Nurdin Halid, Pak Harto dan Revolusi

Terbukti sudah, seperti sudah gampang diduga, Arifin Panigoro dan George Toisutta akhirnya terlempar dari bursa calon Ketum PSSI setelah tidak tercantumnya mereka dalam keputusan Komite Pemilihan. Masih tersisa tiga hari bagi mereka berdua untuk “melawan” – istilah Kompas Minggu, dan melakukan banding. Kita lihat saja hasil akhirnya beberapa hari mendatang.

Di luar cerita banding yang seyogyanya didukung banyak lapisan masyarakat yang merindukan perubahan dan perbaikan persepakbolaan Indonesia, perhatian mungkin tertuju atas “kebal”-nya para pengurus PSSI atas “aspirasi” “rakyat bawah” yang menginginkan perubahan tersebut.

Ah, itu kan bukan aspirasi masyarakat bawah kan? Kata siapa?

Rasanya patut ditanyakan mereka yang meragukan hal itu. Bukankah sudah muncul kelompok-kelompok masyarakat yang menyuarakan hal itu? Mulai dari yang memanfaatkan teknologi, semisal grup facebook, tweeter, atau mereka yang pintar mengolah kata – seperti uneg-uneg kompasianers baik yang santun atau pun yang mulai habis kesabarannya dan mulai memakai kalimat-kalimat yang “perih” dan “pedih” – jika saja yang membacanya (dalam hal ini Nurdin Halid) peka. Atau, bagaimana respons para penonton di lapisan rakyat kebanyakan atas kekalahan Indonesia oleh Malaysia dalam AFC kemarin, semuanya berujung pada satu initial: NH.

Sejatinya Nurdin Halid harus sadar sesadar-sadarnya bahwa kepemimpinannya sudah tidak mendapatkan apresiasi dari masyarakat, terlepas dari banyak dukungan dan apresiasi dari jajaran pengurus PSSI sendiri. Seharusnya dia juga merasakan bahwa masyarakat sudah antipati dengan dirinya, meskipun jajaran pengurus mengelu-elukan dirinya dan me”mulia”kannya. Dan dia pun semestinya paham bahwa sedikit sekali prestasi sepakbola yang dihasilkan di bawah kepemimpinannya.

Jika dilihat sepintas, kondisi seperti ini hampir mirip dengan saat-saat kejatuhan Pak Harto dulu, tentunya dalam skala lebih kecil. Masih ingat di benak saat itu sudah begitu banyak keluhan, ketidakpuasan dari rakyat atas kepemimpinan Pak Harto. Juga bagaimana begitu besarnya keinginan perubahan kepemimpinan negara yang disuarakan masyarakat. Namun sayangnya, saat itu Pak Harto dikelilingi orang-orang yang begitu “loyal” dan terus mengelu-elukannya serta me”mulia”kannya. Sampai akhirnya keinginan rakyat meledak dalam bentuk demonstrasi.

Demonstrasi seperti itu jugalah yang berubah menjadi revolusi pada masyarakat Mesir. Demonstrasi untuk menuntut perubahan kepemimpinan yang akhirnya berbuah mundurnya pemimpin Mesir – Hosni Mubarak.

Lalu, jika tahapan-tahapan kejatuhan seperti Pak Harto dan Hosni Mubarak sudah ternganga di depan mata – seperti sekarang ini, apa lantas Nurdin Halid harus menunggu sebuah “revolusi”? Padahal jika saja Nurdin Halid mengerti, kejatuhan seorang pemimpin akibat sebuah revolusi – artinya sudah tidak ada dukungan dari bawah lagi – itu bukanlah sebuah prestasi, dan bisa jadi itu akan menggores “dignity” – kebanggan diri.

Alangkah elegannya sebenarnya jika Nurdin Halid bisa “lengser keprabon” di saat yang tepat – meskipun sebenarnya saat itu sudah lewat, daripada tidak sama sekali dan dihujat dicaci serta diturunkan oleh sebuah “revolusi”. Bolehlah kita berharap Nurdin Halid melakukan sebuah kebaikan sekali lagi. Kebaikan dalam bentuk mundur sebagai ketua PSSI. Kebaikan yang akan menguntungkan dirinya sendiri. Kebaikan dalam bentuk namanya yang tidak lagi disalahgunakan, disumpahi, diteriaki, dan lengsernya yang diapresiasi. Meskipun tidak akan dicatat dengan tinta emas, namun setidaknya keputusannya setidaknya tidak akan dicatat dengan tinta merah. Kebaikan yang juga akan menguntungkan orang lain secara masif dan masal, kebaikan bagi masyarakat, kebaikan bagi bangsa dan negara. Dan kebaikan yang nyata dalam bentuk terhindarnya kerugian material yang besar akibat adanya demonstrasi dan “revolusi”, serta juga terhindar kerugian non-material signifikan dalam bentuk berkurangnya kata-kata sumpah serapah.

Jadi, bang Nurdin Halid. Selamat memutuskan dengan menggunakan nurani dan akal sehat dan memikirkan yang terbaik bagi bangsa dan negara, dan bukan hanya untuk kepentingan golongan.

Cag, 20 Februari 2011

-karena kebaikan akan berbuah kebaikan lainnya, maka lakukanlah kebaikan-

Dan tahukah kita, bahwa ternyata revolusi itu sudah dan sedang berjalan secara halus dan elegan dalam bentuk Liga Primer Indonesia.

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s