Ayem Jaduler, Indahnya Ketegasan dan Kesederhanaan Masa Lalu

Pagi ini saya tersenyum lebar saat mendapatkan sebuah pesan di teleponku dari sobatku – yang seorang guru: ‘Ck ck ck … Dasar jadul … :D’. Pesan itu adalah jawaban dari pertanyaanku; ‘Muncul lagi istilah baru: gan atau agan. Apa sih artinya? Juragan?’

Disela ketawa kecil itu, saya bergumam ‘ketahuan deh jadulnya gue’. Tapi, itulah kenyataannya, saya termasuk tipe jadul – jaman dulu, karena tidak mengikuti perkembangan bahasa. Mulai dari jiah, pret, alay, sotoy dan sekarang gan atau agan, saya pasti mengetahui dan mengertinya belakangan. Dan biarlah saya terlambat mengetahuinya, daripada tidak sama sekali. Tapi biarkanlah saya tetap jadi jaduler, karena dalam beberapa sisi saya sangat menikmatinya.

Tanyakan kepada saya musik atau lagu apa jaman sekarang yang enak didengar, sepertinya saya tidak bisa menjawabnya. Telinga saya masih diset dengan musik jaman dulu yang simpel, mudah didengar dan enak di telinga. Jiwa saya masih rindu dengan suara-suara merdu, syair puitis, yang sederhana tapi banyak makna dan indah. Itulah yang sering saya dengar: lagunya Whitney Houston dan bibinya, lagunya Gloria Gaynor – yang sayangnya sekarang diidentikkan sebagai lagu gay, lagunya Andre Hehanusa atau lagu baheula sebelum saya lahir macam “Anak“-nya Fredy Aguilar (atau Victor Wood) dan “Long time running“. Saya juga masih suka mendengarkan musik klasik easy listening, Yani, Kitaro. Atau musik dangdut acapela Terajana. Dan musik Betawi Benyamin Sueb. Lagu daerah? Lagu Sunda mah pasti, termasuk favoritku Ceurik Rahwana dan Kembang Tanjung Panineungan. Bahkan ceramah radio bahasa Sunda KH AF Ghazali jaman SMA pun masih saya dengarkan.

Untuk sastra tertulis pun, saya cenderung menyukai gaya penulisan sederhana, enak dibaca tapi tidak melepaskan imaginasi. Sastra Balai Pustaka, majalah Mangle dan beruntung sekarang masih ada Andrea Hirata. Novel kontemporer yang liberal – macam karya Ayu Utami – rasanya masih belum menyentuh batin saya, seperti halnya juga sastra adopsi semacam Eclipse. Jikalau tidak berbentuk sastra, banyak kemungkinan yang saya baca adalah majalah pengetahuan semacam National Geografi yang banyak mengupas sebuah sejarah. Sejarah? Betul-betul jaduler.

Tapi yang paling saya harapkan sebagai seorang jaduler adalah saya bisa tetap berperilaku bijaksanadalam menjalani kehidupan, sederhana, tidak terlalu mumet, berpikir arif persis seperti orang tua kita dahulu. Tentunya kearifan, kebijaksanaan dan kesederhanaan yang disesuaikan dengan kondisi. Dan:TEGAS, dalam arti bisa sekali-kali keras jika dibutuhkan. Karena bukankah sifat-sifat jadul seperti itu yang sekarang susah ditemukan? Sebagai jaduler, saya merasakan kehidupan jaman dulu lebih memberikan kepastian akibat sebuah ketegasan, meskipun disadari kebanyakan ketegasan (pemerintah saat itu) berkonotasi negatif – tidak demokratis dan otoriter (dan ini bisa menjadi topik bahasan tersendiri).

