Posisi tepat di saat sulit – pentingnya “staff & client engagement”

Tahun 2009 dunia terkejut dengan terjadinya Krisis Finansial yang melanda dunia Barat. GFC – Global Financial Crisis, begitu Management di perusahaan induk kami menyebutnya. Dan krisis itu memukul perusahaan kami. Kejadian itu diperparah dengan terjadinya perubahan di perusahaan induk kami, ketika perusahaan kami melakukan merger dengan dua perusahaan besar dari benua lain. Komplikasi dari dua hal itu menyebabkan terjadinya restrukturisasi drastis terhadap operasional perusahaan. Jumlah staf melorot drastis, dari asalnya lebih dari seratus orang staff sampai hanya tersisa sepuluh staf inti. Itulah saat di mana saya diangkat menjadi Country Leader, penanggung jawab maju mundurnya perusahaan.

Bukanlah tugas yang mudah mendapatkan sebuah kepercayaan pada saat teramat sulit. Dengan hanya sepuluh staf inti, kami harus meniti kembali jejak-jejak menuju keberhasilan perusahaan. Padahal, masih banyak masalah-masalah peninggalan sebelumnya yang belum terselesaikan, seperti banyaknya pituang yang belum dibayar klien, performance proyek yang otomatis terganggu dan terutama adalah masalah turunnya semangat karyawan. Dengan sepuluh orang karyawan, kami pun mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan proyek, berhubung terbatasnya sumber daya.

Sebagai pemimpin perusahaan, langkah paling utama saya menghadapi masalah itu adalah menjadikan karyawan sebagai partner kerja, dan bukan sebagai bawahan. Saya tingkatkan komunikasi di antara kami semua, dan hal itu diawali dengan Family Gathering termasuk di dalamnya aktivitas team building. Kegiatan ini secara menerus diadakan dalam bentuk Monthly Chat – istilah pengganti Monthly briefing, di mana kami berbicara dua arah. Dalam hal ini, saya menyaring informasi-informasi apa saja dari perusahaan induk yang bisa saya sampaikan kepada staf, karena pada saat itu terlihat ada penentangan dari karyawan terhadap apa saja yang dikemukakan oleh kantor pusat.

Di lain hal, saya selalu tekankan bahwa kesepuluh staf inti itu bukanlah mereka yang harus melakukan pekerjaan, karena tidak mungkin pekerjaan-pekerjaan dilakukan oleh sepuluh orang saja. Karenanya kami berusaha mendapatkan hubungan yang baik dengan konsultan-konsultan lainnya, dan mendapatkan asistensi untuk mengerjakan proyek secara detail.

Setahap-demi setahap proyek-proyek berdatangan. Kami tidak mentargetkan proyek-proyek besar, karena kami pun ragu dengan kemampuan kami melaksanakannya. Namun demikian, saya canangkan bahwa yang diutamakan bukanlah mendapatkan proyek besar, tapi proyek sedang namun kita bisa berkomunikasi yang baik dengan klien – istilahnya client engagement. Jika engagement dengan klien berjalan dengan baik, diharapkan kita bisa mendapatkan proyek secara lebih kontinu.

Alhamdulillah, sedikit demi sedikit kami sudah pulih dari masalah. Pembayaran dari klien berjalan lancar. Tunggakan masalah lama sudah selesai. Satu klien sudah menunjukan hasil dari engagement yang bagus. Dan target revenue kami sampai bulan ke sepuluh tahun financial 2010-2011 bisa terpenuhi.

Inilah hasil dari staff engagement dan client engagemet.

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s