Canda dikit nape sih, serius amat

Susah benar memang menjadi orang berusaha menjadi baik yang cenderung sedikit bicara, orang banyak menduga kita itu kaku, serius, pemarah dan tidak bisa bercanda. Image itu ada di diri saya di beberapa kesempatan. Bahkan anak saya pun mencap “ayah emang galak”. Sedih gak sih?

Padahal jika “kau lihat diriku lebih dalam, aku itu orangnya menyenangkan, lucu, sedikit jail dan suka bercanda yang wajar”. Gubraks… Tapi gak apa-apalah dibilang agak serius, kan dengan serius menunjukkan wibawa. Ck…ck… Namun demikian, iringilah serius itu dengan bercanda di saat yang tepat dan wajar. Jangan terlalu serius, nanti dibilang “cepat tua loh”. Namun juga jangan bercanda terus, nanti dibilang “kayak Srimulat”. Bercandalah yang wajar-wajar saja. Cukuplah bercanda yang membuat orang lain tersenyum. Itu sudah cukup. Senyum yang dihasilkan akan terasa indah, mengena di hati. Dan suasana menjadi sejuk. Janganlah berusaha membuat canda berlebihan yang membuat orang lain tertawa terbahak-bahak, karena belum tentu tertawa terbahak-bahak itu indah. Jangan sampai dia yang tertawa itu akan kesulitan menutup lagi mutlutnya yang melebar – seperti kejadian yang menimpa keluarga jauh saya. Atau jangan sampai tertawa itu membuat kerja jantung terlalu berat. Tertawa yang wajar-wajar saja lah.

 

Bercandalah di saat yang tepat dan sewajarnya. Jangan terlalu banyak bercanda, karena bukankah bercanda dan tertawa berlebihan akan mengeraskan hati, sedangkan justru hati yang lembut lah yang diperlukan untuk menggapai akhlak mulia. Bercandalah, jangan berlebihan. Karena jika kita terlalu sering bercanda, maka pandangan orang pun bisa saja berbeda. Ada kasus di mana seseorang yang ilmu agamanya tinggi, tapi berhubung di setiap kesempatan tidak lepas dari bercanda dan bercanda, sedikit demi sedikit orang akan jauh lebih mengenalnya sebagai “pelawak” dan mengabaikan kemampuan agamanya. Padahal alangkah baiknya jika dia lebih menahan diri dan bercanda yang wajar sehingga ilmu agamanya diketahui dan dihargai, sehingga kalimat Allah bisa disampaikan – walau se ayat.

Jadi, mari kita bercanda pada saat yang tepat dan sewajarnya.

Cag, 17 Januari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s