Kucari Kelembutan Jiwa Itu dengan Teknologi

Dua hari ini saya begitu menikmati sebuah do’a yang dilagukan. Dari 4share du’a itu berjudul do’a taubat, banyak orang mengenalnya sebagai salawat abunawas, yang katanya dipopulerkan oleh Gus Dur.

Tuhanku
Aku tidak layak untuk surgamu
Tetapi aku juga tak sanggup menanggung siksa nerakamu
Dari itu kurniakanlah ampunan kepadaku
Ampunkanlah dosaku
Sesungguhnya Engkaulah pengampun
Dosa-dosa besar

Salawat yang cukup mudah dihapal dan disenandungkan. Salawat itu membawa saya kepada koleksi lagu-lagu rohani yang saya punya. Saya kemudian dengarkan lagu Ilir-ilirnya Kiai Kanjeng, yang menjadi hapal gara-gara ikutan pelatihan ESQ. Juga saya resapi syair dan melodi lagu berjudul Demi Matahari-nya Raihan, yang begitu menyentuh sanubari ketika didengar pada saat training yang sama. Juga kumandang lembut I’thiraf-nya Hadad Alwi, yang di saat training bisa menarik butir air mata keluar. Tapi, kenapa saat-saat sekarang ini air mataku tidak mudah keluar, hatiku tidak mudah tersentuh? Kenapa? Why?

Saya sadar bahwa saya sekarang sudah kembali di dunia nyata, dengan segala hingar bingar kehidupan dengan segala perjuangannya. Kembali berada di kondisi normal seadanya, yang tidak bisa diset ideal seideal suasana syahdunya training ESQ. Inilah saya, seperti juga manusia-manusia lainnya, yang harus terus berusaha mencari cara dan tempat terbaik menemukan kedamaian untuk melembutkan jiwa. Namun ternyata saya temukan tempat lain untuk syahdu yaitu …. di tanah suci.


‘Oh, please. Ya pastilah kau akan temukan damai di sana. Lha, sana kan pusatnya ruhani di dunia’. Ya memang. Itu yang terjadi. Di Mesjid Nabawi, kita bisa menangis karena hati kita tersentuh hanya dengan mendengarkan kumandang adzan. Di Masjidil Haram kita bisa menangis hanya karena berthawaf persis di depan Ka’bah yang seumur hidup menjadi arah shalat. Di dua tempat itu dengan cukup mudah kita bisa menangis dengan bershalat atau mendengarkan imam, hati terasah lembut, perilaku santun dan hidup terasa damai dan indah. Tapi….. Kita mungkin bisa bawa Masjidil Haram dan Masjid Nabawi itu ke dalam lingkungan kecil kita, rumah kita. Kita bawa suasananya saja, itu sudah cukup. Kita bawa dengan memanfaatkan teknologi.

Bagi yang bermodal, apa yang temanku lakukan sangat jitu – berlangganan teve makah atau madinah. Saya sempat mendapatkan fotonya, lihat orang thawaf dengan masjidil haram yang kosong – wuih, jadi pengen ke sana lagi. Tentunya dengan melihat teve channel itu, kita bisa lihat kondisi dua mesjid elegan itu live, termasuk pada saat kumandang adzan dan solat berjamaah yang begitu menyentuh kalbu. Terkadang kita bisa sedikit iri melihat begitu lapangnya penduduk Mekkah mencium hajar aswad. Cukup dengan menyaksikan dan mendengarkan live channel, hati kita akan kembali dihaluskan.

Cara lain adalah lakukan saja seperti yang baru saya temukan. Buka youtube. Search di kata-kata seperti ‘Masjidil Haram’, ‘Masjid Nabawi’, ‘adzan Makkah’ atau lebih tentang ‘emotionah syaikh Sudais’. Insya Allah, kita akan menemukan rekaman video suasana Masjidil Haram atau Masjid Nabawi lengkap dengan suaranya. Kita bisa save penggalan video itu, dan kita bisa putar ulang di mana saja kita mau, kapan saja kita mau. Bahkan jika beruntung kita bisa mendapatkan rekaman video langka – bagi kita orang Indonesia, berupa solat jamaah dimana imam Besar mengimami solat dengan bacaan surat Al Qur’an yang dahsyat, menggetarkan, dan bisa membuat bulu kuduk merinding, suara tercekat dan mata menangis. Saya coba dengarkan video syeikh Sudais – imam besar Masjidil Haram – yang sangat menyentuh. Bahkan tatkala dia menangis dalam solat pun sudah cukup menggetarkan hatiku. Sungguh, saya pikir ini jalan terbaik saya untuk lebih mendapatkan suasana hati yang melembutkan jiwa. Apatah lagi jika kita dengarkan rekaman itu pada saat hening malam, suasana temaram, hanya aku dan DIA, dalam sela-sela tahajud. Insya Allah, kau akan dapatkan tangisanmu seperti di Mekah, Madinah ataupun Arafah. Insya Allah, kita bisa berdekat-dekat dengan suasana Ilahiah itu meskipun berada di keduniaan. Insya Allah, Allah berkahi langkah itu dengan timbal balik kelembutan hati, kehalusan budi dan kelapangan dan ketajaman jiwa…dan kekuatan iman.

Mari kita manfaatkan teknologi dan kemajuannya untuk kebaikan lahir batin kita. Bismillah.

Cag, 11.1.11 (bagi pengutak-ngutik angka, tuh angka bagus)

Kelembutan jiwa. Hmm…jadi ge-er jika mengartikan namaku seperti diucapkan Rasulullah: ‘ainu bi-rifki’ – berlakulah lemah lembut (buku Haekal, sejarah Nabi). Gubraks

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s