“Kok Anggota DPR Itu Tak Tahu Malu Ya?” – Mengenai Budaya Malu

Di satu kesempatan, saya berjalan pelan menyalip sekerumunan anak muda yang terlibat perbincangan serius. Di tengah perbincangan hangat itu, saya sempat menangkap satu pertanyaan yang langsung saya ingat sampai sekarang. Pertanyaan yang kemudian saya jadikan judul tulisan ini: “Kok anggota DPR itu tak tahu malu ya?”. Saya hanya tersenyum kecut, karena sepertinya saya sudah cukup sering mendengar pertanyaan ini belakangan ini. Apalagi jika dihubungkan dengan kenyataan pemberitaan terkini terkait pengakuan seorang legislator bahwa DPR adalah lembaga terkorup, rencana pengerdilan wewenang KPK atau penolakan angket pajak.

Saya jadi bertanya sebuah pertanyaan mendasar: “gimana caranya agar MALU menjadi BUDAYA?”

1298440319743814006

Sudah banyak artikel yang membahas masalah ini, berapa banyak pemerhati moral mengupas masalah ini, tapi kok rasanya tidak terlalu banyak perubahan ya.

Yang paling penting agar malu menjadi budaya menurut saya adalah pendidikan (bukan pengajaran) etika, akhlak atau budi pekerti. Dan ini harus dilakukan dari kecil dan dari lingkungan paling dekat dulu. Tidak ada artinya pendidikan atau pengajaran mengenai korupsi jika mental yang diajar tidak bisa membedakan mana benar atau salah. Kelihatannya terlalu hiperbola, tapi kenyataannya masih banyak yang tidak bisa membedakan mana benar dan mana salah (atau mungkin di dunia politik itu memang tidak ada yang benar-benar “benar”, dan tidak ada yang namanya benar-benar “salah”, semua abu-abu).

Sejatinya malu bisa dijadikan suatu kebiasaan – dan ujung-ujungnya sebagai budaya- dimulai dari lingkungan terdekat terlebih dahulu – dalam hal ini keluarga. Sebelum menjadikan budaya malu terjadi pada lingkup luas, seperti malu korupsi, kita awali dari hal-hal kecil. Seperti sebuah kutipan: Setiap perubahan berawal dari satu langkah kecil. Let’s make that small step together.

Satu dari langkah awal itu adalah menanamkan suatu nilai kepada diri sendiri dan keluarga tentang arti malu. Tidak usah pusing-pusing mencari definisi malu secara ilmu psikologi atau dari kacamata tasawuf. Cukup buka Kamus Umum Bahasa Indonesia. Definisi pertama yang ditemuin adalah: “merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) krn berbuat sesuatu yg kurang baik (kurang benar).”

Saya lebih suka bercermin dari kearifan orang tua kita dahulu – dan mungkin orang tua sekarang yang masih berpikir tradisional. Dua contoh bisa saya kemukakan di bawah ini mengenai kejujuran dan belajar malu.

Orang tua jaman dulu cenderung memberikan materi tidak secara sembrono. Sewaktu kecil – tahun 80an – saya menginginkan permen di warung Bu Kemong, tetangga kami. Ibu saya memberikan uang seratus rupiah (nilai rupiah dulu) setelah saya merengek minta permen seharga lima puluh rupiah. Pulang beli permen pun, dia tanya mana kembaliannya. Untuk ukuran sekarang pasti langkah tersebut dibilang pelit, namun sekarang disadari bahwa itu adalah bagian dari kebijakan orang tua dalam mendidik anaknya untuk jujur.

Kalaupun uang yang dikembalikan tidak sebesar lima puluh rupiah, ibuku secara baik bertanya: permennya harga berapa dan kenapa kembaliannya kurang. Dan kalopun kita beli permen lebih mahal seharga tujuh puluh lima rupiah, ibuku pun tak marah, hanya memberi petuah kalau saya sudah tidak jujur.

Jika sikap ini terus dipupuk, anak akan merasa malu untuk melanggar apa yang telah dia ketahui tidak benar. Sehingga jika suatu saat si anak ditanya kenapa tidak ambil aja uang lebihnya, bisa dibayangkan damainya jika anak menjawab “Malu dong, itu bukan hak saya”.

