Pengayaan Bahasa? So What Gitu Loh

Beberapa waktu belakangan saya cukup akrab dengan satu kata yang justru tidak akrab di telinga: petahana. Sebuah kata baru bahasa Indonesia yang sering saya baca di koran Kompas. Dari wiktionary, karena saya tidak menemukannya di kamus besar, saya temukan bahwa petahana adalah kata benda yang berarti pihak yang sedang memegang jabatan saat ini. Lebih gampangnya, petahana adalah terjemahan dari kata bahasa Inggris ‘incumbent‘.

Meskipun sedikit bingung dengan kata itu, dan pendengaran saya sepertinya berkata bahwa kata itu tidak cocok atau tidak nyaman dan akan sulit akrab di telinga, namun saya apresiasi munculnya kata baru itu karena kemunculannya akan menambah kaya perbendaharaan kata bahasa Indonesia.

Saya pribadi menyambut datangnya perbendaharaan bahasa baru, terutama yang diserap dari bahasa dasar – Melayu – atau bahasa daerah. Dan terus terang, rasanya sedikit sekali perbendaharaan kata baru yang kita ketahui berasal dari bahasa daerah dibandingkan dengan yang berasal dari bahasa asing. Begitu gampangnya istilah bahasa Inggris yang kemudian diserap – seiring dengan istilah nginggrisnya para pejabat, juga kata-kata bahasa Arab. Bagaimana dengan kata dari bahasa daerah? Sepertinya jarang terserap ya? Apa mungkin ketidakgampangserapnya itu disebabkan karena kurang gengsi?

Gengsi? Makhluk itu lagi, itu lagi. Benarkah gengsi memainkan peranan besar? Ataukah ada faktor lain? Dan siapakah yang sebenarnya berperan dalam pengayaan bahasa? Masihkah kita mempunyai Direktorat Bahasa?

Masih ingatkah dengan dua kata baru yang dahulu sempat ramai dikupas? Itulah kata mangkus dan sangkilsebagai pengganti efektif dan efisien. Ke manakah kata-kata itu sekarang? Adakah yang masih menggunakannya? Bagaimana pula dengan kata jamban untuk menggantikan toilet?

Saya punya perasaan bahwa nasib yang sama akan terjadi dengan kata petahana atau kata-kata baru lainnya. Kecuali, ada usaha-usaha nyata yang dilakukan oleh semua lapisan masyarakat seperti:

  • Direktorat bahasa mempopulerkan kata-kata baru
  • Para pejabat, diawali oleh Presiden, memberikan contoh penggunaan kata-kata dan istilah baru tersebut dalam penggunaan sehari-hari. Jika menggunakan istilah nginggris bisa, kenapa tidak dengan istilah baru Indonesia?
  • Media memberikan dukungan dengan intensif menggunakan kata-kata baru itu secara tepat dalam reportasenya. Media akan sangat efektif dalam mengajak masyarakat memahami kata-kata baru dan menggunakannya.
  • Pemerintah konsisten menggunakan kata-kata baru itu dalam urusan formal sekalipun.
  • Masyarakat mendukung inisiatif ini dengan tidak merasa tidak bergengsi jika memakai bahasa Indoensia yang baku.

Bisa jadi di suatu saat bahasa Indonesia sudah tidak terlalu membanggakan lagi bagi pemakainya karena didominasi oleh istilah bahasa Inggris. So what gitu loh?

Disclaimer – http://www.aurecongroup.com/apac/disclaimer/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s