Mbah Marijan: dari kontroversi juru kunci ke sujud kala mati

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun,

Berita yang ditunggu tentang keberadaan Mbah Marijan ternyata berakhir duka. Juru kunci Gunung Merapi – yang kemudian terkenal menjadi ikon iklan minuman energi, akhirnya ditemukan meninggal dunia di dapurnya, dengan posisi bersujud. Sebuah duka bahagia jika benar bahwa saat terakhir Mbah Marijan digunakan untuk bersujud kepada Khalik, pencipta dunia dan bukan kepada kuasa dunia lainnya. Insya Allah itu pertanda husnul khatimah. Doa pun harus kita haturkan untuk beberapa orang relawan yang ditemukan meninggal di sekitar rumah Mbah Marijan, yang mengorbankan jiwanya untuk menyelamatkan orang lain. Tugas mulia yang mudah-mudahan dicatat Allah dan diganjar pahala.

Di balik peristiwa meninggalnya Mbah Marijan ini, ada satu pertanyaan saya yang dari dulu sampai sekarang belum terjawab, atau ada jawaban tapi belum memuaskan. Apakah juru kunci itu? Di tataran manakah tempat juru kunci itu berada, tataran logika-normal ataukah tataran spiritual?

Wikipedia menyatakan bahwa juru kunci artinya ‘penjaga tempat-tempat keramat’. Artinya tugas juru kunci adalah ‘menjaga’. Lalu, menjaga dari apa? Mungkin menjaga gunung Merapi dari tindakan penggundulan hutan. Mungkin juga menjaga daerah sekitar gunung Merapi dari penggundulan akidah, asusila. Atau mungkin juga menjaganya secara spiritual. Wallah alam.

Yang masih mengganjal saya adalah kontroversi mengenai kekuasaannya untuk menolak dievakuasi dengan alasan tidak berbahaya. Memang itu adalah hak dia, tetapi rasanya ada sesuatu di balik keyakinan berlebihan dalam pandangannya. Sesuatu yang logis kan jika seorang makhluk harus bersiaga dalam menghadapi bencana. Satwa bersiaga dengan mengandalkan naluri atau insting. Dan kita sebagai manusia, yang instingnya sudah berkarat – tertelan godaan dunia, terpaksa harus mengandalkan ilmu dan teknologi. Dan selama ilmu dan teknologi itu dipergunakan untuk kemaslahatan umat, termasuk sebagai dasar evakuasi – yang kadang dianggap merepotkan dengan resiko kehilangan harta, selayaknya patut diikuti.

Namun agak membingungkan jadinya jika alasannya menolak dievakuasi adalah karena alasan spiritual. Jika spiritual itu dari sisi agama Islam, dari bagian mananya ya? Dan jika spiritual itu dari sisi spiritual Jawa sebagai abdi dalam, juga ada bagian yang kontradiktif? Karena seperti diberitakan sebuah media: ‘Bahkan Raja Kraton Ngayogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X sempat meminta dia untuk turun gunung. Namun yang bersangkutan tidak mau’.

Bagaimanapun, singkirkanlah segala kontroversi. Selamat jalan Mbah Marijan. Semoga kau dapatkan husnul khatimah dengan bersujud kepadaNya. Biarkan kami meneladani kebaikanmu saja, karena kau sebarkan kedamaian, toleransi dan amal terpuji seperti terkutip dalam berita ‘Selebriti gaek itu tidak menikmati uangnya sendiri, tapi dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat. Di daerah Kinahrejo, ia membangun masjid serta gereja. Warga di sana pun diminta beribadah sesuai keyakinan. Selain itu, Mbah Maridjan acap kali menyalurkan beras dan sembako kepada warga yang membutuhkan’. Untuk relawan yang meninggal dalam tugas, insya Allah, mati dalam tugas mulia adalah syahid. Kami yakin hatimu ikhlas menjadi relawan, dan keikhlasan itu menjadi penyelamatmu di akhirat kelak.

Cag, 27 Oktober 2010

Doa kami juga buat korban tsunami di Mentawai. Ketentuan Allah berlaku, dan mudah-mudahn ketentuan ini diikuti oleh ampunanNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s