Fetch Me the Moon, Mom

Di ruang tunggu bengkel, kemarin, saya melihat satu pemandangan yang ‘menakjubkan’ tatkala di televisi terlihat penyanyi kecil kesukaan saya – Sherina – ternyata sudah menjadi remaja, malah bisa dibilang dewasa dengan dandanan khas artis yang serba terbuka. Agak mengecewakan sih, karena saat itu saya mengharapkan penyanyi cilik itu menampilkan sosok yang santun, termasuk dalam berpakaian, seperti dia perlihatkan beberapa saat selepas masa remaja. Tapi mungkin itulah tuntutan massa dan tuntutan sebuah masa.

Pemandangan yang tak kalah ‘menakjubkan’ saat itu adalah ketika seorang anak kecil – ditaksir usia TK atau SD kelas awal, yang menyertai ayahnya menunggu mobil di bengkel itu, bersenandung dengan syair yang sepertinya sudah dia hafal, mengikuti penampilan band ST12 di televisi dengan lagu cinta. Aargh, ini mungkin karena desakan jaman tampaknya.

Kemudian muncul juga di televisi yang sama sebuah iklan program teve, Idola Cilik, dimana semua finalis bernyanyi atau bermain musik persis seperti orang dewasa. Seperti orang dewasa dalam berpenampilan, dalam berpakaian, gaya beraksi dan tentu dengan musik dan lagu orang dewasa. Hilang juga kepolosan anak kecil yang lucu dan lugu, serta kecerdasan alami yang dipertunjukannya.

Sedih rasanya melihat kenyataan seperti ini. Saat ini anak-anak kita yang masih kecil tidak mendapatkan entertainment khas anak-anak sama sekali. Coba perhatikan, sekarang begitu sedikit program lagu buat anak-anak. Jamannya anak pertamaku masih kecil, sekitar delapan tahun lalu, setidaknya dia masih bisa mendengar penyanyi anak-anak menyanyikan lagu anak-anak, seperti halnya Joshua, Trio Kwek-kwek, Tasya, Sherina., baik itu dengan nyanyian anak bermutu macam karya AT Mahmud, maupun lagu yang .. ya begitu-begitu saja yang cepat hilang dari ingatan.

Terkadang saya rindu dan menginginkan jaman saya dulu terulang lagi sekarang untuk anak saya. Terbayang sebuah acara Bina Vokalia-nya Pranajaya, karya-karya AT Mahmud, Cerdas Cermat dengan Kak Teddy dan Bu Meinar pada piano, menggambar bersama Pak Tino Sidin, Lagu Pilihanku-nya Bu Sud (atau Bu Fat ya?) atau Ayo Menyanyi. (Eh, jadi teringat juga seorang anak kecil, lucu, satu angkatan di SD Muhamad Toha Bandung, yang paling sering ikutan lomba menyanyi karena pasti suaranya bagus. Namanya Elis). Semuanya adalah acara untuk konsumsi anak-anak, dengan banyak segi pendidikannya.

Rasanya tidak mustahil jika apa yang terjadi pada jaman dahulu diulangi lagi. Lihat semisal lagunya AT Mahmdu yang dibawakan oleh Tasya, tetap enak didengar kan? Namun semuanya kembali kepada selera konsumen dan keuntungan material. Padahal jika saja ada sedikit orang yang peduli, kita bisa kembalikan jaman keemasan anak-anak dengan nyanyian dan entertain yang mendidik sesuai dengan usianya.

Sepertinya kondisi ini cocok dan sesuai dimisalkan dengan lagu yang pernah kembali dinyanyikan Tasya dengan judul di atas:

… Ambilkan bulan Bu,
Untuk menerangi
Tidurku yang lelap
Di malam gelap

Cag, 07 Maret 2011

Sekarang saya nyanyikan lagi lagu-lagu anak dulu semisal lagu di atas, Pelangi, Tiki-tik bunyi hujan, Naik-naik ke puncak gunung, Cicak di dinding pada saat menggendong anakku tidur

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s