Selebriti? Gak penting bangets… (in response to ciuman KD-Raul)

Jika diukur memakai indra peraba, perasa atau pengecap, apakah yang kau rasakan mendengar istilah ‘selebriti’ itu? Manis? Asem? Pahit? Harum? Bau? Atau mungkin jawabannya adalah campur rasa, nano-nano. Namun sekarang jika diperhatikan dari kacamata nalar, kata selebriti sepertinya berasa pahit. Pahit bukan bagi selebriti itu sendiri, tetapi pahit buat masyarakat.

Sebenarnya siapa sih selebriti itu? Merekalah artis, pesinetron, atlet, politikus pokoknya mereka-mereka yang tersohor (bukan hanya ‘terkenal’), dan tindak tanduknya diketahui orang, atau kadang diikuti orang. Mereka juga dikenal dengan nama ‘public figure’. Lalu, apa sih pentingnya selebriti bagi kehidupan masyarakat? Apa juga dampaknya bagi orang lain?

‘Oh pasti. Tentunya penting dong. Makanya disebut selebriti’. Ya, ‘Penting’ bagi kehidupan masyarakat, tentunya datang dari selebriti yang tingkah lakunya terpuji dan mendatangkan manfaat bagi khalayak. Orang Islam mengenalnya sebagai seseorang pembawa kebahagiaan atau rahmat bagi sekitarnya. Penganut agama lain mengenalnya sebagai seseorang penebar kasih. Itulah selebriti yang penting, meskipun mereka mungkin bukan seorang agamawan.

Namun itukah selebriti yang sedang ada di benak kita? Mohon maaf, jawabannya rasanya tidak. Selebriti yang ada di benak kita adalah selebriti-selebriti yang kebanyakan hilir mudik di layar kaca, dengan membawa sejuta noda. Mari coba kita perinci dalam pemberitaan infotainment di televisi atau koran dalam satu hari saja:

  • Seorang biduan yang pernah menangis menyatakan tidak ada hubungannya dengan seorang pria beristri, dengan sadar kamera memperlihatkan kemesraannya dengan pria tersebut, bahkan headline koran merah berbunyi ‘ciuman panas ** dan ****.
  • Seorang biduan janda – kakaknya biduan tersebut di atas, secara bersamaan dengan pacarnya yang remaja keluar dari kamarnya masing-masing dengan wajah sangat ceria – sepertinya ingin menunjukkan kebahagiaan sebuah aktivitas luar biasa di malam hari. Bisa jadi mereka keluar dari kamar di rumah mereka masing-masing, namun disetkan seperti dari kamar yang sama.
  • Seorang – eh dua orang model cantik (atau mirip model), kedapatan berbuat senonoh (menurut mereka – yang sayangnya tidak senonoh menurut norma), dengan seorang penyanyi yang ‘cowok banget’ (katanya).
  • Seorang pesinetron yang tersangkut narkoba dan hamil tanpa tahu siapa suami – eh salah, penghamilinya (karena mengaku belum punya suami), menjadi ajang tebak-menebak siapa bapak bayi tersebut.
  • Seorang atlet dunia tersohor dan terkenal sebagai playboy akhirnya mengakui anak hasil hubungan intim semalam dengan pelacur kelas atas yang dilakukan di bawah pengaruh alkohol. Dan dia mengeluarkan duit jutaan untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa dia ‘bertanggung jawab’.
  • Seorang sosialita yang tidak mempunyai kelebihan apa-apa, selain kaya, bersiap-siap memasuki penjara karena kedapatan membawa narkoba
  • Dua orang ‘dewi’ semlohei yang ditarik sang ‘dewa’ diberitakan bersaing merebut simpati sang ‘raja’, padahal awalnya mereka berteman biasa.
  • Apa yang bisa didapat dari berita selebriti seperti itu? Adakah nilai positif dari berita seperti itu? Sebentar. Apakah perilaku selebriti seperti itu cocok dijadikan sebuah berita? Jikapun cocok, kenapa juga ditayangkan bukan seperti sebuah berita? Bukankah hal seperti itu sekarang sudah menjadi komoditi? Namun sebagai komoditi, apanya yang dijual? Jika jawabannya TIDAK, lalu mengapa kita tetap menontonnya?

