karena ibunya meneteskan air mata duka, kecewa.

Itulah kawan, jagalah orang tua kita, terutama ibumu. Rasulullah mengajarkan kita untuk berbakti dan berbuat baik kepada ibumu kemudian ibumu sekali lagi ibumu kemudian bapakmu kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat. Janganlah kita membuat orang tua menangis karena kecewa karena setitik air matanya adalah doa. Bahkan jelas Allah bersabda untuk mengasihi orang tuamu di masa tuanya, dan bahkan sampai detail untuk jangan berkata ‘Ah’…’.

Kawan. Marilah kita coba maknai cerita di atas. Jika kita merasa ada sesuatu yang terjadi sehingga merasa hanya kegagalan dan kegagalan yang ada dalam hidup ini, berkacalah pada diri. Mungkinkah suatu saat dulu kita pernah mengecewakan ibu kita? Apakah ibu kita pernah merasa sakit di hatinya akibat sebuah tindakan atau pernyataan kita? Ataukah tanpa sadar kita pernah membuatnya menangis sedih dan kecewa?

Jangan tunggu Lebaran datang. Ambil telepon sekarang, dan bicara dengan ibumu: ‘Mam, maafkan aku anakmu. Sepanjang hidupku mungkin aku pernah membuatmu kecewa, membuat hatimu menangis, membuat air matamu menetes. Sungguh Mam, aku sadar kasih sayangmu tulus. Dan aku harapkan kasihmu lagi untuk secara tulus memaafkanku’.

Ambil kunci mobilmu, dan kemudikan ke rumah ibumu yang kecil itu. Di tengah kesendiriannya, bersimpuhlah, menangislah dengan tulus. Meminta maaflah: ‘Bunda, aku anakmu yang tidak tahu diri, sekarang bersimpuh memohon maafmu. Besar kecil kesalahan pernah kubuat. Kuingin dengan besar hati kau maafkan anakmu ini’.

Kaget dan menangis mungkin adalah respon ibumu. Juga bangga, tatkala melihat kesungguhan anaknya memohon maaf, yang dirasakan lebih tulus dibandingkan dengan sungkeman ritual Lebaran.

Atau ambil air wudu, shalatlah dan berdoalah bagi ibumu yang sudah tidak mungkin diajak bicara lagi dan sudah tidak pada tempatnya dimintai ampunan, karena telah tiada: ‘Ya Ilahi, kesadaran diri datang terlambat. Umi sudah pergi, namun aku anaknya belum sempat melihat dia berurai mata bahagia. Aku belum sempat memohon maaf secara tulus darinya, dan aku sudah tidak punya kesempatan lagi. Tapi kuasaMu untuk melihat ketulusan makhlukMu ini Ya Allah. Maafkan kesalahanku terhadap ibuku, kecil besar, sengaja atau tidak. Limpahi rahmat ibuku dengan cahaya kasihmu, karena dia telah mengasihiku dengan tulus. Rabbi, ampunilah dosa kedua orang tuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku waktu kecil.’.

Ibu adalah bidadari kita, yang melakukan segala sesuatu tanpa pamrih. Buatlah dia menangis bahagia, karena itu adalah timbal balik yang mungkin dia inginkan.

Insya Allah.

Cag, 20-01-2010, jam 3.30pm KA Ciujung lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s