KoMing: dari investigasi KPK ke penegakan hukum ajaib: bicara ‘esensi’

Minggu ini intensitas saya menonton berita sudah jauh berkurang. Apatisme saya terhadap pemberitaan televisi, mulai dari gaya pemberitaan sampai dengan bahan berita, sudah tahap gawat kayaknya. Bagi saya, lebih mengasyikan nonton tenis ATP Master atau mengajak ngobrol bayiku yang baru berusia tiga bulan dibandingkan menonton berita.

Namun, saya tetap pembaca koran cukup setia, sehingga saya masih ter-up-date informasi. Dari koran pula saya melihat beberapa kejadian minggu ini yang mencuatkan satu kegusaran mengenai susahnya manusia Indonesia, dalam hal ini para penyelenggara negara, dalam mengartikan esensi atau makna dari suatu hal.

Coba kita tengok penelusuran kasus Century, di mana diributkan mengenai teknis mewawancarai Sri Mulyani dan Budiono, harus datang ke kantor KPK atau tetap di Wisma Wapres. Jika tidak diatur dalam undang-undang, apa sih esensinya mempermasalahkan remeh temeh seperti ini? Bukankah masih ada hal lain yang lebih penting digali dan diberitakan.

Hal ini sepertinya mirip dengan per’sidang’an politik Century di Senayan yang saya pikir esensinya tidak didapat. Bukankah pertanyaan mendasarnya adalah dana bailout Century itu dikemanakan, siapa yang mengkorupnya. Sementara yang terjadi adalah pendalaman hanya satu masalah, yaitu apakah kebijakan yang diambil adalah benar atau salah, padahal kebijakan yang diambil adalah kebijakan pemerintah yang diputuskan secara bersama pemerintah dan DPR.

Setidaknya satu koran yang kubaca – Koran Tempo – telah menyuguhkan informasi yang bagus pada salah satu edisinya minggu ini mengenai masalah Century dengan terstruktur, yaitu memilah mana kasus korupsi oleh pemilik sampai kasus kebijakan bailoutnya, lengkap dengan status hukumnya: siapa yang menjadi tersangka, terdakwa, terhukum dll. Berita seperti ini menurut saya berita yang bagus, esensi permasalahan bisa gampang dicerna, sehingga masyarakat disuguhkan dengan fakta yang ada dan tidak digiring ke satu arah dan satu opini saja.

Ketidakkonsentrasian kepada esensi suatu masalah juga terlihat jelas dari wawancara KPK dengan Budiono yang memakan waktu sampai enam jam, yang hanya memaparkan hal yang sama dan tanpa sesuatu yang baru. Alangkah sayang enam jam waktu yang sangat berharga seorang Wakil Presiden hanya untuk mendapatkan wawancara tanpa hasil. Bukankah di sini letaknya seseorang penyelidik yang handal dan berpengalaman bisa memutuskan dari beberapa menit atau satu jam pertama jika tidak ada sesuatu yang baru yang didapatkan? Bukankah wawancara enam jam tanpa hal baru bisa juga dilakukan anak SMA peserta debat hukum atau peserta magang jadi wartawan?

Kebingungan mencari esensi suatu masalah juga terlihat dari kasus cek pelawat pemulusan seorang sosialita (God, muak benar mendengar istilah ini) Miranda Gultom jadi Deputi Gubernur BI, dimana yang menerima suap sudah diproses tapi ajaib penyuapnya belum ketahuan juntrungannya. Sebuah dagelan maha hebat karena bukankah penerima suap pasti ber’nyanyi’ di persidangan dari mana uang itu berasal. Apalagi yang bernyanyi bukan solois, namun paduan suara.

Kebodohan – kalau boleh dibilang begitu – menangkap esensi masalah di ranah hukum mendapatkan legitimasi kuat dari kasus dua orang pemijat tuna netra yang dibui lima belas tahun karena ditemukan ganja di rumahnya. Sebuah ‘penegakan hukum ajaib’ kata Menteri Kehakiman, dilengkapi dengan alasannya: wong tukang pijat pasti ada orang keluar masuk, gampang orang menaruh ganja di sudut ruangan, lha mana bisa dilihat yang tuna netra. Anehnya hakim meminta tuna netra itu mengaku saja. Anehnya, juga, hukuman kedapatan 10 bungkus ganja adalah 15 tahun penjara yang jauh lebih berat dibanding seorang pengedar atau pemilik pabrik ekstasi yang dibekingi aparat. Silakan perhatikan juga kasus pemulung yang sedang disidang untuk kasus serupa – ‘dijebak untuk memenuhi quota prestasi pemberantasan narkoba’ begitu pikiran orang banyak, bagaimana vonis yang akan dijatuhkannya? Dari sini kita bisa melihat apakah aparat tahu esensi atau inti apa yang mereka kerjakan, ataukah mereka hanya memenuhi ‘pesanan’ atau ‘order’?

Di sinilah nurani berbicara. Nurani sebagai bahasa universal akan mengatakan yang benar adalah benar, meskipun kebenaran itu disalahkan begitu rupa. Dan juga nurani akan mengatakan yang salah adalah salah, meskipun kesalahan itu dibenarkan berjuta-juta orang. Karena nurani sejatinya adalah sifat Tuhan yang ingin ditanamkan kepada mahluknya. Sayangnya, nurani kita-kita, utamanya mereka yang di ‘atas’, yang asalnya bak kertas putih bersih, sudah tertutup bermacam-macam noda: noda suap, korupsi, ambisi liar, ingkar janji, pembohongan dan pembodohan dan perilaku negatif lainnya.

Mari kita berandai-andai suatu saat kita berkata: ‘Saya bangga sebagai bangsa Indonesia, dengan penegakan hukum yang adil-bersih-jujur dan pemerintahan yang benar’. Mudah-mudahan kita tidak akan mendengar jawaban orang atas harapan itu seperti ini: ‘Mimpi kali lu…’.

Cag ah, May Day 2010

Wujudkan esensi May Day dalam tindakan nyata. Mari menjadi pekerja (apakah itu disebut pegawai, staf, karyawan, eksekutifn direktur) yang profesional – sehingga semua pekerja layak disebut sebagai seorang profesional, dan berhati nurani. Maree…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s