    Ya pastilah ada maksudnya, tidak mungkin berita tidak ada intinya. Begitu mungkin jawabannya. Lalu, apa maksudnya, apa intinya? Adakah inti hal itu sebagai peringatan bahwa perilaku selebriti tersebut tidak sesuai dengan norma sosial? Jika ada, silakan sebutkan dan bandingkan porsi beritanya dengan berita dukungan teman-teman selebriti tersebut di rumah tahanan. Apakah pesan yang sampai di masyarakat adalah bahwa perilaku selebriti tersebut adalah salah, atau justru kebalikannya: perilaku itu harus didukung?

    Ah, lha yang gini saja kok direpotin. Santai saja lagi. Lumayan kan, hiburan.

    Oh. Itukah yang terjadi, di kala masyarakat telah berhasil digiring kepada kekinian (sebagai sinonim modernitas) tanpa batas? Sebuah cerita yang menjadi berita yang tidak ada artinya, sangat ditunggu hanya karena menghibur? Jika itu terjadi, membicarakan orang, terutama membicarakan aib orang, sekarang sudah menjadi sebuah pertunjukan hiburan. Itulah esensi gossip, bukan? Ada aib selebriti, kita tonton, kita terhibur, kita bicarakan, kita tertawa. Selebriti adem ayem, kita merana. Jadi bingung mencari bedanya gosip dengan dengki, ketika keduanya berarti ‘sebuah rasa gembira jika orang lain menderita, dan sedih jika orang lain bergembira’.

    Di jaman kebalikan ini (meminjam istilahnya Spongebob), semua saluran televisi berlomba menyemaikan ‘kedengkian’ tersamar itu, berupa tayangan gosip. Kebalikan dari tuntunan norma yang menekankan manusia menutup aib saudaranya, tayangan tersaji justru mengumbar, membuka sekaligus menelanjangi aib selebriti. Di saat manusia harusnya malu bergosip, di jaman kebalikan mereka justru berlomba-lomba menyatakan diri sebagai Ratu atau Raja atau Banci Gosip. Di jaman kebalikanlah kita menemui kalimat ‘Jangan was-was ketinggalan berita selebriti …’. Was-was karena ketinggalan berita selebriti? Hmmm….

    Sayangnya di jaman kebalikan ini tidak ada ahli ekonomi yang mengulas, berapa juta dolarkah kerugian sebuah negara karena masyarakatnya memilih mengorbankan produktivitas waktunya untuk menonton hal yang tidak berarti dan sia-sia, dua tiga jam sehari. Apatah lagi kerugian moral dan kekhawatiran kehilangan generasi masa depan.

    Itulah jaman kekinian tanpa batas. Sejatinya segimana majunya kehidupan, masih dibutuhkan sebuah norma, karena dengan sebuah norma akan didapatkanlah ‘arti’ dan ‘arah’. Entah norma itu disebut agama (seperti yang saya pahami dan terwujud sebagai akhlak), atau sebagai sebuah tradisi dan adat (seperti jelas diperlihatkan orang Jepang pada hal-hal tertentu).

    Apakah ini bisa diartikan Yahudi telah berhasil menanamkan pengaruhnya lewat media, seperti beberapa golongan mempercayainya? Ataukah keberhasilan Barat menaklukkan Timur – mengambil inspirasi dari tesisnya Samuel Huntington, Benturan Peradaban? Jawabannya sudah hampir pasti akan diperdebatkan. Satu yang hampir pasti adalah itulah usaha musuh manusia nomor satu: setan. Karena bukankah usahanyalah yang salah akan mengasyikan, yang kotor akan mengindahkan, yang dosa seakan berpahala. Dan sebagian selebriti sepertinya berlaku seperti itu, sehingga menenggelamkan selebriti lainnya yang bersusah payah menjadi panutan.

    Selama selebriti berlaku negatif seperti di atas, yang saya inginkan respons masyarakat terhadap selebriti adalah: ‘Selebriti? Gak penting bangets!!!’ Dan matikan televisi pada saat acara begitu. Saya percaya kita bisa lakukan itu. Lebih bagus kita hapus dua kata terdepan, menjadi: ‘Kita bisa lakukan itu’.

    Cag, 22 Juli 2010

    Di jaman keemasan teknologi dan informasi ini, dalam satu hal sepertinya kita kembali ke jaman kegelapan. Di jaman yang serba pintar ini, terasa kita kembali ke jaman kebodohan – jahiliyah. Karenanya benar adanya bahwa tidak akan selamat mereka yang mengacu pada panduan buatan manusia. Mereka yang selamat adalah mereka yang berpegah teguh pada panduan Tuhannya, pemiliknya. Subhanallah

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

    w

    Connecting to %s