Anda Pejabat? Siapkah Kehilangan Kehidupan Pribadi?

1297607756612041125Saya saat ini sedang mengapresiasi langkah Hakim Konstitusi Arsjad yang mengundurkan diri setelah panel internal menemukan beliau menyalahi kode etik kepatutan sebagai hakim konstitusi. Sebuah langkah menggembirakan bagi dunia hukum yang sedang membersihkan institusinya, sekaligus langkah menyedihkan bagi karir beliau yang sebenarnya tinggal menunggu usia pensiun. Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa dia tidak tahu menahu jika anaknya berhubungan dengan orang yang sedang berperkara.

Itulah kenyataannya, jika seseorang mulai menempati posisi sebagai pejabat publik, mau tidak mau dia otomatis akan kehilangan kehidupan pribadinya. Kehidupan pribadinya hilang baik itu karena tuntutan profesionalisme dalam bentuk kode etik – baik itu dalam arti keluarganya tidak boleh berbisnis maupun tidak boleh berhubungan dengan, ataupun karena gerak-geriknya menjadi santapan media sehari-hari.

Masih ingat mendiang Lady Diana yang meninggal karena dikuntit paparazi. Itulah contoh hilangnya kehidupan pribadi kan? Media kita sepertinya tidak sampai demikian, mengejar-ngejar naek helikopter demi sebuah foto menghebohkan. Tapi, naga-naganya media kita sudah mulai pintar menelanjangi objek, sampai ke ranah paling pribadi sekalipun.

Sebaliknya, menjelang tidak adanya tabir yang melingkupi kehidupan pribadinya, maka segala tindak tanduk dan tingkah laku diri – dan keluarganya, pastilah menjadi acuan masyarakat. Acuan itu bisa berarti positif ataupun negatif. Jika dirinya menjadi pemuncak eksekutif propinsi, suami / istrinya pemuncak legislatif, iparnya pemuncak selevel lebih rendah, anaknya, kakaknya, teteh, aa, tante dan kawan-kawannya, pastilah itu menjadi acuan buruk masyarakat. Jika dirinya meninggalkan mobil dinas, tetap memakai mobil sendiri yang sederhana, istrinya tanpa pengawalan ke supermarket, anaknya naek kendaraan umum untuk kuliah, tentunya itu menjadi acuan baik masyarakat – tapi sayangnya tidak menarik untuk omzet media.

Dan menjadi pejabat, setiap sikap-tingkah-otaknya akan gampang ketahuan dari bagaimana dia menjawab pertanyaan, isi jawabannya serta emosi yang menyertainya. Sampai berbusa-busanya mulut menyampaikan suatu pendapat, akan dengan sangat gampang masyarakat menangkap mana pejabat yang bermutu dan mana yang asal jeplak bak tong kosong yang nyaring bunyinya. Dan itu akan sangat menentukan masa depan jabatannya.

Yang paling kentara susahnya menjadi pejabat adalah apa yang diomongkannya bisa mempengaruhi stabilitas sekeliling. Bukankah ada sesuatu pepatah yang berkata kentut raja saja bisa menimbulkan perang.

1297607337828439958Contoh yang paling dekat adalah tatkala SBY sambil lalu berbicara mengenai gaji yang belum naik selama tiga tahun. Tidak ada yang salah dari ucapannya itu, karena disampaikan sebagai sebuah motivasi kepada audiensnya. Namun beliau mungkin lupa, mereka yang berada dan menyaksikan atau membaca berita tersebut mungkin tidak memahami konteks, apalagi jika media justru mengarahkan pembaca atau pemirsa untuk menjauhi konteks yang benar. Atau mungkin saja mereka salah memahami – bukankah seribu kepala yang sama hitam seribu pendapat. Jadinya, muncullah kalimat itu sebagai curhat, keluhan. Dan karena menyangkut sebuah kata ‘gaji’, maka responsnya begitu hebat bak api menyambar sekam, reaktif. Mulai dari Menkeu, Jubir, Partai oposisi, Dewan dan LSM. Bahkan sampai recehan uang pun urun rembug dalam polemik. Dan yang terjadi adalah: kenaikan barang. Padahal seperti selalu dimafhumi, barang yang naik biasanya tidak pernah turun. Dan yang menderita adalah masyarakat.

Karenanya, bagi mereka pejabat atau public figure, mohon maaf sekali, kehidupan pribadi anda sudah tereduksi sejak anda memahami untuk menjadi pelayan publik. Baik-buruk anda suka ataupun tidak akan dengan gampang masyarakat saksikan. Kejujuran dari hati atau kemunafikan diri akan dengan gamblang terbongkar.

Hanya satu yang menyelamatkan anda: INTEGRITAS PRIBADI.

Hayooooo….., yang merasa tersindir, tobat yok tobat.

Cag, 13 Feb 2011

valentine-go-green-alias-kasih-sayang-yang-membumi/

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s