“Ih, Meni Sombong Kitu” (Ih, Sombong bangets)

Bayangkan seorang ibu-ibu, atau pria kemayu, mengucapkan kalimat beraksen sunda kental itu dengan mata sedikit mendelik, mulut sedikit manyun dan kepala yang sedikit melengos. Biasanya kalimat itu diikuti kalimat lanjutannya, yang umumnya diawali kata ‘pira ge’ (’padahal sih cuman’): ‘pira ge mobil injeuman’ (cuman mobil pinjaman), ‘pira ge karek boga imah sagede kitu‘ (cuman baru punya rumah segede gitu), ‘pira ge … bla… bla… bla…’. Dan biasanya kalimat lanjutannya itu diucapkan sangat-sangat pelan – nyaris tidak terdengar, atau bahkan hanya diucapkan dalam hati, sehingga yang terlihat hanyalah mulutnya saja yang bergerak komat-kamit. Kalimat itu biasanya juga diikuti dengan langkah kaki menjauh dari subyek yang dibicarakan.

Itulah yang terjadi, sepertinya ada sebuah alergi sebagian orang terhadap tipe orang yang sebisa mungkin dihindari itu. Sebenarnya bukan orangnya yang dihindari, karena boleh jadi orang itu berpenampilan aduhai, tinggi semampai, berjalan gemulai, bergigi rapi, berbau wangi dan tanpa bau terasi. Namun yang dihindari adalah sikapnya yang sombong, tinggi hati, besar mulut, omong besar, basa basi yang kelewat basi, dan munafik.

Sudah banyak artikel mengupas sebuah kesombongan dan kenapa seseorang bisa menjadi sombong. Apakah itu karena harta, tahta atau wanita. Atau karena kedudukan, jabatan atau warisan. Atau karena anak, badan six pack atau cuman karena sawah sepetak. Apakah kesombongan itu sebagai sebuah pertunjukan, ketidakpedulian atau penyembunyian hakikat diri.

Kenapa seseorang bisa alergi terhadap kesombongan?

13002662571402005807

Istilah alergi hanyalah sebuah pendekatan, karena sepertinya tidak pernah ada kejadian jika seseorang langsung gatal meriang atau sesak nafas mendadak – sebagai pertanda penyakit alergi – ketika mendekati seseorang yang sombong. Istilah itu sejatinya untuk menunjukan oposisi, ketidaksetujuan, kemuakan atas perilaku negatif berlebihan tersebut. Dan bukankah alergi seperti ini adalah wajar dan baik – karena pada satu sisi kita akan terhindar dari perilaku negatif yang sama. Bukankah kesombongan akan melahirkan kesombongan lainnya? Tinggi hati bisa jadi melahirkan tinggi hati lainnya. Dan kemunafikan akan menghasilkan kemunafikan lain lagi.

Sebuah kesombongan tidak akan berakhir. Masih ingatkah tatkala kita berkelahi dengan teman sepermainan kita waktu kecil. Terjadilah saling lempar tekanan (yang sepintas mirip kesombongan) sambil diiringi tangisan khas anak sedang berantem:

+ hu..hu…. tak laporin ayahku, biar kapok

– gak takut…gak takut, ntar gue laporin pak erte, bapamu kan takut ma pak erte

+ gue lapor pak lurah, kalah lo

– hu..hu….. laporin pak polisi, polisi mah punya pistol,

+ gak mungkin…gak mungkin, pak polisi gak berani, saya minta tolong Nabi Muhammad

– gue lapor malekat jibril

+ gue lapor ma Alloh, lo gak bisa apa-apa

– heu…heu…heu… Gue juga lapor ma Alloh, curang kamu, heu..heu…

Bukankah kesombongan orang dewasa juga mirip dengan itu, mencari sesuatu yang “lebih” dan “mengalahkan” lawan bicara:

+ Aku baru beli rumah lagi loh, dua kali luas rumah ini, maklum suami dapat bonus kan jadi direktur

– Ah, kita juga punya dua rumah, itu tuh yang di puncak, jadi vila

? Oh, kalo saya sih rumah yang satu dijadiin gudang, habis tidak ada tempat lagi ni buat barang.

Terkadang, kesombongan itu juga diiringi kemunafikan, lain di mulut lain di hati lain yang terjadi. Dan kemunafikan ini bisa jadi akan menular dari orang yang sombong kepada sekelilingnya. Coba kita raba diri sendiri tatkala berbicara dengan orang sombong. Di depan dia, bisa jadi bermuka manis, memuji-muji: “Oh, begitu, hebat benar suaminya ya, sampai bisa jalan-jalan keliling dunia seperti itu”. Badan berbalik menjauh darinya dan wajah pun ikutan berbalik, dari bermuka manis menjadi amat-sangat masam, lengkap dengan deskripsi di alinea pertama: mata sedikit mendelik, mulut sedikit manyun dan kepala yang sedikit melengos.: “ih, pirage bisa naek pesawat ka singapur wungkul, meni sombong pisan. Cuih…cuih…”. Ditambah cuih…cuih lagi.

Lalu, harus bagaimana lagi?

Wajar saja lah. Jadilah orang sabar sesabar-sabarnya. Jadilah orang baik sebaik-baiknya. Orang tinggi hati tidak bisa dilawan dengan tinggi hati. Lawan lah dengan rendah hati. (ngomong sih gampang, prakteknya susah gan…he…he…). Kalau perlu, pujilah dia dulu untuk menjaga perasaan, baru berbicara rendah hati.

· Jika bicara mengenai kekayaan rumah banyak dan mewah, mungkin bisa dijawab: “ah, sayah mah punya rumah satu sajah sudah bersyukur, apalagi tambah bahagia lihat anak-anak kerasan di rumah, suamiku betah, dan tetangga-tetanggaku suka bertamu, katanya rumahnya adem. Hom swit hom ”.

· Jika bicara mengenai kekayaan emas reunceum – gelang, cincin, kalung, mungkin bisa dijawab: “Wah hebat ya. Bagi saya satu buah cincin ini saja sudah berlebih, bukti cinta suami sejak nikah. Lagian punya banyak kenangan, hi…hi…..Saya tidak mau nambah lagi ah, takut dikuntit-kuntit perampok – lagian mana punya uang ya, he..he…”.

· Jika bicara mengenai mobil baru dengan jemputan supirnya, mungkin bisa dijawab: “oh iya, suamiku tadi juga baru dijemput supir. Iya itu, Bang Madi tukang ojek – supir setia si ayah, lha ayah mah ngojek tiap hari. Katanya biar cepet ke kantor”.

Mungkin dan bisa jadi inilah pilihan yang aman dan wajar menghadapi orang sombong. Dan sekali lagi, anggaplah berhadapan dengan orang sombong adalah arena melatih kesabaran, dan juga menakar apakah diri kita juga sombong atau tidak. Bisa jadi jawaban di atas pun bahkan masih terselip nada sombong di diri kita – karena sombong tidak hanya terhadap materi kekayaan saja kan, namun juga sombong akan kebaikan. Dan mudah-mudahan kita akan bisa lebih tahu apakah justru sebenarnya kita yang mempunyai kesombongan itu – kesombongan di hati. Namun, jika kita masih khawatir dengan itu, mungkin memang ada baiknya kita menghindari orang sombong itu, diistilahkan dengan “alergi” dan bertindak pasif dalam bentuk berdoa semogadia – yang sombong – dan kita dijauhkan dari kesombongan itu baik terasa maupun tidak.

Begitu…..

Cag, 16 maret 2011

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS 31.18)

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s