Hari-hari terindah bersama Nabi

1297731557733648004

Ya Ilahi Rabbi, sebuah nikmat rejeki yang indah yang telah Kau karuniakan kepada kami. Lima hari terindah dalam hidupku. Kureguk nikmat rohani di Mesjid Nabawi. Shalat tahajud, berdoa di Raudhah dan mengaji. Dan …. berdekatan dengan Sang Nabi.

Itulah episode tatkala air mataku tumpah berurai, saat hatiku begitu lembut tersentuh, saat jiwa rapuhku begitu damai … damai …, serta saat pikiranku begitu tertuju – fokus. Itulah aku, lima hari di Al-Munawarah, serasa berada di jamannya Rasulullah.

Namun sejatinya, hari-hari terindah itu bisa kita dapatkan dengan mudah. Kita bisa berkelana dan menikmati perjalanan bersama Nabi tidak melulu dengan berkunjung ke kotta Nabi – Madinah. Cukup dengan membaca dan memaknai buku riwayat kehidupan Rasulullah, ditambah dengan keimanan, Insya Allah, kita akan meresapi indahnya bersama Nabi. Dan Insya Allah, jika Allah mengijinkan, keindahan itu akan disempurnakan dengan perjalanan haji.

Itulah yang saya terjadi pada saya Tiga buah buku cukup membuka mataku – selain tentunya riwayat yang diceritakan orang tua dan guru agamaku sewaktu kecil, untuk lebih mengenal Nabi dan berwisata rohani ke jamannya. 1297731616354388843Ketiga buku itu adalah:

  • Sejarah Hidup MUHAMMAD karya Husein Haikal
  • Karakteristik Perihidup Rasulullah karya Khalid Muh Khalid
  • Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah karya Khalid Muh Khalid

Dengan nikmat, kita dibawa memahami keluhungan budi perkerti Rasulullah yang agung dan lembut. Dari buku pertama kita mengerti latar belakang kelahiran beliau, masa kecilnya sampai deberi gelar Al-Amin, masa muda, pernikahannya dengan Khadijah, dengan istri-istrinya yang lain yang bukan karena tuntutan syahwat serta betapa gighnya berjuang demi tegaknya Islam, tapi tetap dengan tidak meninggalkan kelembutan dalam ketegasan. Di buku kedua, saya lebih menyelami sifat keseharian Nabi. Dan dibuku ketiga, saya juga mbelajar karakteristik sahabat-sahabt Nabi yang agung.

Sekarang, telah banyak bermunculan buku-buku sejenis, termasuk buku yang dikategorikan terbaik dalam menafsirkan sejarah Rasul: Ar-Raheeq Al-Maktum: The Sealed Nectar karya Safiur Rahman Al Mubarakpuri – sepertinya sudah ada terjemahannya di toko-toko buku.

12977319111169930246

makam nabi di bawah kubah hijau

Dan di Madinah, saya dapati sebuah buku berbahasa Indonesia terbitan Madinah – hebat gak, seharga 15 Real berjudul Sejarah Masjid Nabawi karya Muhammad Ilyas Abdul Ghani. Meskipun buku ini menceritakan sejarah seputar pendirian Masjid Nabawi, tapi buku ini pun akan membawa kita napak tilas dengan kehidupan lingkungan terkecil Nabi – tetangganya. Bagaimana di halaman 187 disketsakan perkiraan rumah-rumah sahabat Nabi, seperti Umar ibn Khatab, Abu Bakar as Shidiq, Khalid bin Walid, juga rumah istri-istri Nabi. Akan terbayang rumah-rumah yang kecil dan sangat sederhana tapi diisi oleh manusia-manusia yang bahagia bathinnya.

Melihat sketsa di halaman 140, kita akan terbayang posisi makam Rasulullah – yang tidak bisa terlihat dari luar – bahkan lubang di pintu makam pun sebenarnya tidak menunjukan bentuk makam (berhubung sekeliling makam dikonstruksi sangat kuat karena di jaman dahulu pernah terjadi usaha pencurian jasad – diceritakan juga di buku ini). Beliau berpulang dan disemayamkan di kamar ‘Aisyah – istri Nabi. Saya sedikit nukilkan dari halaman 139: :Dari malik, telah sampai kepadanya bahwa Rasulullah meninggal hari Senin dan dikebumikan hari Selasa. Satu per satu orang menshalati jenazah beliau tanpa seorang imam pun. Sebagian orang menyarankan agar dikebumikan di mimbar, yang lain mengusulkan di Baqi’. Datanglah Abu Bakar seraya berkata: “Aku menderngar Rasulullah bersabda “Tak seorang nabi pun meninggal kecuali akan dikebumikan di tempat dia meninggal”. Maka dibuatlah lahad, Ketika mereka melepas pakaian beliau, terdengar suara, :Jangan dilepas”, mala dimandikanlah jasad Nabi bersama pakaiannya. Referensinya dari Muwatha Malik, Kitab al-Janaiz.

Di sketsa yang sama kita bisa membayangkan bahagianya Abu Bakar yang dikuburkan di sebelah Rasulullah, dengan posisi kepala beliau sejajar dengan pundak Rasul, dan juga Khalifah Umar dengan posisi kepala beliau sejajar dengan pundak Abu Bakar.

Membaca buku-buku seperti itu, diiringan keimanan, Insya Allah akan membawa hati kita lebih dekat dengan Rasul. Dan mudah-mudahan hal itu akan lebih bermakna ketika kita diberi ijin berhaji, dan mengunjungi makam Beliau, di sana kita akan mendapati hari-hari yang lebih indah bersama Sang Nabi. Insya Allah.

Cag, 15 February 2011

Tulisan lainnya:

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s