Gay, agama dan kenyataan hidup

Sebuah sms dari seseorang – teman yang tidak dikenal tapi membaca tulisanku di internet – mampir di hapeku. Tanpa tedeng aling-aling dia bercerita:

‘Kang rifky, aku seorang gay, aku merasa malu dan hina dngn keadaanku ini, semua ini tak prnh aku ingnkn. Apalgi klo mengngt agama, homo seks trmsk dosa besar.. Aku merasa sngt tidk brarti..aku cb mndktkn diri.. Brt rsnya.. Hidup dlm ftmorgna,ksmuan aku tkt org tuaku perasaannya hncr..ktka tau ank yg dbnggkn nya”gay.. Duh mlngnya nsbku…’. (Saya copy paste dari tulisan sms-nya)

Gimana coba? Apa yang harus saya jawab?

Saya sangat bersimpati dengan dia. Bukan salah bunda dia mengandung. Dan bukan keinginan dia menjadi seorang gay. Apalagi bagi dia yang mengerti norma agama. Lalu apa yang harus dia lakukan?

Sependek ilmu agama saya, saya hanya bisa berkata:

‘Bertahanlah Kang. Apapun yg terjadi, tetaplah di jalur Allah. Tidak perlu diumumkan kepada orang lain, cukuplah berbicara denganNya. Menangislah di sepertiga malam. Jika sesama manusia tidak bisa menolong, siapa lagi yang bisa diminta. Mintalah kepadaNya untuk membimbingmu agar tidak salah jalur. Biarpun Akang pahami jika Akang adalah gay atau apapun, mintalah agar itu cukup ada di kepala, tidak dalam tindakan. Jikapun Akang Allah takdirkan seperti ini seumur hidup, jalanilah. Sebagai makhluk, insya Allah Akang dianggap mulia di mata Allah, karena sudah kukuh dalam beriman. Semoga kuat saudaraku’.

Sedih. Karena saya tidak tahu harus apa lagi yang bisa saya katakan. Saya pahami juga bahwa sebagai manusia dia berhak bahagia lahir bathin.Seorang modernitas dan penggiat HAM dengan universal mungkin berkata: ‘Ya kamu berhak dong bahagia. Ya, lakukan yang kamu mau. Pacaran saja dengan sesama, asal jangan ketahuan. Atau kawinlah sana ke negeri Barat’. Namun saya pikir, sekali dia wujudkan pikiran gay itu dalam bentuk tindakan nyata, akan sulit dia temuin kebenaran dan kebahagiaan hakiki. Karena bagi orang beriman itu tidaklah harus dengan mengabaikan norma dan tuntunan agama.

Jawaban saya didasari pemikiran sederhana:

  • Jangan ceritakan kepada manusia. Manusia tidak akan dan tidak pernah mengerti. Manusia pun tidak akan pandai menutupi rahasia. Jangankan rahasia orang lain, bahkan rahasia diri pun manusia cenderung tidak bisa menutupinya.
  • Jika pun cerita, lakukan kepada seseorang yang dianggap profesional, semisal psikolog. Jika harus bercerita kepada orang tua, lihat dulu pola pikir mereka. Orang tua yang kuat yang berpikiran sederhana dan tradisional sepertinya tidak akan menerima penjelasan apapun.
  • Anggaplah hal ini sebagai ujian dari Allah. Bukankah setiap manusia akan dicoba? Cobaan itu mungkin agak berat, tapi percayalah Allah tahu yang terbaik.
  • Jangan tergoda perkataan manusia, meski bernada surga semisal HAM. Boleh jadi itu akan menyesatkan. Apa jadinya jika kita mengambil tindakan sendiri berdasarkan pemikiran kita sendiri, padahal pemilik kita, yang menciptakan kita, sudah wanti-wanti jangan melakukan hal itu karena jal itu berbahaya bagi kita? Padahal bukankah yang menciptakan akan lebih tahu yang terbaik bagi yang diciptakannya dibanding tang diciptakannya sendiri?
  • Jangan anggap hal ini sebagai penderitaan. Positif thinking lah. Mereka yang mendapatkan ujian terberat adalah orang-orang pilihan kan? Anggaplah diri sendiri itu sebagai manusia pilihan, yang Allah pilih karena menganggap kita bisa menjalani cobaan itu. Dengan begini, diri akan bahagia jika berhasil melewati cobaan itu, dan kebahagiaan yang hakiki akan direngkuhnya.

Mungkin klise ya jawaban saya. Atau kuno. Atau, whatever lah. Namun, itu yang ada di pikiran saya saat itu.

Mudah-mudahan teman baru saya itu mendapatkan kemudahan dalam menjalani hidupnya. Yok, kita doakan mudah-mudahan dia – dan mereka-mereka yang se”penderitaan” akan mendapatkan kebahagiaan, apapun bentuknya itu, dan mendapatkan kekuatan menghadapi cobaan itu. Mudah-mudahan mereka diberi optimisme dalam mengarungi kehidupan, dan diberi pengertian akan kondisinya oleh lingkungannya.

Di ujung sms, teman saya itu berkata: “Berbahagialah bagi orang-orang yang diberi kesempurnaan fisik / mental”. Saya mendoakan “berbahagialah saudaraku yang telah dipercaya Pencipta untuk menerima ujian. Insya Allah kau akan mampu melewatinya.

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s