Muacete Gilaaaa, kecepatan 1 Km/jam

Tahu kan artinya kecepatan 0km/jam? Itu kan berarti mobil berhenti, tidak jalan. Lalu, bagaimana dengan 1km/jam? Berhenti juga? Positiflah, karena itu berarti mobil masih berjalan meski membutuhkan waktu satu jam untuk menempuh jarak satu kilometer.

Satu kilometer per jam. Itulah perhitungan kasar kecepatan mobil yang melintasi sepenggal jalan dari pertigaan jalan layang Pemuda ke perempatan Slipi, melewati gedung wakil rakyat terhormat. Kapan? Utamanya sejak dioperasikannya busway, jam pulang kantor – dan katanya jam lain pun sama.

1296468756812426740

So, what gitu loh? Lalu, apa maksudnya?

Ya, saya cuman iseng aja berpikir. Ternyata rakyat Jakarta, terutama pemakai jalan sepenggal itu, begitu sabar sekali, nyaris ikhlas (angka satu dekat dengan nol: posisi hati nol – bersih). Kemacetan yang begitu parah – atau jangan pakai kata ‘macet’, ganti lah istilahnya menjadi ‘jalanan tidak bergerak’, ternyata didapati pemakai jalan tidak pernah kapok melewati jalan itu lagi dan lagi. Jarang bahkan tidak pernah kan kita mendengar orang teriak-teriak di tengah penggal itu, mengutuk, mengecam, menjelek-jelekkan Pemerintah? Pernahkah ada kejadian pengemudi-pengemudi mobil itu kompak turun dari mobil, dan bergerombol berdemonstrasi ke gedung sebelah kepunyaan wakil rakyat terhormat itu? Tidak pernah kan? Bahkan mungkin pengendara mobil – dan juga motor – hanya cukup menarik nafas panjang menahan kesabaran mengadu cepat , salip-salipan dengan iringan bebek-bebek yang menyalipnya di trotoar sebelahnya. Bukankah itu berarti mereka, pengendara bermotor itu, sudah demikian tinggi olahan emosinya, sehingga begitu sabar dan ikhlas. Juga santun, karena mereka cukup protes dengan menggerutu.

Tapi dibalik itu, angka 1km/jam bisa dengan enak saya terjemahkan sebagai posisi mendekati stagnan, gak pedulian amat, tidak mau tahu. Mari kita mirip-miripkan.

Seluruh orang tahu jika penggal jalan itu persis melewati gedung DPR/MPR. Di sana para wakil rakyat terhormat sibuk rapat. Namun di mana mereka selama ini? Sepertinya semua orang tahu bahwa mereka hanya sibuk rapat, duduk nyaman di ruang AC, mengantuk di sepoi udara, atau baca koran sambil bercanda. Janganlah dikomplain berapa jumlah produk legislasi yang dihasilkan. Janganlah juga dibandingkan hasil produk hukum yang diputuskan dengan biaya ongkos yang dikeluarkan untuk rapat ini, uang kehadiran itu, triliun gedung baru melengkapi gedung lama yang tanpa ‘isi’. Image itu kan yang kita dapat dari seliwer berita teve atau media.

Mari kita coba tanya saja sedikit pertanyaan kepada mereka yang terhormat, apa yang mereka lakukan dengan kemacetan di depan ‘rumah’ mereka sendiri? Adakah yang telah dilakukan selama ini? Mungkin, sangat mungkin terjadi jawabannya adalah: ‘Lho, macet toh?’. Kenapa tidak? Lha mereka keluar gedung dikawal mobil-motor penguak macet, dan berleha-leha di jalan busway, yang persis semenit sebelumya sebuah metromini dengan susunan penumpang sangat rapi persis dendeng diasap baru saja ditilang. Bukankah ini membuktikan pikiran mereka stagnan – keren kali istilahnya? Atau nuraninya sudah mendekati nol, tidak tersentuh melihat penderitaan rakyat bawah yang ada persis di pekarangan area kerjanya. Mungkin urusan hajat rakyat itu tidak mengusik nuraninya karena hal itu bukan komoditas berita yang bagus untuk dijual.
Namun, berpositif thinking lah. Mungkin mereka sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas yang lebih mulia, seperti menguak mafia hukum, atau studi banding. Positif thinking kan sikap hidup bangsa kita. Ehem.

Kita coba miripkan 1km/jam itu dengan kondisi lalu lintasnya sendiri. Sebelum ada busway, penggalan itu sudah macet, meski motor masih bisa menyalip di sela-sela mobil. Dengan adanya busway, alternatif pemecahan masalah lalu lintas, kok malah jadi lebih macet. Apakah itu bukan berarti terjadi pendekatan stagnasi pemikiran para ahli tata laksana lalu lintas?

