Band of brothers (and sisters)

Aku ditakdirkan lahir ke bumi ini sebagai anak buncit, penutup atau pamungkas. Lahir sebagai anak ke delapan dari delapan bersaudara, aku kemudian besar menyandang predikat si bungsu. Banyak yang bilang jika seorang bungsu itu enak, dimanja kakak-kakaknya. Tidak salah, tapi tidak harus begitu. Karena ada juga istilah Sunda ‘bungsu bangcehot kabagean susu peot’. Namun mungkin benar jika saya dimanja, tetapi saya lebih suka memakai kata ‘diperhatikan’.

Perhatian itu jugalah yang saya dapatkan dari saudaraku. Satu contoh yang sangat kukenang dan tidak pernah kulupa adalah di saat akhir SMA. Saat itu saya tidak berpikir terlalu jauh untuk masuk perguruan tinggi, kuliah. Keinginan sih pastinya sangat tinggi, dan itu ada di dadaku. Namun pengharapanku aku cukupkan berada di bawah saja, karena aku sadar bahwa tidak ada darah sarjana di keluargaku. Tidak ada sarjana di level kakekku dan ayahku, juga tidak kakak-kakakku. Mereka hanya berijasah SMA, STM atau SMEA dan hanya cukup bercita-cita menjadi pegawai negeri. Namun, tetap saja saya ikut Sipenmaru – UMPTN, hanya dengan satu alasan: ingin menjajal sampai sejauh mana saya bisa berjalan dan berjuang. Sampai akhirnya, Allah mengatur jalanku.

Aku diterima di ITB. Bayangkan, ITB man! ITB yang saat itu masih menyandang gengsi perguruan tinggi terbaik – mudah-mudahan kini juga masih terbaik. Rasa gembira pastilah menyelimutiku, meski di sisi lain saya sama sekali tidak ada bayangan kehidupan bagaimanakah kuliah itu. Saya juga tidak tahu ternyata kuliah itu berpindah-pindah kelas tergantung pelajarannya (ups, maksudnya mata kuliahnya).

Kegembiraan itu cukuplah di awal saja. Lalu dimulailah realitas yang membutuhkan pemikiran: uang biaya kuliah. Dari mana saya harus membiayai kuliah? Papap sudah pensiun, dengan gaji pegawai negeri golongan menengah – yang jujur (berbeda kan penghasilan PNS yang jujur dan tidak). Kerabat jauh atau dekat tidak ada yang kaya dan bisa membiayai – lha kondisinya juga sama. Beasiswa? Mana kutahu jika ada beasiswa. Bagaimana caranya dan siapa yang berhak menerimanya? Kalaupun tahu ada beasiswa, mana bisa saya – anak PNS tidak terkenal, bisa mendapatkannya? Terbukti beberapa kali pengajuan beasiswa tetap saja gagal, sementara anak ‘seseorang dari golongan terakui’ bahkan bisa mendapatkan dua jenis beasiswa sekaligus. Protes? Yah, buat apa menghabiskan tenaga dan melatih emosi negatif. But, life must goes on kan?

then 2 – alun-alun, 1974an

Biaya memang menjadi ganjalan buatku, karena memang jumlah yang harus disediakan tiap semester cukup besar bagiku saat itu. Aku bukanlah orang miskin, kami hanyalah keluarga biasa seperti keluarga kebanyakan, yang berusaha mencukupi kehidupan dasarnya terpenuhi, dan lebih dari itu harus mengeluarkan usaha lebih.

Uang masuk kuliah dengan susah payah bapakku kumpulkan. Aku sendiri sayangnya tidak punya jiwa berbisnis – sama seperti kakak-kakakku dan orang tuaku, jadi tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu finansial. Karenanya, saya sendiri yang harus mengatur diri – membatasi keterlibatan terhadap aktivitas yang membutuhkan dana. Termasuk dalam hal ini mengikhlaskan diri diberi cap ‘non-himpunan’ dan ‘diculik’ para ‘boss’ dan ‘swasta’ beserta dengan berbagai variasi ‘verbal abuse’-nya karena tidak ikut dalam pekan orientasi study kampus (OS) – yang ujungnya tidak ikut sebagai anggota himpunan – yang ternyata membutuhkan dana yang makin lama makin besar bagi ukuranku. OS yang bagi rekan-rekanku menjadi sebuah sweet memory untuk dua puluh tahun selanjutnya, kuikhlaskan tidak kudapatkan memory itu.

Namun saat itulah kala saya menemukan jiwa-jiwa yang mau berkorban demi ikatan persaudaraan. Jiwa-jiwa dari mereka yang bertalian darah denganku – kakak-kakakku. Demi bisa membantuku, sebagai satu-satunya anggota keluarga yang bisa menuntut ilmu setingkat lebih tinggi: universitas, ternyata kakak-kakakku menunjukan dukungan yang nyata.

Tatkala saya bingung dengan dunia kuliah, seorang kakakku tanpa malu sibuk bertanya kepada teman-temannya yang beruntung bisa kuliah, tentang bagaimana kuliah itu, nomor ruangan yang ternyata tidak perlu dihapal, buku tulis yang ternyata berbentuk loose leaf dan lain-lain. Informasi itu kemudian disampaikan kepadaku.

