Apakah Tangerang Selatan termasuk kategori kota tanpa rencana

Tanggal 27 Februari ini, Kota Tangerang Selatan akan mengadakan pemilukada ulang, sesuai dengan keputusan Mahkamah Konstitusi. Pemilukada ini adalah untuk memilih kepada daerah – walikota dan wakil walikota – definitif, setelah hampir selama tiga tahun dipimpin oleh pejabat walikota yang ditunjuk pemerintah.

Memang, Tangerang Selatan adalah sebuah kota baru, yang diresmikan bulan Oktober 2008 sebagai pemekaran dari Kabupaten Tangerang. Kota baru ini terdiri dari Kecamatan Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang, Pondok Aren, Serpong, Serpong Utara dan Setu. Termasuk ke dalam kota baru ini adalah tiga daerah perumahan utama – Bintaro, BSD City dan Pamulang. Total populasi kota ini adalah sekita 918 ribu jiwa – melebihi populasi negara Bahrain yang sedang bergolak.

1298728501461520740

Di luar penerimaan atau antusiasme masyarakat terhadap adanya kota baru ini, muncul juga pertanyaan mendasar: apakah kecamatan-kecamatan di dalam kota baru ini sudah memiliki struktur dan infrastruktur yang mendukung terciptanya sarana untuk mobilisasi masyarakat yang cepat dalam bentuk sebuah kotamadya?

Jawaban atas pertanyaan itu justru bisa dilihat dari kenyataan di lapangan, apakah terlihat perkembangan wilayah-wilayahnya sudah memiliki rencana dan mengikuti rencana tata ruang kota. Dan sayangnya, kenyataan memperlihatkan sepertinya tidak ada perencanaan yang matang terhadap tata ruang atau tidak adanya penegakan hukum atas pelanggaran tata ruang. Atau mungkin juga sebaliknya, kota yang baru berdiri ini menerima warisan pelanggaran tata ruang yang akut dari kota induknyanya.

Mari kita ambil contoh kecamatan Pamulang. Empat atau lima tahun yang lalu, ketika pertama kali saya pindah ke daerah ini, lalu lintas di jalan Siliwangi, yang menghubungkan mesjid raya Pamulang sampai dengan daerah Muncul cukup lancar untuk berkendara. Kemacetan memang akan terjadi, tetapi itu utamanya terjadi pada pagi hari kala semua orang memulai aktivitas secara bersamaan, atau pada saat sore hari waktu orang kembali dari aktivitas seharian menuju rumahmasing-masing. Namun sekarang, kemacetan itu bisa dikatakan berlangsung setiap waktu, dan tidak mengenal waktu. Apa yang menyebabkan itu terjadi? Berjamurnya gedung-gedung sentra dagang dan industri di sepanjang jalan tersebut yang sepertinya tanpa megikuti tata ruang yang matang. Mari kita coba lhat.

12987284311808352871

Di awal jalan Siliwangi, di mana terdapat pertokoan dan sentra pedagang kaki lima di depan perumahan Pamulang Permai, tepat di tusuk sate jalan itu sekarang berdiri Universitas Pamulang dengan beberapa unit gedungnya yang terdiri dari tiga lantai atau lebih. Saya tidak begitu mengetahui apakah Tangerang Selatan memiliki rencana tata ruang – karena saya sendiri tidak memiliki akses untuk melihat hal itu. Namun saya bertanya, apakah sudah tepat lokasi sebuah perguruan tinggi berada persis di pertigaan yang sibuk, dengan sedikit ruang yang tersedia untuk sekedar membalikkan mobil dan memarkir kendaraan di dalam halaman parkir yang sempit?

Satu dua kilometer dari Universitas Pamulang, kita akan bertemu dengan dua gedung yang diisi oleh dua perkulakan besar – Giant dan Carefour. Sayangnya satu dari dua perkulakan yang saling bersaing itu berada di dalam gedung yang berdiri di atas tanah timbunan – reklamasi – yang dulunya adalah sebagian dari situ kecil penampung air hujan. Meski sempat terjadi demonstrasi pada saat pembangunan gedung itu, akhirnya gedung pertokoan itu tetap berdiri, dan situ pun kehilangan sebagian areanya. Dari kacamata lingkungan orang awam, sepertinya terasa ada yang salah, karena otomatis daya tampung situ akan berkurang, dan kemungkinan banjir akan lebih besar terjadi.

