Diakah atau akukah yang gila ….

Di setiap lingkungan, kampung atau RT rasanya bisa didapatkan atau ditemui satu orang anak kecil, laki-laki yang termasuk golongan ABB – anak baik-baik. Hal itu terlihat dengan perangainya yang santun, bicaranya yang sopan, berpakaian sederhana, berbakti kepada orang tua dan saleh. 

Terhadap anak seperti itu, terdapat tiga respons. Pertama: senang dan bahagia, terutama buat ibu-ibu: ‘Ih, tuh anaknya Bu Dyah baik banget, sudah ganteng soleh lagi. Mudah-mudahan bisa jadi besanan’. Kedua: biasa saja, senang tapi dengan catatan, terutama diutarakan bapak-bapak: ‘Ya, sebagai cowok jangan terlalu baik lah. Agak sedikit jail kek, biar keliatan cowoknya’. Ketiga: negatif, terutama dari teman cowok seusianya: ‘Ah, elu mah banci. Gak pernah berantem, bolos. Anak mami, malah ke pasar. Cowok apaan itu?’

Terlihat jelas perbedaan pemahaman akan sebuah kebaikan, bahkan ketiga pendapat itu dikemukakan pada kurun yang sama. Apatah lagi jika dikemukakan pada kurun berbeda.

Jadi ingat tatkala Aristoteles suatu saat mengemukakan teori bahwa bumi itu datar seperti sebuah meja, di mana jika kita berjalan sampai ke tepinya, kita akan jatuh entah ke mana. Tidak akan pernah ada yang berpikir bahwa bumi itu bulat kan seperti yang dikemukakan Ptolemus di lain abad? Jika saat itu ada yang mengemukakan bahwa bumi itu bulat, orang banyak akan mengatakannya gila.

Bukankah itu yang terjadi tatkala keyakinan zaman Ptolemus bahwa bumi itu bulat dan pusat tata surya, dalam artian anggota tatasurya lainnya mengelilingi bumi – disebut geocentris – terbantahkan oleh teori heliocentrisnya Copernicus dan Galileo Galilei. Saat itu, pengusung dan pendukung Heliosentris dianggap gila dan bahkan dibunuh.

Bukankah itu – anggapan gila – yang mungkin terjadi jika pada jaman Copernicus ada yang mengatakan bahwa alam semesta itu asalnya dari satu titik ekstrapadat tanpa dimensi yang kemudian meledak – big bang – yang menyebabkan tata surya terus mengembang, seperti teori yang dikemukakan Stephen Hawking dan sudah disetujui oleh para ahli astronomi dewasa ini.

Dan itu yang terjadi ketika seorang manusia yang tidak bisa membaca dan buta pengetahuan berkata 1400 tahun lalu tentang apa yang sekarang Stephen Hawkings dkk kemukakan: ‘..Apakah orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya…’. Dan itu yang terjadi, dia kemudian dianggap gila.

Apakah juga kita akan menganggap orang ini gila dan menyepelekan apa yang kemudian dia khawatirkan sebelum dia meninggal: ‘Ummatiiii… Ummatiii…’ karena dia diberikan pengetahuan terhadap ummatnya kelak.

Apakah juga kita tetap ndableg tidak peduli terhadap perkataannya bahwa penghuni surgalah ummmatnya yang tidak sejaman dengannya tapi tetap mengikuti tuntunan dan sunnahnya.

Lalu, apakah kita tetap demikian santai dan tidak peduli dengan dia: Muhammad Rasulullah, kekasih Allah, pembawa obor dalam kegelapan manusia, dan pembawa petunjuk langsung dari Tuhannya, Tuhan kita?

Adakah kita mengenalnya? Sudahkah kita membaca riwayatnya. Dan itukah timbal balik atas kasih sayangnya membawa cahaya ke dalam kehidupan manusia? Bukankah di sini, justru terlihat bahkan kitalah yang gila dan tidak tahu diri?

Duh Gusti. Kenapa kita begitu tidak peduli dengan beliau. Di kala kita puji puja pemimpin kita, kita cuekkan beliau. Ketika kita mencari petunjuk kepada siapapun yang bisa, kita tidak menoleh buku petunjuk yang dia bawakan, langsung dari Yang Maha Perkasa dan Pemberi Petunjuk. Astaghfirullah, Ya Ghaffar.

Ya Allah, aku bershalawat kepada Rasulullah Muhammad, pembawa risalah kebenaran.

Gusti, aku tundukkan diri dan hatiku atas manusia unggulMu, Al Amin.

Ya Rabbi, rahmati aku dengan kesadaran untuk mengikuti jejaknya, termasuk menempatkan buku petunjuk yang dibawakannya, yaitu semua sabdaMu, sebagai acuanku.

Ya Malik, alangkah berbahagianya aku jika Kau beriku kesadaran akan pentingnya mengikuti Rasulmu dan Kitabmu, karena aku manusia biasa yang gampang terlena dengan dunia dan perangkatnya.

Ya Rahman, alangkah mustahilnya mengikuti tindakan RasulMu sebagai rahmatan lil alamin. Namun, ijinkan aku menjadi rahmatan bagi sekelilingku, terutama bagi keluargaku.

Allahumma shalli ala Muhammad, wa ala aali Muhammad.

Cag, 25 Februari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s