Andai PSSI seelegan Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei ini, masyarakat dihadapkan kepada kenyataan pahit tidak bangkit-bangkitnya persepakbolaan Indonesia. Jangankan meraih kejayaan sepakbola – yang di area regional saja kalah oleh negara serumpun, bahkan dalam citra organisasi saja terlihat carut marutnya. Bahkan PSSI memberikan ‘kado’ hari kebangkitan nasional itu dengan pertunjukan Kongres kacau balau, tidak berkeputusan karena suasana yang tidak kondusif. Bisa dengan jelas ditangkap sebuah sifat sebagian anak manusia Indonesia yang tidak puas selama kepentinganmya belum terpenuhi.

Dari Kongres ini pun saya melihat seseorang pahlawan yang berubah mendapat cacian, from hero to zero, seperti yang terjadi pada Pak Agum Gumelar. Setelah NH lengser dan mendapat mandat dari FIFA, Kang Agum dianggap pahlawan diiringi beberapa pujian ‘Beliau orang yang bijaksana’. Namun tatkala usaha beliau kandas di tangan FIFA, pujian berubah menjadi cacian. Lalu, disewalah pengacara kelas wahid untuk pengadilan arbitrase. Dan boleh jadi akan terulang cerita sama. Jika Patrick Mbaya pun tidak juga bisa menggolkan apa yang menjadi keinginannya, boleh jadi dia menjadi from hero to zero selanjutnya.

Padahal jika sedikit dikaji, sudah berapa miliar dana yang sudah terbuang percuma, mubazir. Mulai dari Kongres awal di Riau, Kongres di Jakarta ini dan bahkan biaya menyewa pengacara berkaliber internasional. Dan uang dari manakah itu saudara? Negara (untuk kongres) dan swasta (untuk pengacara). Lalu apa hasilnya? Sebuah image negatif di mata dunia, bahwa untuk memilih seorang pemimpin sebuah organisasi olahraga saja seperti ini tidak bisa, keukeuh-keukeuhan sampai terdengar istilah ‘harga mati’ segala. Mungkin tetangga kita akan terkekeh-kekeh jika mereka menyadari di bulan dekat dengan lahirnya pondasi bagi negara tetangga yang besar – setidaknya dari satu sisi luas negara – sekelas Indonesia berupa Pancasila, justru tidak terlihat bekas-bekas indoktrinasi sekelas P4 dulu. Musyawarah untuk mufakat tidak terlihat, persatuan demi negara tidak kentara.

Untungnya, masih ada sekelompok warga negara yang justru membela bangsa, mengharumkan Indonesia di manca negara. Itulah mereka yang tergabung dalam ekspedisi tujuh puncak dunia, yang pada hari kebangkitan nasional ini berhasil menaklukkan puncak tertinggi dunia – Himalaya. Usaha yang tidak sia-sia demi mengibarkan bendera bangsa dan dikenal di dunia. Rasa kebanggaan akan kebangsaan mereka akan dengan gampang tumbuh, apalagi saat mereka mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya di atas sana. Air mata mereka pasti menitik. Dada mereka pasti bergemuruh. Wajah mereka sembab. Bangga. Jangankan mereka, saya saja yang cuman bisa menikmati perjalanannya dari media pun terharu membacanya. Dan apa yang kemudian saya gumamkan – dan mungkin dilakukan pembaca lain? Sebuah kalimat salut, selamat, bahagia, terima kasih atas persembahan elegan bagi bangsa yang diwakili kami, warga masyarakat. Kalmat indah menyejukan dan membahagiakan seperti itu  yang sebenarnya ingin kami sampaikan kepada para peserta Kongres PSSI. Namun apa mau dikata. Jangankan keeleganan, sebuah kewajaran dan kesantunan pun tidak saya temukan. Lalu, masuk akal jika kalimat buruk semacam sumpah serapah keluar dari mulut masyarakat.

Duh PSSI. Kapan anda mau bangkit?

Cag, 21 Mei 2011

Lalu saya berlaga menjadi seorang John F Keneddy: ‘And so, my fellow PSSIers, ask not what your country can do for you or your group; ask what you or your group can do for your country’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s