Menggelar gelar. Apa perlu?

Ada sebuah artikel di Kompasiana kemaren berjudul “Orang Indonesia memiliki 8 gelar. Ada yang lebih?” yang membahas seseorang yang bernama S Amiputra yang memiliki delapan gelar kesarjanaan, SE, AK, SH, SS, MM MAk, MH, MKn.

Ada bermacam pertanyaan atau komentar di benak mendengar seorang anak muda, S Amiputra sepertni ditulis Mas Muji Harjo – penulis artikel – belum mencapai empat puluh tahun, tapi sudah menggenggam delapan buah gelar. Pertanyaan di benak, yang mungkin juga ada di benak Kompasianer adalah:

    • S Amiputra begitu bersemangat untuk belajar. Jika belajar dan belajar terus, kapan dia bekerjanya ya?
  • Jika saja satu buah gelar sarjana normalnya ditempuh tiga setengah tahun, dan magister dua tahun, itu berarti 3×3.5 + 4×2 = berapa tuh, hampir dua puluh tahun ya untuk belajar. Jika mulai kuliah umur 18, berarti seluruh waktunya untuk belajar, dan belum sempat bekerja. Hmm….. patut ditiru tuh semangat belajarnya.

 

  • Mungkin juga dia begitu pintar ya, bisa lulus dari berbagai jurusan perguruan tinggi dengan cepat. Dimulai dari ikut akselerasi sejak SMP dan SMA – artinya dapat bonus dua tahun, ditambah dengan kuliah dobel di dua jurusan, baik itu waktu program sarjana maupun magister. Wah, boleh juga tuh diikuti staminanya.

 

  • Selain stamina, tentunya dananya juga kuat. Bayangkan kuliah di berbagai perguruan tinggi, dalam segala jenjang. Wuih, berapa puluh juta (atau ratus juta mungkin) sudah dikeluarkan? Kalaupun tidak mengeluarkan uang, alias mendapatkan beasiswa, alangkah beruntungnya dia ya. Boleh juga ditiru nih peruntungannnya.

 

Namun, apa perlu sebegitu semangatnya mengejar gelar?

Perlu tidaknya sebuah gelar akan sangat tergantung dari mana kita melihatnya, dan untuk apa gelar itu dipergunakannya.

Untuk mereka yang berkutat di bidang pendidikan, seperti guru, dosen dan sejenisnya, gelar mungkin akan sangat menentukan. Bahkan mungkin ada suatu syarat jika untuk menjadi pengajar sekelas ini harus bergelar ini. Kan tidak etis, kalau pengajar program Magister hanya seorang Sarjana, atau promotor Doktoral bergelar Magister doang. Jadi gelar – atau tepatnya tingkat pendidikan – bagi kalangan pendidik cukup penting. Sehingga makin tinggi gelar, makin senior dia dalam berpengetahuan. (Kaidah bahasa pun rasanya mengenal perbedaan makin “tinggi” dengan makin “banyak”).

Sebaliknya, untuk kalangan pekerja di luar bidang pendidikan, gelar pendidikan sepertinya tidaklah terlalu menentukan. Apalagi bagi mereka yang bekerja di satu jenis bidang tertentu, gelar umumnya hanya diperlukan pada saat melamar pekerjaan saja. Yang menentukan kemajuannya selebihnya adalah kemampuan orang itu dalam bekerja. Istilah kerennya profesionalitas dalam bekerja. Itulah mungkin kenapa kalangan ini disebut kalangan profesional. Jika keprofesionalan seorang pekerja itu terlihat oleh atasannya, maka kemajuan prestasi dan posisinya akan pesat, apapun gelar yang disandangnya. Jika keprofesionalan ini ditambah dengan integritas pribadi yang tinggi – jujur, bisa dipercaya, mengemban amanat dan sifat sejenisnya, gelar sarjana saja – baik itu dari perguruan tinggi terkenal ataupun terpaksa terkenal – sudah cukup. Perusahaan-perusahaan besar akan berlomba-lomba mencarinya. Rasanya sudah banyak contoh pribadi-pribadi unggul seperti itu.

Lalu, apa salahnya dengan delapan gelarnya Mas S Amiputra?

Lho, tidak ada yang salah kok. Kita tidak dalam posisi menyalahkan. Dia pasti mempunyai alasan yang kuat dong dengan tekad, semangat dan stamina untuk mengejar beberapa gelar tersebut. Itu keputusan pribadi dia, dan kita harusnya angkat topi dengan hal itu. Kita harusnya mendoakan dia supaya dia tidak menyia-nyiakan gelarnya yang sudah susah-susah diraihnya dari tiga bidang berbeda – manajemen, ekonomi, hukum dan sastra (ups, empat ternyata) dalam pekerjaan yang dia jalani sekarang. Dan mudah-mudahan posisi yang dia tempati sekarang bisa mewadahi pengetahuan dia dalam empat bidang yang dikuasai tersebut. Dan mudah-mudahan dia pun bisa mencurahkan keahliannya dalam empat bidang itu dengan baik. Sayang kan jika itu tidak terjadi.

Sebagian orang berpendapat lebih baik “tahu banyak akan sedikit hal” – yang suka diistilahkan profesional dibanding “tahu sedikit akan banyak hal”. Mudah-mudahan Mas S Amiputra berada di golongan baru yang “tahu banyak akan banyak hal”.

Jadi, menggelar gelar itu apa perlu? Ah, interprestasikan sendiri saja lah.

Cag, 2 Juni 2011

Dalam komentarnya terhadap artikel saya di atas di Kompasiana, muncul sebuah sharing kondisi mengenaskan seseorang lulusan S2 yang melamar pekerjaan untuk posisi sebagai sopir. Setelah melalui proses wawancara ternyata pelamar itu mengaku kesulitan melamar kerja, karena memang tidak punya pengalaman kerja sesuai bidangnya. Sewaktu sekolah dia mengaku pintar, tapi belum pernah bekerja. Antara kasihan dan bingung, akhirnya dia ditawari pekerjaan lain yang mungkin pas dengan ijazahnya. Eh, ternyata orangnya menolak dengan alasan belum berpengalaman. Capekkkkk deh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s