Di sini kita bisa melihat anak tanpa sadar diberi pengertian mengenai arti kejujuran, dan mempertanggung jawabkan apa yang dikerjakan. Rasanya jarang sekali orang tua dahulu memberikan uang tiga ratus rupiah untuk dibelikan apa saja teserah yang dimauin anak. Sekarang saya mengerti, nilai (value) yang ditanamkan orang tua tersebut.

Sebelum datangnya masa Play Station atau Game Komputer, anak-anak disibukkan dengan permainan sosial, dimana mereka berinteraksi dengan anak-anak yang lain – seperti maen boy-boyan, kasti, lompat karet, sorodot gaplok, kelereng atau gatrik (masih ada gak ya permainan seperti itu). Kalau diamati sekarang, banyak nilai yang mereka peroleh tanpa sadar. Coba perhatikan percakapan anak-anak yang maen kelereng – dengan basa Sunda dan terjemahan Indonesia (dalam rangka menghargai hari basa ibu sedunia(:

Ujang: “Tadi maneh teh pan eleh, kadieu atuh kaleci na dua, pan geus jangji.”
(Kamu kan kalah, mana sini kelerengnya, kan kita sudah sepakat)

Eman: “Ah henteu kuring mah rek mere hiji, da kuring ngan boga dua deui.”
(Ah, tidak, saya cuman mau kasih satu, soalnya saya hanya punya dua buah kelereng)

Ujang: “Eh ulah bohong euy, kuring nenjo tadi maneh bekel kaleci sakitu lobana.”
(Jangan berbohong, saya lihat kamu tadi bawa kelereng banyak sekali)

Eman: “Enya loba – tadi, pan geus beak dibagikeun ka Si Kuya.
(Iya, tadi punya banyak, tapi sudah dibagikan ke Si Kuya)

Ujang: “Naha ari eta naon dina pesak. Silaing bohong siah
(Itu yang ada di kantong apaan? Kamu berbohong)

Kemudian teman-teman yang lain menimpali: “Eman bohong… Eman bohong”.

Tanpa perlu susah payah dipikirkan, kita bisa dengan mudah menelaah jika mereka sudah dididik untuk mempraktekkan pengetahuan mereka mengenai baik dan buruk, bohong dan jujur, dan bagaimana cara menginvestigasi dengan baik sesuai usia mereka. Mereka juga dididik untuk konsekuen dengan apa yang mereka lakukan – dalam hal ini menerima ejekan. Kalau dilihat dari kacamata sekarang, mungkin ejekan tersebut melanggar hak asasi, namun sebenarnya itu bagian dari pendidikan budaya malu – menurut saya.

Bisakah kita menerapkan hal itu kepada anak-anak kita – generasi sekarang? Entahlah. Namun seyogyanya bisa, karena diluar pendidikan malu, dengan mempraktekkan dua contoh diatas dalam keseharian kita, malah kita akan mengambil keuntungan berlipat tanpa sadar. Keuntungan dalam bentuk kedekatan emosional anak dan orang tua dan keuntungan anak bisa bersosialisasi dengan orang lain.

Lalu, bagaimana caranya agar anggota DPR mempunyai budaya MALU? Jawaban idealnya adalah “bercerminlah kepada anak-anak” seperti contoh di atas. Ada ide lebih bagus?

Cag, 23-02-2011

Malu merupakan sikap mencegah diri dari perilaku tidak terpuji karena takut akibat yang muncul kemudian. Rasulullah SAW bersabda, ”Bila engkau tidak malu, maka berbuatlah semaumu.” (HR Bukhari).

Artinya, jika manusia tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sekehendakmu karena Allah SWT akan memberimu siksa yang pedih. Allah SWT sangat mengetahui apa yang kita lakukan, apakah untuk kemaslahatan umat atau untuk kepentingan dan kesenangan pribadi. ”Lakukanlah apa yang kamu kehendaki. Sungguh Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS Fushshilat: 40). Seseorang yang memiliki rasa malu akan berat melakukan perbuatan tidak terpuji dan dibenci Allah SWT.

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s