Catatan perjalanan Istanbul – pengalaman jadi jutawan

Entah angin surga apa yang menimpa, ternyata saya bisa menjejakkan kaki di Eropa. Istanbul, adalah kota pertama di Eropa yang saya datangi. Dan itu saya datangi tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Memang, saya ke Istanbul dalam rangka penugasan kantor selama dua bulan. Dua bulan yang menyenangkan.

Istanbul adalah kota terbesar di Turki, yang meski bukan ibukota negara, tetapi merupakan kota pusat bisnis. Kota Istanbul pun berada di dua benua, sebagian di daratan Eropa dan sebagian lagi berada di daratan Asia.

Perjalanan ke Istanbul saya tempuh cukup lama, sekitar sembilan jam, dengan sekali transit di Dubai. Setibanya di bandara Ataturk, mulailah kehidupanku sebagai seorang jutawan.

Jangan salah. Jutawan di sini bukanlah kehidupan sosialku yang naik kelas menjadi sosialita, pejabat dan sejenisnya yang bermewah-mewah. Bukan. Saya menjadi jutawan karena di kantong celana dan dompetku sekarang penuh uang jutaan. Bukan dalam bentuk Rupiah, tetapi dalam pecahan Lira Turki. Jika biasanya di dompetku hanya terisi beberapa ratus ribu, sekarang saya membawa uang beberapa juta – uang Lira Turki bekal dari Jakarta yang didapat dari sebuah money changer yang cukup lengkap, setelah lelah berkeliling kota mencari uang Lira Turki.

12987897361830992372

Jika saat itu, beberapa tahun setelah krismon dan Rupiah meluncur ke level dua belas ribu per dolar, saya merasa “hina” karena memiliki mata uang yang “tidak begitu berarti” – karena memiliki pecahan dengan angka nol yang banyak, maka setibanya di Istanbul saya jadi cukup berbangga sebagai bangsa Indonesia. Segalanya menjadi lain setelah saya mendapatkan kenyataan bahwa satu dolar Amerika setara dengan sekitar 360 ribu Lira Turki. Bisa dibayangkan bukan, rendahnya nilai mata uang Lira Turki saat itu. Itulah saat pertama kali saya mendapatkan satu lembar uang kertas dengan nominal lima ratus ribu dan satu juta. Yang saya “banggakan” – karena mungkin tidak akan pernah saya alami lagi, adalah saya pernah beberapa kali menerima uang dengan nominal sepuluh juta. Sekali lagi 10,000,000 LT (Lira Turkey). Dan uang koin terkecil adalah – bisa ditebak? – berangka 50,000. Tidak salah kan jika saya sebut itulah pengalaman pertamaku menjadi jutawan.

Sebagai jutawan, kita jangan merasa senang dan merasa memiliki uang banyak. Oh tidak, karena harga barangnya pun jutaan pula. Itu artinya bahwa nilai mata uang sangat rendah. Beli roti di pinggir jalam seharga 250,000 LT, beli baju sudah jutaan, merek bagus mungkin puluhan juta dan gaji sebulan insinyur senior sudah milyaran lira. Dan …. ke toilet pun membayar 50,000 LT. Dan apa yang saya lakukan setelah mendapatkan uang bulanan dari kantor? Menukarnya dengan mata uang lain untuk memudahkan kelak menukarnya di Indonesia. Saya lebih senang menukarnya dengan Deutche Mark, karena jika ditukar dengan dollar Amerika besar kemungkinan akan berkurang nilainya karena uang kertasnya sudah diberi cap.

129879112118409633461298791230714838516

Itulah saat saya berbangga bukan karena menjadi jutawan, tetapi lebih karena saya menyadari bahwa nilai mata uang rupiah kita ternyata masih lebih baik. Atau, ternyata masih ada negara lain yang nilai mata uangnya lebih jelek dari kita. Bahkan dari mbah gugel saya mendapati bahwa uang Dong Vietnam juga ternyata lebih rendah dari uang rupiah. Dan mengejutkan, ternyata pernah ada kejadian uang kertas berdenominasi yang sangat besar yaitu uang Zimbabwe Dollar – seratus triliun dolar uang kertas, dan uang lama Yugoslavia sebesar 500 miliar.

Saati ini, Turki sudah berhasil melakukan redenominasi, sehingga satu dolar sama dengan 1.44 lira tlira turki sekarang. Inilah yang menjadi alasan saya mendukung upaya Bank Indonesia untuk meredominasi uang rupiah, sehingga kita akan memiliki kebanggaan terhadap uang sendiri.

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s