1298728229479592487

Dari mulai situ Pamulang sampai dengan pertigaan Pamulang II, kita bisa dapati beberapa minimarket, yang bahkan antara satu minimarket ke minimarket yang lain – meski dengan franchise yang sama – hanya berjarak seratus meter. Belum lagi jika di dapati minimarket dengan franchise berbeda di seberangnya.

Selain minimarket, sepanjang jalan Siliwangi dipadati kios-kios baik permanent ataupun tidak, seperti salon, toko mebel, toko onderdil, bengkel, toko makanan minimum, restoran dan pusat bimbingan belajar. Tidak terlihat adanya sentralisasi usaha berdasarkan jenisnya. Tidak jelas juga apakah memang sisi-sisi jalan Siliwangi itu memang dipertuntukkan untuk usaha.

Saat ini, jalan Siliwangi itu kembali akan diramaikan oleh empat bangunan cukup besar. Satu buah showroom mobil, satu buah pasar “modern” dan dua buah rumah sakit. Dua rumah sakit tersebut – satu dalam tahap konstruksi dan satunya lagi siap dipakai, berada tepat di mulut kompleks perumahan Vila Dago, mengapit jalur masuknya.

Dari kemajuan pembangunan fisik seperti itu, apakah infrastruktur jalannya sudah layak dan memenuhi persyaratan?

Pada saat ini, jalan raya Siliwangi, sebagai jalan utama, terbagi dua penggal. Penggal pertama sepanjang sekitar dua-tiga kilometer, dari mulai bundaran Universitas Pamulang sampai dengan berakhirnya pertokoan Pamulang Permai – jalannya terdiri dari dua jalur, dan tiap jalur terdiri dari dua lajur, dengan kondisi yang cukup bagus, disertai median yang rapi. Di ujung penggal ini, kita mendapati perubahan mendadak dari empat lajur tersebut – dua lajur di tiap jalur, menjadi hanya dua lajur saja, satu lajur di tiap jalur. Perubahan mendadak ini diperparah dengan kondisi jalan dengan genangan dan lubang cukup dalam. Lubang-lubang seperti ini bisa ditemui juga di beberapa tempat, seperti di depan situ Pamulang.

Sempitnya jalan mungkin tidak terlalu menjadi masalah, jika intensitas lalu lintas tidak terlalu tinggi. Namun, sejak Pamulang menarik perhatian karena bermunculannya begitu banyak perumahan baru yang terjangkau – di luar udaranya yang masih cukup nyaman, kapasitas jalan itu sepertinya sudah tidak sanggup lagi menampung beban kendaraan. Akhirnya kemacetan yang mengular akan didapati, utamanya pada saat jam pergi dan pulang kantor, meskipun akhir-akhir ini kemacetan hamper terjadi setiap saat. Kemacetan umumnya terjadi pada pertemuan jalan dengan gerbang perumahan atau jalan-jalan tembus ke perumahan. Saya memprediksikan bahwa kemacetan akan bertambah parah seiring dibukanya pelayanan keempat gedung baru di atas.

Itulah kenyataan dari kecamatan Pamulang, sebagian dari Tangerang Selatan. Bagaimana dengan kelurahan lainnya? Saya melihat kenyataan yang tidak jauh berbeda baik itu di kecamatan Ciputat, Pondok Aren (Bintaro) atau Serpong.

Mudah-mudahan keputusan membuat kota baru – Kotamadya Tangerang Selatan – adalah keputusan yang tepat, sehingga pembangunan di daerah yang dilingkupinya akan lebih bisa dikontrol dibanding jika tetap bergabung dengan Kabupaten Tangerang – dengan area yang terlalu besar. Ini juga yang menjadi prioritas utama para pejabat teras kota – terutama bagi Walikota dan Wakil Walikota yang akan dipilih tanggal 27 Februari ini. Yang diperlukan bagi pemenang Pemilukada adalah langsung bekerja – dan tinggalkan rencana “balik modal dulu”.

Selamat bekerja.

Cag, 26 februari 2011

salah satu warga Tangerang Selatan

jalur jalan umumnya ada dua: jalur arah “sana” dan jalur arah “sini”

satu jalur bisa terdiri dari satu atau lebih lajur

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s