Dalam soal dana atau biaya, saya kembali menemukan kasih sayang mereka yang wajar kepada adiknya. Mereka ternyata siap membantuku agar biaya kuliahnya bisa terlunasi. Mungkin itu sesuatu yang wajar bagi kebanyakan orang, tapi bagiku itu adalah sebuah pengorbanan yang hebat.

Masalahnya terletak pada kemampuan mereka yang minim. Mereka adalah pegawai negeri golongan kecil, pekerja restoran dan karyawan pabrik. Dengan beban hidup masing-masing, termasuk mereka yang sudah beranak istri, tentu akan dibutuhkan sebuah keinginan dan kehendak untuk membantu yang besar. Dan orang yang harus dibantu adalah si bungsu. Lalu apa yang mereka lakukan? Sangat sederhana, tetapi membutuhkan keikhlasan dan kekonsistenan: URUNAN.

Kembali mungkin itu sesuatu yang wajar bagi orang lain. Tapi berapa yang harus disisihkan? Tidak ada patokan, semua tergantung besarnya uang gaji yang tersisa, setelah dipakai kehidupan keluarganya sendiri. Kakak yang satu mungkin memberikan yang lebih banyak dari yang lain. Sekecil apapun urunan itu, itu adalah pengorbanan besar bagi mereka. Tahun delapan puluhan, nilai uang libu rupiah saja masih mempunyai nilai tinggi. Seribu dua ribu masih sangat berarti. Dengan lima ribu rupiah saja per kakak per bulan saja, bisa terkumpul tiga puluh ribu rupiah per bulan, dan dikali enam bulan, sudah bisa mencapai 180 ribu. Dan itu sudah cukup untuk biaya kuliah semesteran dan untuk alat tulis. Perkara perjalanan dari Cigereleng ke Ganesha yang menanjak? Alhamdulillah, sebuah sepeda yang sudah berusia beberapa tahun masih bisa menemani.

now – last year, seminggu sebelum wafatnya teh leni

Itulah keikhlasan sebuah persaudaraan. Tidak ada rasa persaingan yang satu lebih berandil dari yang lain, meski yang satu memberi biaya lebih dari yang lain. Itu semua kembali karena keikhlasan.

Namun andil yang paling berat adalah kekonsistenan, karena tanpa kekonsistenan, mustahil uang sebesar itu bisa terkumpul. Karena konsisten urunan itulah, Alhamdulillah sekolahku (dari dulu saya lebih suka menyebutnya ‘sekolah’ dibanding ‘kuliah’) bisa lancar sampai empat setengah tahun.

Itulah fungsi saudara bagiku. Ikatan persaudaraan yang sejati. Mungkin bisa dimaklumi saat itu jika ditanya ‘Apa keinginan atau cita-citamu?’, saya cukup menjawab ‘Ingin mengangkat harkat derajat keluarga, dan membikin bahagia’. Klise, tapi itulah yang terjadi karena apapun yang terjadi, andil keluarga sangat besar.

Ternyata Allah mengabulkan doaku, dengan memberiku kelancaran sehingga 4.5 tahun bisa menyelesaikan sarjana. Yang paling membuatku bahagia bukanlah IP-ku yang pas-pasan, atau aku merasa bangga bertoga. Aku sangat-sangat bahagia ketika melihat ayah-ibuku menangis bahagia. Akhirnya telur sudah pecah, dan ada satu orang dari keluargaku menjadi sarjana. Mereka bahagia dan kakak-kakakku pun – termasuk yang sepatu terbaiknya aku pinjam untuk wisuda – bahagia.

Belasan tahun peristiwa itu telah lewat, dan aku pun Alhamdulillah telah memetik satu demi satu keberhasilan hidup dari rizki Allah – meski dicapai dengan tertatih-tatih dan waktu panjang. Namun mudah-mudahan aku masih ingat andil besar keluargaku. Kinilah mungkin saatnya aku berbakti kepada orang tua dan kakak-kakakku. Karena kusadar ikatan persaudaraan (band of brothers) sangat berperan dalam hidupku, dan aku akan realisasikan hal itu sekarang dan membuktikan bahwa aku pun akan melakukan yang mereka lakukan dulu – mendukung keluarga dengan keikhlasan dan konsisten. Itulah hakikat ‘band of brothers (and sisters).

Terngiang mulut lucu ponakanku di kelas satu SD yang membuatku haru ‘Aldi mah pengen kayak Mang Kiki’. Haru dan bahagia, karena aku begini karena dukungan keluargaku – ‘termasuk ibumu, ponakanku’.

Cag, 26 October 2010

Alhamdulillah Ya Allah, aku diberi keluarga besar yang mendukungku. Balaslah kebaikan mereka dengan kebaikan pula, kebaikan dari sisiMu yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Dan kemarin, empat hari menjelang keberangkatanku ke tanah suci, kupeluk mereka erat satu demi satu, kumohon keikhlasan mereka lagi untuk memaafkanku, dan kuucapkan terima kasihku. Air mataku tumpah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s