Lihatlah beliau-beliau yang terhormat sekarang. Dari satu masalah kehadiran di DPR saja sepertinya berlarut dan berbelit. Memplesetkan istilah Gus Dur: ‘Gitu aja kok dibikin repot’. Ingin sekali saya berkata agak kasar: KISS – keep it simple stupid sweatheart. Sederhana saja, pakai nalar dan tegas. Jika kita menandatangani daftar hadir, tetapi secara fisik tidak hadir apakah itu artinya hadir? Ingat kembali sewaktu sekolah dulu jika kedapatan seperti itu, hukumannya diskors. Lalu kenapa hal sederhana seperti ini kok dibikin berbelit-belit, sampai harus dibentuk panitia khusus segala. Sederhana dan tegas saja: ketahuan tiga kali bolos – PECAT!! Karyawan saja yang digaji tidak seberapa, jika bolos bisa dipecat, lha ini beliau-beliau yang bergaji lebih dari enam angka nol dibiarkan begitu saja?

Masalah bu Nunun yang lupa saja rumit amat. Apa sih susahnya paksa dia datang ke pengadilan, dan biar di pengadilan dibuktikan apakah dia betul-betul berpenyakit lupa atau “lupa”. Dan Nunun lebih penting dibanding Megawati dalam kasus ini kan? Bukankah dia secara fisik masih bugar – katanya, dengan terlihat belanja di Singapur. Sekarang yang kita lihat adalah mereka-mereka yang terlibat seperti sedang main bola, lempar sana lempar sini, sakit – sehat – sakit – dst seperti menghitung suara tokek. Bukankah yang terjadi karena ketidaktegasan ini menyedot uang negara yang besar, karena berapa kali sidang diskors dan ditunda hanya karena tidak mencapai kesepakatan. Padahal, rapat kerja itu memerlukan biaya, termasuk untuk biaya rapat, biaya kehadiran bukan?

Coba kita layangkan pandangan kita ke kasus korupsi. Siapa yang pintar bersilat lidah, meski bukti sudah menumpuk, jangan harap mendapatkan balasan setimpal di penjara. Bahkan penjara saja bisa diatur mirip istana. Sederhana dan tegas saja. Bukti materil ada. Saksi ada. Landaskan pada nurani, dan tindak tegas. Beres masalah, seperti turun drastisnya koruptor di Cina karena digantung jika terbuti.

Lihat juga masalah transportasi Jakarta. Akal sehat belum berjalan sempurna, atau mungkin terlalu sempurna. Rencana belum matang, pilar-pilar jalan rel di Senayan sudah berdiri dan sia-sia. Sementara rencana MRT saja yang sudah muncul belasan tahun lalu timbul dan tenggelam karena tidak ada ketegasan. Berlakulah jadul, lihatlah Bang Ali Sadikin. Tegaslah, karena apapun keputusannya, yang tidak suka pasti tetap ada. Jika tidak diputuskan sekarang, dalam lima belas tahun ke depan kendaraan di Jakarta tidak akan bisa bergerak, padahal jika belasan tahun lalu sudah diputuskan, hari ini masyarakat mungkin bisa menikmati kemudahan sebuah transportasi masalnya MRT – seperti yang sudah terjadi di Bangkok.

Apa salahnya kita arif bercermin dari ketegasannya Pak Harto dan dipraktekan dalam jalan kebaikan. Tindakan tegas harusnya gampang dilakukan apalagi jika masyarakat sudah mempercayainya. Tinggal lakukan saja. Jadi pemimpin harus tegas. Percuma juga dibuat begitu banyak badan pertimbangan jika pertimbangannya tidak menjadi sebuah keputusan dan ngambang. Percuma juga dibikin banyak lembaga jika mereka semua tidak punya ketegasan. Mereka akan menjadi macan ompong. Dan apakah kancil yang digigit macam ompong akan mati? Bisa jadi malah kancil itu tertawa geli. Bisa jadi juga macan ompong itu justru menjadi tontonan kancil-kancil yang sama sekali tidak takut.

Jadi, meskipun menjadi jaduler, saya tidak ingin kembali ke masa lalu. Namun saya hanya ingin mengambil hikmah, pelajaran kearifan, kesederhanaan, ketegasan jaman dulu yang masih dan memang sedang dibutuhkan di jaman sekarang ini.

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s