Pendidikan Dini Korupsi. Hati-hati!!!

Sadarkah kita bahwa sebenarnya korupsi itu sudah diajarkan sejak dini di masyarakat kita? “Dini” – baik dalam arti usia, atau “dini” dalam bentuk tatanan sosial – masyarakat awam.

Mari kita sebut beberapa contoh:

  • Di kala sekelompok anak main kelereng, dan anak yang satu kalah, dan harus menyerahkan kelerengnya tiga buah sesuai perjanjian, maka anak yang kalah akan bersiasat, menyembunyikan beberapa kelerengnya, dan mengaku ‘cuman punya dua, tadi jatuh tuh…’. Apapun yang terjadi, berantem antara keduanya atau salah satu menangis, tapi cukup jelas terjadinya korupsi dini, meski dalam bentuk kelereng, sebiji.
  • Meningkat remaja, pulang sekolah, naik angkot, tarif pelajar 1500 perak dibayar seribu, langsung pergi sambil lalu, pura-pura tidak tahu supir angkot berkacak di bahu. Korupsi dini tahap dua: gopek.
  • Menjelang dewasa, duit lima ribu tidak ada kembalian di metro mini, disuruh tunggu sampai kondektur menagih seluruh penumpang. Dekat lokasi turun, kondektur yang berdiri di sebelah tidak juga memberikan uang kembalian dengan harapan – lupa. Korupsi dini tahap tiga: dua ribu rupiah.
  • Sepulang kerja, beli tiket kereta 4500, ngasih lima ribu, tanpa pengembalian, tanpa kata-kata, tanpa tanya, hanya ‘ikhlas’ di dada: ‘ah, cuman gopek kok’. Wajar. Karena sehari sebelumnya kita sendiri meminta supir taksi membuat bon seratus ribu untuk argo empat puluh dan uang cash lima puluh. Dan supir taksi dapat ekstra sepuluh ribu perak. Itulah efek kenapa ‘gopek adalah cetek’.

Itukah yang terjadi di masyarakat lapis menengah bawah kan? Dan kita membiarkannya terjadi karena sudah menjadi sebuah kewajaran kan? Bahkan adakalanya seseorang yang menyuarakan komplain atau menegur malah dibentak. Yang mengaku atau merasa bersalah ternyata lebih galak sekarang ini. Dan tidak mustahil, kewajaranlah yang akan terjadi dengan raibnya sekian kilo emas sitaan, kecilnya hukuman koruptor, menyusutnya uang korupsian dan lain-lain. Dan tidak mustahil suatu saat kita tidak akan melongo lagi melihat korupsi terkuak nyata di depan mata karena ‘gak terlihat tuh’. Sejatinya, ‘kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak’.

Yok, mari kita kritisi segala hal yang menjurus ke arah penyelewengan keuangan atau kekuasaan sekecil apapun. Bersuaralah agar kita didengar. Karena bagaimana akan didengar jika bersuara saja tidak. Dan bersuaralah secara masal, karena gemuruh suara kodok secara masal akan menggelegar dan membuat ular lari terbirit-birit (emang ular punya kaki?).

Cag, 18 Feb 2011

-karena kebaikan akan berbuah kebaikan lainnya, maka lakukanlah kebaikan-

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s