Headline? Teraktual? Pentingkah Bagi Penulis?

Sebagai penulis pemula di kompasiana, ada kebanggaan tersendiri tentunya jika sebuah tulisan atau postingnan menjadi sebuah headline. Sebagai sebuah headline, tentunya akan banyak orang yang menyempatkan membaca tulisan kita, karena akan dengan gampang mereka melihat “promo”nya yang terpampang di halaman muka bagian atas. Dengan dibaca banyak orang, sebagai penulis tentunya kita mengharapkan komentar atau apresiasi terhadap tulisan kita. Begitu pula dengan jempol teraktual, yang setidaknya membuat kita sedikit berbangga dengan apresiasi pembaca.

Namun, apakah headline dan teraktual itu menjadi sebuah tujuan menulis?

Tidak lagi bagi saya. Headline sudah bukan lagi tujuan menulis. Saya jadikan Headline sebagai salah satu pencapaian saja, dan bukan tujuan. Alasannya cukup sederhana, karena saya pikir administrator yang mengelola kompasiana ini pun hanya manusia biasa – yang belum tentu tahu apakah bisa mengapresiasi dan membaca postingan yang masuk begitu deras. Saya angkat topi akan tulisan-tulisan yang menjadi headline kompasiana di banyak kesempatan, karena memang tulisannya bermutu dan berisi. Namun ketika saya temui tulisan yang bagi saya – sebagai penulis pemula – rasakan biasa saja, saya jadi berpikir: “ni administrator membaca dulu atau tidak ya?”. Hal yang demikian saya temuin tidak hanya di kolom headline, tetapi di kolom terrekomendasi.

Demikian – atau apalagi – kolom teraktual. Kolom yang memperlihatkan tulisan yang paling banyak diapresiasi pembaca – eits salah, bukan diapresiasi tetapi dibaca dan dikategorikan teraktual – ternyata tulisan yang segendang sepenarian, berkutat di tulisn berjudul panas lengkap dengan saling lempar komentar pedas. Saya sendiri jadi bingung, aktual sih memang aktual, tapi di manakah esensi sebuah tulisan. Atau, apakah memang seperti inikah kompasiana itu?

Karenanya, tujuan saya menulis sekarang berubah. Tidak lagi ingin tulisanku nampang di headline, atau mendapatkan jempol teraktual, bermanfaat dan lain-lain – yang katanya ternyat bisa diakalin dan diprogram, hmmm. Tujuan saya menulis sekarang adalah mengasah konsistensi dalam menulis, melatih dan membiasakan berpikir logis, sederhana dan bisa menuliskannya dalam bentuk artikel, dan syukur-syukur dibaca kompasianer lain. Apalagi jika saya bisa sharing kebaikan-kebaikan yangsaya temui dalam hidup. Pencapaian yang bagus bagi saya adalah jika mendapatkan komentar dari kompasianer yang mengapresiasi tulisan dengan komentar dan input membangun. Syukur-syukur jika tulisan itu bisa dibaca banyak orang. Syukur-syukur juga masuk headline. Yang penting mah menulis, karena dengan menulis, setidaknya otak saya aktif.

Itulah kenapa saya angkat topi dengan Pak Ketut Suweca dengan artikel-artikel “Menulis”nya, Mas Julianto Simanjuntak dengan psikologi populernya, Deta Arya Tifada – anak muda dengan Green-nya atau Pak Aria8 atas pencerahan perundang-undangannya. Saya jadi merasa bertambah pintar nih.

Jadi rekan kompasianer. Tetaplah menulis. Abaikan headline, teraktual, terrekomendasi dan lainnya dari tujuan. Anggaplah itu sebagai salah satu pencapaian saja. Pencapaian terbesar adalah jika kamu merasa “tulisanmu bermakna” dan “orang lain menangkap makna itu dengan jernih”.

Salam kompasiana.

Cag, 21 Februari 2011
jam 11:39 yang katanya waktu tidak tepat untuk posting sebuah tulisan.

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s