Alangkah Amburadulnya Negaraku

Hari ini, baru hari ke lima di tahun yang baru, ternyata saya sudah disuguhi banyak cerita dan kenyataan yang secara sepintas saja memperlihatkan amburadulnya negara kita. Jangan ambil satu hari atau satu tahun untuk mengamati, cukup satu pagi saja. Pagi tadi. Antara jam tujuh dan delapan tiga puluh.

Jam tujuh lewat lima belas. Tumben-tumbennya saya mendapatkan kereta Sudirman jurusan Depok, lewat Dukuh Atas, persis setelah saya turun dari ojek. Ya, tumben banget, karena saya biasa menanti sepuluh-lima belas menit kedatangan kereta yang jam tujuh tiga puluh. itu berarti bahwa ada apa-apanya nih di jalur kereta. Setelah saya masuk kereta, dan menunggu cukup lama, ternyata di tiap stasiun yang dilalui pun harus bersabar menunggu juga. Sampai Akhirnya saya mendapatkan informasi dari detik.com: “ada gangguan sinyal, semua kereta tidak bisa masuk ke tanah abang”. Boleh dong saya bilang: “Busyeeet”, cuman karena sebuah “gangguan” saja, berapa puluh rangkaian terlambat sampai lebih dari satu jam, dan berapa ribu karyawan yang kartu absensinya merah karena terlambit lebih dari toleransi. Saya yang selama ini membanggakan diri sebagai ‘Anak kereta’ – karena bisa menghemat satu jam pulang satu jam pergi selama ini, ternyata harus menyadari diri sebagai manusia biasa: kesal, gondok, bingung – ‘nih pemerintah gimana sih, ngurus sinyal aja gak becus’ – itu kali yang ingin saya omongin.

Tapi, ya saya berusaha sabar. Harus sabar toh. harus itu!! Malu dong, baru pulang dari penyucian jiwa sudah harus menebar-nebar emosi lagi. Akhirnya, saya enjoy buka koran tempo, yamg sejak hari kemaren berharga didiskon serebu perak. lalu, mulailah saya menyelami keamburadulan bangsa ini dari berita di lembar per lembar koran yang kubaca.

Inilah runtutannya:

  • Lembar pertama:Gayus mengecoh ke Macau. Kepala udah cape geleng-geleng membaca kabar selama ditahan delapan bulan, dia ‘cuti’ 68 hari, menyuap kepala rutan 368juta perak, anak buah karutan 1.5 juta perorang perbulan, memakai paspor asli atas nama palsu, berfoto pake wig lagi. Tidak perlu orang dogol (bukankah dogol berarti bodoh?) yang akan bertanya, ‘Ini perangkat hukum kagak jalan’. Pertanyaan saya muncul lagi: ‘who is Gayus?’ sampe bisa menyuap-nyuap dengan duit segitu gede? Haloow. Rakyat bukan orang bodoh. Semua kebodohan kalian hanya bisa rakyat pendam, karena mau kemana disalurkan. Tapi tunggu saja adzab Allah, karena rakyat tertindas akan meminta pertolonganNya, dan doa yang teraniaya itu makbul. Perhatikan itu (kesel gue)
  • Lembar kedua: sama aja deh dengan lembar pertama. Mau ngebersihin imigrasi dari calo? Gak akan mungkin, gan, selama mental birokratnya tidak berubah : “jika bisa dipersulit kenapa dipermudah?”
  • Lembar ketiga: Liga Primer vs PSSI. Hmmm… capek deh mikirin dia yang menaikan tiket, menyampuri pelatih, menangguk untung, dibenci tapi mau gimana lagi. Sok lah, saling adu mengadu ke kepolisian, kita mah cuman pengen liat bola kita maju doang.
  • Lembar keempat: tak ada tempat bagi celana ketat di istana. Terus? Ada beda gak istana dengan rumah rakyat? Lalu – mana UU Pornografi-pornoaksi? Mana mereka yang biasanya berbicara keras tentang pornografi? Sila simak deh iklan0iklan tipi, “mereka berpakaian tetapi telanjang” ada di mana-mana. Bahkan “merka yang benar-benar telanjang”pun ada. Istana hanya diisi beberapa orang saja, dan Presiden dan keluarganya sudah dewasa. Lha rumah rakyat? Isinya generasi mendatang loh, man. Di istana alasannya hanya kesantuanan, sementara di rumah alasannya jauuuh lebih gede: mental generasi muda penerus bangsa. So, what happen atuh dengan pola pikir mereka-mereka ini.
  • Lembar kelima: nginggris. Please deh. So what gitu loh. (tuh kan, saya sudah ikut tertular juga). Masih ingatkah ada satu jaman di kala “Holland Bakery” menjadi Bakeri Holan. memang kita adalah bangsa pelupa ya. Gak apa-apa lah nginggris asal dilakukan di forum yang tepat.
  • Lembar enam: Bojonegoro faceoff. Kita lebih hebat dari Holiwud tuh, di sini Kasiem dan Karni berlaku sebagai John Travolta dan Nicolas Cage. Tapi pertanyaan bodoh yang gak usah dijawab muncul: ‘kok bisa terjadi ya?’ Halllowwww…
  • Lembar tujuh: TKW tewas di Putrajaya, pemerintah AKAN tertibkan aturan dana abadi umat: jadi, selama ini pade kemane coy…. Beratus wanita dipekerjakan (jangan pakai istilah dijual lah, kasar amat) di luar negeri, tanpa muhrim. Di mana sih peran Departemen Agama? Oh, lagi sibuk ngurusin triliunan rupiah dana abadi. Sibuk, apa sibuuuk?
  • Lembar delapan: napi kabur: cerita lama, diulang lagi, dan lagi dan lagi dan lagi …. Kapan belajarnya ya?
  • Lembar sembilan: siswa belajar di tenda: pengungsi aja bela-belain belajar di tenda, ini kejadian lama berulang kok tidak ada penyelesaiannya. Clear contradiction.
  • Lembar sepuluh: abstain – percuma berkoar-koar tanpa ada good-will dari negara ged (katanya)
  • Lembar sebelas: ini beda, setitik air pelepas dahaga. Lihat deh, suara pembaca. Simpatik banget.
  • Lembar dua belas: memanen hujan di gurun pasir: teknologi yang bisa mengubah dunia – jadi inget salah satu tanda kiamat: Jazirah Arab berpadang pasir menjadi subur.

Lelah…
lelah hati ini
Menggapai hatimu
tak jua menyatu
Lelah lelah hati ini
Bagaimana kelak ku akan
melangkah di sisimu …

Aku terdiam bukan terkesima dengan lirik lagu Tirai-nya Rafika Duri yang cocok dengan kondisi hatiku terhadap negaraku. Aku terdiam dan berhenti membaca koran itu, seelah di lembar tiga belas kubaca berita: lelang….

Cag, jam istirahat

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s