Gonzales dan bakti pada negeri

Sehari setelah Gonzales melesakkan golnya yang indah ke jaring yang digawangi kiper Neil Etheridge di semifinal leg 2 AFF, di stasiun kereta Sudimara pagi itu saya mencuri dengar percakapan tukang ojek dan penjaga warung:
‘Hebat ya si Gonjales, baru jadi WNI beberapa hari saja, sudah bisa mengharumkan negara. Lha, kita? Bisa apa?’
‘Ya iya lah. Kita mah boro-boro mikirin itu, mikirin anak-bini makan besok aja susah’.

Ada rasa bangga mendengar hal itu, dibalik terenyuh mendengar penderitaan mereka. Selayaknya saya harus bangga mendengar seseorang dari kalangan bawah masih memiliki perasaan ‘kecewa’ atas tidak mampunya mereka mengharumkan nama bangsa. Itu kan berarti mereka masih memiliki kebanggaan sebagai seorang warga untuk memberikan sesuatu untuk negeri. Jika saja, andai saja mereka memiliki sesuatu yang bisa mereka andalkan, mungkin sekali mereka akan bisa mengharumkan nama bangsa, seperti halnya Gonzales atau Utina, karena satu modal sudah mereka punyai: patriotisme.

Namun sayangnya, tidak ada contoh terjadi dalam alam nyata di negara kita mengenai patriotisme selain hanya jargon di mulut. Mana bisa disebut patriotisme para konglomerat yang harusnya bisa memajukan negeri dengan kekayaannya, malah merusak negeri dengan kemplangan pajaknya? Di manakah patriotisme para pejabat pemerintahan yang harusnya membuat tata pemerintahan teratur, malah mengacaukannya dengan korupsi dan birokrasi berbelit? Bagaimana juga para anggota dewan terhormat, kira-kira apa yang bisa mereka banggakan sebagai bukti sumbangsihnya terhadap negeri? Bahkan pengurus bola dalam naungan PSSI-pun bisa digugat patriotismenya setelah menaikan harga tiket demi keuntungan semata – bahkan terjadi refund berhubung ada yang bisa beli tiket dengan harga tinggi.

Rasanya bisa dengan gampang dilihat kontradiksi patriotisme antara mereka-mereka yang seharusnya memberi contoh dengan patriotisme masyarakat biasa. Apa yang diberikan konglomerat, para pejabat, anggota dewan dan PSSI kepada negara? Bukankah sekarang ini lebih jelas melihat kebalikannya, apa yang telah negara berikan kepada mereka! Realitas di lapangan itulah memperlihatkan antitesisnya ucapan terkenal John F Kennedy: Jangan tanyakan apa yang negaramu berikan padamu, tapi apa yang bisa kau berikan pada negaramu.

Kawan,

Banggalah mereka yang masih memiliki hati yang jujur dan rasa cinta negara. Lakukan yang terbaik bagi bangsa, baik itu secara kentara seperti Gonzales atau hanya sesederhana berpartisipasi dalam ronda malam. Jadilah orang yang berkeinginan memberikan sesuatu bagi negara, bukan mereka yang mengharapkan sesuatu dari bangsa.

Stop korupsi, manipulasi dan segala bentuk penyelewengan. Suarakan keadilan. Lakukan kebaikan. Dan dukunglah timnas kita. Go! Go! Go! Ayo, Gonzales. Viva Indonesia.

Cag, menjelang leg pertama final.

Jadi tersenyum membaca status temanku: ‘Di forum lagi rame-rame, Irfan Bachdim ada yg klaim milik negeri jiran. dan saya hanya ber’doa smoga Nurdin Halid yg diklaim dan dinaturalisasi oleh mereka. bravo Tim Nas :)’. Boleh juga nih jadi contoh sikap bakti pada negeri, he…he…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s