Ganteng kesiangan: don’t judge a face by its cover

Suatu saat, di lift turun dr kantor, saya bersebelahan dengan anak muda, cowok, gak terlalu tinggi. Seketika saya tersenyum. Bukan tersenyum kepada dia – emang gue cowok apaan, wkwkwk, tapi senyum pada diri sendiri. Apa pasal? Rambutnya itu loh, mengingatkan pada diri sendiri beberapa puluh tahun lalu: BF – Beulah Finggir.

Sesampainya di rumah, langsung kubuka komputer, dan kulihat satu-satu foto wajah close-up diri dari sejak bayi sampai sekarang sampai saya temukan fotoku dengan rambut BF. Saya tersenyum, ternyata saya demikian culun. Saya juga tersenyum melihat wajah saya, dari satu usia ke usia selanjutnya. Wajah yang biasa-biasa saja. Sangat biasa bagi diri saya. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada sesuatu yang bisa dengan bahagia dibanggakan. Tahi lalat dekat bibir yang banyak dijuluki seperti Pak Idrus (pembawa acara TVRI) pun hanyalah penanda yang orang kenal.

Satu demi satu foto itu saya lihat, saya ingat bahwa saat itu tidak ada kebanggaan saya terhadap wajahku. Biasa saja. Tapi, jika sekarang saya lihat, kok ya rasanya saya itu gak jelek-jelek amat – qiqiqi. Memang waktu SMP-SMA saya culun banget, tapi kok sekarang saya lihat ya wajar ya, wajah pas-pasan. Saya liat transformasi wajah saat lulus kuliah sampai bekerja. Hmm…, not bad, not bad ternyata. Kadang kegeeran sendiri ‘ganteng juga saya’. Padahal suwer, saat itu mah boro-boro geer, minder aja yang ada. Dan saat itu ditambah parah dengan tidak adanya orang yang bilang jika saya ganteng. Ckckckck.

Saya jadi menghela saat saya sadar, kok ya bisa saya masih merasa kurang pede. Biasa saja lagi, buktinya sekarang saya sendiri yang cukup bangga dengan diri. Bahkan saya jadi malu hati, lha yang menjudge fisik kita dari luar adalah orang lain, jadi ngapain minder. Apalagi jika sekarang – sayangnya baru sekarang, saya sadar bahwa ternyata ada orang lain yang memberi apresiasi, baik itu sebagai secret admirer – uhuk-uhuk, ataupun orang yang salah tebak. Ya, salah tebak tatkala rekan kerjaku di Brisbane menebak usia saya 28 tahunan, padahal saat itu saya sudah 38 tahun.

Jadi, kenapa lagi kita harus minder, gak pede, atau menutup diri. Biasa saja lagee. Memang sih masih ada keinginan di diri saya untuk menggapai obsesi ketinggalan yang tidak kesampaian: berbadan tegap berwajah ganteng licin bak model ber-six pack. Tapi istriku menamparku dengan realita ‘Sadar yah, udah tua. Itu mah kayak ayah nyuruh ibu seusia gini ke salon biar kayak Agnes Monica.’

Dipikir-pikir lagi, memang dah gak pantas dan hil mustahal seusia gini ingin berwajah muda-ranum, licin, badan six pack. Dan tahukah saudara, ternyata impian six-pack itu tidak berguna, jika mayoritas perempuan pada dasarnya tidak menyukainya, karena akhirnya cowok lebih jago dandan dan memperhatikan tubuh dibanding perempuan. Atau akhirnya six-pack itu hanya jadi santapan lirikan sesama pria yang lebih licin. Dan bahkan, beberapa perempuan justru suka dengan ketidaksempurnaan normal-logis seorang pria sesuai umur: gendut, karena katanya ‘kalau kurus, ntar gak bisa tiduran di perut ayah’.

Yah, memang saya terlambat menyadari kalau saya itu ganteng. Tapi bukankah yang membuat saya ganteng itu wajah saya yang memang ganteng, tetapi melainkan ketidaktahuan saya saat itu jika saya ganteng. Atau bisa jadi yang orang lain bilang jika kegantengan itu karena dari hati, berhubung saya pemuda baik-baik, baik hati, baik budi, tidak sombong, suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Jadi kawan, jangan pedulikan jika wajahmu jelek atau ganteng. Mengalir sajalah hidup ini. Wajah bukanlah urusan utama di dunia ini, meski buat model sekalipun. Tugas kita adalah berbuat baik sajalah. Sejelek-jeleknya pria, jika dia berperilaku baik akan dianggap ganteng. Paling tidak bagi istri dan keluarganya. Peduli amat orang lain masih tetap melihat wajah dia yang jelek, lha wong mereka tidak ada hubungan apa-apanya dengan kita, yang penting kan omongan orang yang ada di hati. Begitu juga perempuan, secantik-cantiknya dia jika berperilaku tidak baik, akan ‘ke laut aje’. Don’t judge a book by its cover, kan.

So, ngapain lagi minderan. Gak usah menghakimi diri lah. Karena, the cover won’t judge the book.

Begitu cenah.

Cag, 13 Januari 2011

Special buat para secret admirers di jaman lalu: terima kasih sudah menyadarkanku kalau aku itu ganteng. Salam dari JiTeng – Haji Ganteng

Mohon dimaklumi jika notes ini terlalu narsis, karena bukankah facebook adalah wahana narsisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s