Berbahagialah menjadi Orang “Normal

Di tengah-tengah hiruk pikuknya dunia ini, terkadang kita merasa hidup ini keras, dan jauh dari membahagiakan. Terlalu besar tekanan dunia dan perjuangan untuk bertahan dari persaingan hidup. Padahal, kita sejatinya akan gampang merasakan kebahagiaan dengan melihat hal-hal kecil yang kita punyai yang beberapa orang anak manusia tidak punyai. Salah satunya adalah nikmat menjadi manusia “normal”.

Sebuah laman pernah menurunkan artikel mengharukan tentang Ashanti Smith, seorang bocah delapan tahun bertubuh nenek 80 tahun. Dilukiskan dalam artikel itu bagaimana “tidur bagi bocah cilik itu berarti perjuangan”. Tubuh bocah itu sangat rapuh seperti seorang manula, tubuhnya ringkih, berjalan jauh akan menyakitkan karena sendinya bermasalah, tubuhnya lemah, sesak nafas, dan diperkirakan tidak akan bisa melalui usia ke lima belas. Kasus berlawanan juga ditemui di laman tersebut, ketika seorangGabrielle Williams dimasukkan ke dalam kategori bayi abadi. Gaby yang sudah berusia enam tahun, tetap melalui hidupnya sebagai seorang bayi, tetap memakai popok, dengan berat hanya 10 kg, dan diperkirakan tidak akan pernah bisa melihat dan mendengar. Akankah dua kisah di atas menampar kita jika kita masih tetap mengeluh atas “penderitaan” kita dengan nakalnya atau rewelnya anak kita yang tumbuh normal layaknya anak-anak yang lain? Bukankah normal seorang anak akan bermain kotor, berusaha melawan, berkelahi dibandingkan dengan Ashanti dan Gaby? Bukankah kenormalan seperti itu juga mampir pada diri kita sewaktu kecil? Bukankah kenormalan itu sebenarnya adalah tantangan kita untuk lebih dewasa dan bertanggungjawab sebagai orang tua? Mari kita renungkan juga hal seperti ini. Dan inilah saatnya kita bahagia dan bersyukur.

Sebuah status sederhana kawanku di Facebook menyadarkanku akan kenormalan lain. Status itu hanya berbunyi: “bodoh adalah bodoh”. Namun dari komentar-komentarnya dipahami maksud bahwa orang bodoh itu adalah mereka yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sederhana, sesederhana mana hitam dan mana putih. Dan itu yang sedang kita tonton bersama secara nyata, pertunjukan mereka-mereka yang pintar tetapi sebenarnya memperlihatkan kebodohan-kebodohan itu. Kebenaran bisa dianggap sebuah kesalahan, dan kesalahan bisa jadi diputuskan sebagai kebenaran dalam bentuk lain. Salah dan benar adalah tidak ada, hitam dan putih juga tidak ada karena sepertinya yang ada hanyalah abu-abu. Padahal salah dan benar adalah kentara. Kembalilah menjadi orang normal. Pakailah naluri dan nurani, karena hati kecil tidak bisa membohongi kebenaran itu. Jika tidak mempunyai naluri atau nurani? Ubahlah, latihlah dan kembalilah kepada kenormalan itu jika kita masih ingin dianggap sebagai manusia, karena bahkan hewan pun masih memiliki naluri, tetapi manusia dkaruniai nurani. Dan jika kita masih punya rasa marah dalam hati, kesal melihat apa yang selama ini terjadi di negara kita: korupsi, ketidakadilan, standar ganda dan segala pertunjukan pelecehan akal sehat, berbahagialah karena kita masih menjadi orang normal.

Mari kita jadikan keluarga kita keluarga yang normal, yang tahu fitrah. Dan berbahagiah serta bersyukurlah.

Cag, 27 Februari 2011

karena kebaikan akan berbuah kebaikan yang lain

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s