Lalu, saya coba bermain-main dengan logika dan sedikit pengetahuan teknis. Bagaimana busway menjadi alternatif pengganti jika jalurnya sendiri masih bertemu dengan jalur normal? Di mana ‘way’ untuk ‘bus’ nya? Jika jalur pertemuan itu di daerah yang macet – seperti di depan MPR, jadilah ‘busway tanpa hambatan’ cuman sekedar lip-service. Hambatan ada di mana-mana. Jalur tertutupnya terhalang antrian kendaraan masuk ke tol dalam kota di Semanggi. Jalur membukanya juga terhalang antrian kendaraan keluar tol di MPR.

Memang sih rencana itu sudah susah-susah didapat dari studi banding. Namun apakah dilihat juga jika infrastruktur di negara itu, si kap pengguna kendaraan serta volumenya sesuai dengan kondisi kita? Apakah infrastruktur kita sendiri sudah senampung limpasan kendaraan yang area jalannya terpotong? Atau apakah disediakan jalur yang benar-benar khusus untuk busway, atau untuk jalan limpasan area terkena busway?

Ya, sudahlah. Itu sudah melalui studi banding dan penelitian yang mendalam? Sungguh? (Kalo diInggrisin lebih kere: ‘Really’). Tapi kenapa banyak kalangan profesional terdidik dalam ketransportasian mengatakan sebaliknya? Bukankah di beberapa universitas dan institut besar di negara kita bertaburan doktor-doktor ahli sipil-transportasi? Ke manakah input mereka? Atau mungkin sebabnya adalah terlalu banyaknya studi dan penelitian yang dilakukan terlalu mendalam, padahal yang dibutuhkan adalah perencanaan, analisa dan desain. Beda kan antara penelitian dan perencanaan dan desain?

Ya sudahlah. Kita berusaha saja menjadi manusia Indonesia yang baik dan sabar, serta cepat melupakan suatu masalah, serta ahli dalam mencari alasan pemaaf: ‘Mungkin banyak aspek-aspek non-teknis yang harus diperhitungkan dan tidak bisa diabaikan begitu saja’. Kalau sudah begini, ya full-stop (titik maksudnya).

Tapi tetap saja saya penasaran, di benak saya punya penyelesaian yang teramat simpel karena saya sederhana-sederhanakan.

Penyelesaian dari segi teknis yang saya sederhanakan:

  • Buat busway yang mempunyai ‘way’ untuk ‘bus’ sendiri. Titik, tanpa kompromi.
  • Buat jalur baru sebagai kompensasi area yang termakan busway.
  • Perbaiki kenyamanan bus dan shelter.
  • Realisasikan rencana angkutan masal semisar MRT atau LRT.
  • Perkuat penegakan disiplin.
  • BATASI dan KONTROL volume kendaraan bermotor. (Digedein karena puenting dan utama).

Pasti sekali akan ada komentar: ‘Itu mah semua orang juga tahu’. Lah kalo sudah tahu, kenapa tidak dilaksanakan? ‘Pasti butuh dan yang guede sekali. Mana kita punya duit’.

Yaelah, jawabannya sederhana. Bukan pembangunan dong kalau tidak punya duit. Dan kata siapa kita tidak punya duit, lha wong pegawai biasa sekelas Gayus saja punya rekening miliaran, belum lagi rekening yang gendut, belum lagi BLBI, belum lagi cek pelawat, belum lagi Century, belum lagi…belum lagi…. Saking kayanya, untuk mati saja santai merogoh kocek milaran. Jadi kata siapa kita tidak punya duit.

‘Lha itu kan uang mereka, mungkin dikorupsi, mungkin disogok’, mungkin begitu jawabnya. Ya, selamatkan dong. Pajakin tuh hasil korupsian. Sudah tahu gak bener, ya benerin.

‘Ya, gak bisa sesederhana itu lah’.

Nah, jawabannya saya masukan ke dalam penyelesaian non-teknis, sebagi urutan pertama:

  • Kembalikan sikap dasar manusia kepada tempatnya: Jika bisa dipermudah, kenapa dipersulit.
  • Berpikir sederhana, logis, tidak njelimet.
  • Memiliki itikad baik – goodwill, tanpa goodwil, rencana tidak akan terlaksana
  • Berani, tegas.
  • Cepat
  • Profesional, lakukan oleh ahlinya (maaf, saya serius, bukan sedang berkampanye)
  • Konsekwen, setiap keputusan PASTI ada resikonya
  • BerINTEGRITAS
  • Jika kita setidaknya mempunyai beberapa hal diatas, kita bisa mendapakan manfaat dari pembangunan sehingga pengorbanan kita tidak sia-sia. Lihatlah Bangkok yang sekarang memiliki MRT dan LRT karena mereka berani memutuskan mengenai hal itu dengan cepat. Lihat juga Turki yang berhasil mengembalikan harkat matauangnya dari 1.6 juta Lira menjadi satu dolar. Dan sekarang mereka tinggal menikmati hasil pembangunan.

    Cag, 25 Januari 201

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s