Jualan ala kalong

Sejenak terbaca di media hari ini, menjelang akhir tahun banyak sekali pusat perbelanjaan yang mengadakan midnight sale. Ya, midnight sale atau istilah bebasnya ‘jualan tengah malam’. Ya, tengah malam, yang ternyata istilah ini sudah bukan milik makhluk-makhluk yang ditakuti lagi, dan bahkan bukan menjadi hal yang menakutkan atau mengerikan. Tengah malam yang juga ternyata bukan lagi privilage makhluk bernama kalong – kelelawar. Tengah malam yang juga tidak identik lagi dengan ronda dan siskamling. Lalu, kenapa tengah malam? Dan apa yang menarik?

Entahlah, sayangnya (atau untungnya) saya tidak pernah datang ke midnight sale. Mungkin sekali, cara midnight sale itu tepat karena berbagai faktor, terutama mungkin karena suasana tengah malam tidak terlalu ramai sehingga santai untuk bershopping, jalanan cukup lengang dan lancar, jadi bisa pergi dari rumah yang berjarak cukup jauh tanpa kena macet dan turun dari mobil wangi di baju masih tercium. (itupun dengan kesadaran yang terabaikan bahwa macetnya jalan pindah ke tempat parkir). Dan yang pasti, sekali lagi ‘katanya’ dan hanya saya konfirmasikan dari koran saja, diskon – potongan harganya itu loh yang gede. Setengah harga, beli satu dapat satu, beli dua dapat dua dan bonus, atau potongan 50% ditambah sekian persen pemegang kartu anu, tambah lagi sekian persen untuk member dan bla-bla-bla.

Sepertinya kaidah ekonomi sangat berlaku di sini. Mendapatkan untung sebesar-besarnya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya. Manusiawi sepertinya. Siapa sih manusia yang tidak tergiur keuntungan besar, yang bahkan dengan mengeluarkan uang yang sama mendapatkan barang dua kali lipat banyaknya. Apalagi jika kita mempunyai kartu kredit bersaput platinum. Wow, diskonnya makin banyak, man! (Lebih cocok aksen madam jinjing: ‘Wow, diskonnya makin banyak, Bo!’ qiqiqiqi). Padahal di balik itu tersembunyi beban ekonomi yang cukup berat – imbas dari konsumerisme itu sendiri.

Bahkan saya pun sebenarnya tertarik dengan midnight sale itu – apalagi jiga menyangkut barang elektronik, buku atau gadget. Namun semuanya terhalang tiga hal.
Pertama: rumah saya jauh dari pusat kota – dan ini berkah bagi saya sehingga jika ada godaan diskon besar, saya masih perlu berpikir untuk pergi ke tempat itu. Jauh.
Kedua: saya sedang belajar memprioritaskan sesuatu itu penting dibeli atau tidak. Saya belajar dari beberapa kesalahan besar, di kala ada diskon besar langsung beli barang yang menarik perhatian saya saat itu, meski barang itu sama sekali tidak dibutuhkan. Dan ternyata akhirnya mubazir.
Ketiga: gimana mau ke midnight bazar, lha wong saya orangnya jago tidur. Karena saya bukan anggota ‘Begadang Jaya’ itulah, makanya jika jam tidur terlewati akan berefek dua penyakit: pusing atau amnesia – eh insomnia, sulit tidur malam itu dan satu dua malam selanjutnya.

Lagipula bukankah logikanya malam adalah buat tidur dan berhenti dari aktivitas. Dan bahkan Allah pun memberikan rahmatnya dalam malam, seperti tercantum dalam firmanNya: ‘Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha’ (QS 25:47). Dan bukankah Rasul mencontohkan untuk tidur di dua pertiga malam dan bangun bertahajud di sepertiga malam? Apalagi banyak orang soleh merasakan bercengkrama dan berkomunikasi dengan Rab-nya di keheningan malam.

Jadi. Mau ber-midnight sale atau tidur? Ya, up to you lah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s